Eva Golinger, Tinggalkan AS Demi Membela Revolusi Bolivarian

Bagiku, perjuangan untuk keadilan di atas segala-galanya. Kata-kata itu diucapkan oleh Eva Golinger, perempuan kelahiran New York, Amerika Serikat, yang saat ini mendedikasikan hidupnya sebagai “pembela Revolusi Bolivarian” di Venezuela.

Awalnya, Eva adalah warga negara AS. Ayahnya, seorang keturunan AS, pernah menjadi psikiater dan bekerja di perang Vietnam. Sedangkan ibunya, seorang pengacara di AS, adalah keturunan Venezuela.

Mungkin karena pengaruh ibunya itulah, pada tahun 1990an, Eva mengunjungi Venezuela. Ia berkeinginan mencari tahur akar keluarga dan leluhurnya di Venezuela.

Saat itu Eva tinggal di Merida selama lima tahun. Di sana, untuk membayar sewa tempat tinggalnya, Eva menjadi penyanyi band Jazz. Lalu, pada tahun 1998, Eva kembali ke New York, AS.

Di New York, Eva melanjutkan studinya di City University of New York. Setelah tamat, ia menjalani profesi sebagai pengacara. Namun, pekerjaan itu tidak sesuai dengan kata hatinya.

“Saya pernah membuka praktek pengacara di New York. Kalau aku lebih butuh uang, aku bisa mengambil kesempatan dalam sistim kapitalisme ini. Tapi itu tidak pernah membuat saya bahagaia,” kata Eva kepada jurnalis kelahiran Kanada, Jean-Guy Allard, yang saat ini menulis untuk Koran Granma di Kuba.

Eva pun terjun ke gerakan sosial-politik. Awalnya ia menjadi aktivis Green-Peace. Lalu, ia menjadi pembela hak-hak binatang. Kemudian ia beralih lagi pada isu-isu Hak Azasi Manusia (HAM). Sejak itulah Eva mulai meneliti keterlibatan CIA dan FBI dalam penghancuran gerakan revolusioner di Amerika Latin.

Kemenangan Chavez dalam pemilu 1998 menarik perhatian Eva. Sejak itu ia mulai menyimak perkembangan politik Venezuela. Hingga, pada tahun 2002, terjadi kudeta sayap kanan terhadap pemerintahan Chavez. Saat itu, Eva masih tinggal di New York.

Eva tahu soal kejadian itu. Ia diberitahu oleh kawan-kawannya di Venezuela. Namun, apa daya, ia terpisah jauh dari Venezuela. “Hari itu, yang saya bisa lakukan hanya menangis karena tidak ada yang saya bisa lakukan untuk tean-teman saya dan semua korban,” kenang Eva.

Lebih menyakitkan lagi, hampir semua media AS tutup mata soal kejadian itu. “Tidak ada berita tentang kejadian itu di saluran TV AS,” kata Eva. Hanya CNN yang mengulas singkat kejadian itu. Itupun dengan distorsi: Chavez telah mengundurkan diri setelah memerintahkan pendukungnya membantai orang di jalan.

Namun, informasi dari kawan-kawannya di Venezuela membuat Eva takjub. Rakyat menentang kudeta dan mengorganisir perlawanan di jalan-jalan. Lalu, hanya dalam tempo 48 jam, gerakan rakyat Venezuela berhasil menggagalkan kudeta itu dan mengembalikan Chavez ke kursi kekuasaan.

Pada tahun 2003, Eva meraih gelar doktor. Sejak itu pula ia makin akrab dengan revolusi Venezuela. Dengan menggunakan Freedom of Information Act (FOIA), Eva mulai menyelidiki keterlibatan Washington dalam proses kudeta di Venezuela. “Saya rasa, itu tanggung jawab saya sebagai warga AS dan pengacara pencari keadilan,” tegasnya.

Pada tahun 2003, Chavez menghadiri pertemuan PBB di New York. Di situlah Chavez dan Eva bertemu pertama-kali. Eva tak menyangka Chavez sebagai sosok yang sederhana dan gampang akrab.

Setahun kemudian, Chavez mengundang Eva untuk hadir di acara TV “Alo Presidente”. Eva mengulas keterlibatan AS melalui lembaga funding bernama National Endowment for Democracy (NED) dalam membiayai kelompok oposisi di Venezuela.

Lalu, pada tahun 2005, Eva memutuskan untuk mengabdikan hidupnya sepenuhnya untuk Revolusi Bolivarian. Ia pun pindah dan bermukim di Caracas, Venezuela.

Sejumlah buku tentang revolusi Bolivarian terlahir dari guratan tangannya, diantaranya: “The Chávez Code: Cracking US Intervention in Venezuela” (2006 Olive Branch Press), “Bush vs. Chávez: Washington’s War on Venezuela” (2007, Monthly Review Press), “The Empire’s Web: Encyclopedia of Interventionism and Subversion”, “La Mirada del Imperio sobre el 4F: Los Documentos Desclasificados de Washington sobre la rebelión militar del 4 de febrero de 1992”, dan “La Agresión Permanente: USAID, NED y CIA.”

Tak hanya itu, Eva aktif terlibat mengelola media yang mengkampanyekan revolusi Bolivarian, yakni Correo del Orinoco. Ia juga mengelola blog pribadi terkenal “Postcards from the Revolution”. Tulisan-tulisannya juga tersebar di berbagai media progressif, seperti Venezuela Analysis, Axis of Logic, Z Net, http://www.thirdworldtraveler.com, Monthly Review, Voltairenet.org, Global Reserach, Narco News, dan lain-lain.

Bagi sebagian orang di AS, dukungan Eva terhadap revolusi Bolivarian terasa janggal. Namun, Eva tahu betul makna revolusi itu. Sebelum Chavez berkuasa, Ia tinggal lima tahun di Venezuela. “Selama itu, saya merasakan represi politik di Venezuela,” katanya.

Begitu Chavez berkuasa, Eva melihat banyak hal yang berubah. Ia menyaksikan bagaimana revolusi berhasil mengembalikan kedaulatan Venezuela terhadap kekayaan alamnya, termasuk minyak, yang kemudian dipergunakan untuk mensejahterakan rakyat.

“Bagi saya, revolusi Bolivarian adalah revolusi global. Salah satu yang terpenting dalam sejarah umat manusia,” katanya. “Dan saya bangga bisa menjadi saksi mata dan sekaligus bagian dari proses ini,” tambahnya.

Eva bertekad tinggal selamanya di Venezuela. Ia ingin mengabdikan hidupnya pada revolusi. “Menyerang Venezuela dan revolusinya, itu sama saja dengan menyerang saya dalam jiwa paling dalam. Dan saya akan berjuang untuk mempertahankan itu (Venezuela dan revolusinya).”

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut