Belajar Dari Lapangan Hijau

Pelatih asal Belanda, Guus Hiddink

Di piala Eropa 2008, Tim Nasional Rusia membuat prestasi besar. Setelah terseok-seok di babak kualifikasi, Rusia membuat kejutan di pertanding bergengsi se-Eropa itu: Rusia berhasil masuk semi-final. Itu pertama kalinya sejak bubarnya Uni Soviet.

Memang, sejak runtuhnya Soviet, sepak bola Rusia turut porak-poranda. Paling-paling Rusia bertahan di penyisihan grup. Bahkan, pada piala Eropa tahun 2000, Rusia tersungkur di babak kualifikasi. Apalagi di ajang piala dunia, Rusia benar-benar tak diperhitungkan. Kesebelasan negeri Beruang itu selalu tersungkur di babak penyisihan.

Di era Soviet, prestasi sepak bola Rusia membanggakan. Di empat piala dunia, yakni 1958, 1962, 1966, 1970, Soviet selalu masuk perempat final. Bahkan, pada 1966, Soviet menempati posisi ke-4.

Di piala Eropa, Soviet juga gagah perkasa. Di piala Eropa 1960 di Perancis, Soviet keluar sebagai juara umum. Lalu, di tiga piala Eropa berikutnya, 1964, 1968, 1972, kesebelasan Soviet selalu di runner-up.

Di tahun 2006, pelatih asal Belanda, Guus Hiddink, ditunjuk sebagai arsitek kesebalasan nasional Rusia. Di lapangan hijau, nama besar Guus Hiddink sangat disegani. Pada piala dunia 2002, Ia berhasil membawa Korea Selatan ke semi-final dan menempati urutan keempat. Di piala dunia 2006, di bawah asuhan Hiddink, Australia masuk ke ke perempat final.

Membangkitkan Rusia, Hiddink punya jurus pamungkas. Pelatih keturunan Belanda ini tak hanya membawa “total-footbal”-nya, tetapi memperkenalkan pengorganisasian sepak bola modern. “Guus telah mengubah pikiran dunia sepak bola Rusia,” kata asisten Hiddink, Igor Kornejev.

Ada dua problem besar Timnas Rusia pasca keruntuhan Soviet. Pertama, pemain Rusia tidak punya kebanggaan terhadap Timnas. Mereka lebih suka bermain di klub-klub. “Organisasi sepak bola nasional kacau-balau,” kata Kornejev.

Kedua, persepakbolaan Rusia kebanjiran pemain asing. Pasca bubarnya Soviet, sebagian besar klub-klub Rusia mengalami krisis dana. Maklum, di jaman Soviet, banyak klub di danai oleh lembaga-lembaga negara. Hanya Spartak Moskow yang didanai oleh serikat buruh. Sehingga, pasca bubarnya Soviet, hanya Spartak Moskow yang sanggup bertahan.

Momen itulah yang membuka kesempatan bagi oligarki Rusia, khsusunya korporasi minyak, untuk mendanai klub. Klub Zenit St Petersburg didanai oleh  Gazprom, perusahaan gas terbesar di negeri itu. Sedangkan Spartak Moskow didanai oleh korporasi minyak Lukoil. CSKA Moskow dibiayai oleh Sibnef, yang sebagian besar sahamnya di miliki oleh Roman Abramovich.

Dengan dukungan logistik korporasi besar itu, klub-klub mulai berlomba-lomba mendatangkan pemain asing. CSKA Moskow, misalnya, mendatangkan pemain Brazil, Daniel Carvalho dan Vagner Love. Klub Dynamo Moskow mendatangkan dua bintang FC Forto, Maniche dan Costinha. Sementara Zenit St Petersburg mendatangkan gelandang Portugal, Danny.

Pada tahun 2006, misalnya, Spartak Moskow hanya memainkan dua pemain keturunan Rusia di lapangan. Gara-gara itu, kata Kornejev, kesebelasan Rusia sempat kehilangan satu generasi pemain nasional. Timnas Rusia benar-benar krisis.

Hiddink langsung membuat gebrakan. Untuk menyiapkan bibit pemain nasional, ia menganjurkan agar pemain asing dikurangi. Kuota pemain asing dibatasi. Ada ketentuan agar setiap klub hanya diijinkan hanya memainkan empat pemain asing di lapangan.

“Kami tidak ingin hanya membeli pemain top asing, tetapi seharusnya membantu memajukan talenta pemain Rusia,” kata Hiddink.

Ide Hiddink itu disambut Presiden Rusia, Vladimir Putin. Menteri Olahraga Rusia, Vitaly Mutko, juga mendukung penuh ide pembatasan atau pemberlakuan kuota untuk pemain asing itu.

Di tangan Hiddink, pemain-pemain Rusia dibangkitkan kecintaannya kepada Timnas. Beberapa tahun kemudian, Timnas Rusia pun mulai melahirkan bintangnya, terutama Andrei Arshavin dan Roman Pavlyuchenko. Banyak pengamat bola menyebut kebangkitan Rusia ini sebagai masa “Renaissance Sepak Bola Rusia”.

Makanya, ketika klub terkaya Rusia, Anzhi Makhachkala, ingin meminang Hiddink tetapi mengingkari filosofinya, Hiddink terang menolak. “Ketika saya bekerja di Tim Nasional Rusia, saya membela pembatasan pemain asing. Dan sekarang Anzhi meminta mengubah filosofi sepakbolaku,” tegas Hiddink.

PSSI bisa belajar dari pengalaman Rusia dan filosofi Hiddink. Di Indonesia, Liga-Liga kita juga dibanjiri pemain asing. Akhirnya, alih-alih mendorong kemajuan sepak bola nasional, Timnas Indonesia makin terpuruk. Di tingkat Asia Tenggara saja Timnas kita kedodoran.

Namun, filosofi Hiddink di lapangan hijau ini juga relevan untuk ditarik ke soal ekonomi dan politik negara. Jika Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap kapital asing, negara besar ini punya peluang untuk memanfaatkan sumber daya alamnya untuk kemakmuran rakyatnya.

Bisa juga terjadi sebaliknya. Negara-negara yang relatif mandiri alias berdikari, seperti Korea Utara dan Venezuela, bisa membangkitkan prestasi sepak-bolanya. Indonesia di tahun 1950-an dan 1960-an, ketika masih berdikari, juga punya Timnas sepakbola yang disegani.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut