Annisa Dan Ketakutan (Kolektif)

Beredar kabar duka: Annisa Azward, 20 tahun, mahasiswa Universitas Indonesia (UI), meninggal dunia. Ia meninggal setelah berjuang keras selama empat hari untuk mempertahankan hidup.

6 Februari lalu, Annisa naik angkot jurusan Kalipasir-Sunter. Masih wilayah DKI Jakarta. Asep Kambali, kawan akrab Annisa, menceritakan, “Annisa ketakutan karena angkot sudah berjalan di luar trayek.”

Hari sudah mulai gelap. Sebentar lagi Jakarta mau diguyur hujan lebat. Annisa pun mulai merasa was-was. Ia beberapa kali menghubungi tantenya melalui telpon dan SMS.

Kata Asep Kambali, Annisa merasa ketakutan dan menduga akan diculik. Akhirnya, Annisa memutuskan melompat keluar angkot. Brakkk. Kepalanya membentur trotoar. Itu terjadi tak jauh dari Pos Polisi Sub Sektor Jembatan Lima, Polsek Tambora.

Beberapa orang, termasuk si Sopir Angkot, membawa Annisa ke RS Atma Jaya. Sayang, Annisa tak langsung bisa dioperasi. Pihak RS meminta bayaran Rp 12 juta untuk operasi itu. Karena pihak keluarga tak sanggup, Annisa pun dipindah ke RS Koja, Jakarta Utara.

Saya mendapat kabar itu hari Minggu, 10 Februari 2012, dari pemberitaan di media online. Namun, kemarin (12/2), saya dikagetkan oleh kesimpulan penyelidikan Kepolisian, bahwa kematian Annisa murni kecelakaan. Lah, orang melompat kok dianggap kecelakaan murni?

Ingat, Annisa adalah seorang mahasiswa. Ia tentu menyimak dan tahu betul berbagai kejadian tragis di atas angkot: penodongan, pemerkosaan, pelecehan seksual, dan lain-lain. Itu kejadian umum yang sering dialami oleh rakyat Indonesia, khususnya perempuan.

Tetapi, jangan melihat kejadian Annisa ini dengan menggunakan kacamata kuda. Bahwa transportasi massal kita tidak nyaman, semua juga sudah tahu. Namun, ada hal yang lebih penting untuk dibahas: ketakutan. Ketakutanlah yang mendorong Annisa untuk meloncat.

Annisa hidup di sebuah negara yang sudah terbiasa menelantarkan rakyatnya. Banyak Tenaga Kerja Wanita (TKW) kita yang diperlakukan sewenang-wenang di luar sana, tetapi negara ini tidak pernah peduli. Orang miskin berebut sembako gratis, sampai terinjak-injak, tetapi nurani penguasa tak pernah tersinggung.

Pada tahun 2010, ada 31.234 jiwa yang tewas karena kecelakaan lalu-lintas di jalan. Lalu, pada tahun 2011, angkanya melonjak menjadi 32.657 jiwa. Pernahkah pemerintah kita memikirkan itu dan memikirkan kebijakan yang tepat untuk menanggulanginya?

Tak hanya itu, menurut catatan WHO, angka bunuh diri di Indonesia berkisar 24 kasus per 100.000 penduduk. Artinya, dalam setahun diperkirakan 50.000 ribuan rakyat Indonesia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Dan, seperti ditegaskan WHO, sebagian besar kasus bunuh diri itu dipicu oleh kemiskinan, PHK, dan tekanan sosial.

Lalu, jangan dilupakan, berapa banyak korban jiwa karena kebijakan negara yang berujung konflik agraria, perampasan hak-hak buruh, PHK massal, penghapusan subsidi, privatisasi layanan dasar, dan lain sebagainya. Bagi saya, inilah proses “genosida secara halus” yang dijalankan atas nama investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Tetapi, ya, bagi pemerintah, angka-angka itu hanya soal statistik belaka. Paling-paling mereka berguman, “Tapi kan persentase kenaikannya kecil!” Mereka lupa kalau 1% persen itu berarti nyawa manusia. Dan nyawa itu adalah titipan Tuhan yang paling berharga untuk setiap makhluknya. Siapapun anda, sebesar apapun kekausaan anda, sekaya apapun anda, sesakti apapun senjata anda, tak punya hak untuk mencabut nyawa itu!

Saya menganggap, ketakutan yang sedang melanda kita semua berpangkal pada sebuah sistem yang mempromosikan komoditifikasi, pengambil-alihan kekayaan publik, kontrol terhadap tubuh perempuan, dan penggunaan teknologi kimia atas nama maksimalisasi keuntungan.

Sistem ini punya tuhan sendiri: profit/keuntungan. Dan, karena itulah, pemerintah tak berminat mengembangkan transportasi massal, tetapi lebih gandrung membuka kran impor untuk mobil pribadi dan mencekik kota-kota besar dengan jalan-jalan tol.

Dan, atas nama keuntungan pula, pendidikan kita diserahkan di bawah kendali pasar. Sehingga sistem pendidikan gagal mencerdaskan kehidupan bangsa dan membebaskan pikiran rakyat dari berbagai penyakit kebodohan, seperti seksisme, patriarkhi, rasisme, xenophobia, dan lain-lain.

Atas nama keuntungan pula, tubuh kaum perempuan dipertontonkan dan diperdagangkan layaknya komoditi di industri seksual/pornografi, industri mode/fashion, industri hiburan (film, sinetron, musik, dll).

Dan, demi membela keamanan para pencari keuntungan itu, alat keamanan negara tidak digunakan untuk menjaga keselamatan dan keamanan rakyat, tetapi lebih banyak diperuntukkan untuk menjadi penjaga perusahaan-perusahaan asing.

Itulah sistem kapitalisme. Sistem yang tak mengenal makna kehidupan, tidak punya nilai, tidak punya etika, tidak punya rasa keadilan, tidak mengenal rakyat, tidak memberi tempat pada kesetaraan dan penghargaan terhadap martabat manusia.

Ini memperlihatkan kepada kita, bahwa negara gagal menjalankan tugas pokoknya: melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Anna Yulianti, pemerhati masalah sosial, HAM, dan perempuan.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut