Anak Muda Radikal Itu Bernama: Sukarno

Di usia sangat belia, 16 tahun, Sukarno sudah menceburkan diri ke dalam pergerakan. Saat itu, anak muda yang kelak jadi Proklamator Kemerdekaan Indonesia ini masih tercatat sebagai pelajar di Hoogere Burgerschool (HBS) Surabaya.

HBS ini adalah sekolah lanjutan (setingkat SMP + SMA). Masa studinya lebih pendek: 5 tahun. Jadi, kalau diukur dengan jenjang pendidikan sekarang, saat itu Sukarno masih berstatus pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA).

Menjadi Aktivis Tri Koro Dharmo

Organisasi pertama tempat Sukarno berhimpun dan berjuang adalah Tri Koro Dharmo. Jika diindonesiakan, artinya: Tiga Tujuan Suci atau Tiga Tujuan Mulia.

Organisasi ini berdiri tahun 1915, oleh seorang mahasiswa kedokteran, Satiman Wirjosandjojo, bertujuan untuk menghimpun pelajar sekolah menengah dan lanjutan.

Hans Van Miert, dalam risalah Dengan Semangat Berkobar: Nasionalisme dan Gerakan Pemuda di Indonesia, 1919-1930, menyebut Tri Koro Dharmo terilhami oleh nasionalisme Jawa. Karena itu, selain bicara pendidikan, organisasi anak muda ini juga bicara pengembangan budaya Jawa.

Di Surabaya, Tri Koro Dharmo sering menggelar pementasan. Sukarno sering kebagian peran. Saat itu, karena jumlah pelajar perempuan terbatas, maka keanggota Tri Koro Dharmo dari kalangan perempuan juga kecil. Karenanya, ketika ada pementasan, Sukarno sering kebagian peran sebagai perempuan.

“Aku betul-betul membedaki pipi dan memerahkan bibirku,” kenang Sukarno, seperti diceritakannya pada Cindy Adams dalam Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Suatu hari, di tahun 1918, kelompok diskusi sekolah (Studieclub) di HBS Surabaya menggelar diskusi terbuka. Temanya soal keharusan penggunaan bahasa Belanda.

Hampir semua orang setuju, kecuali Sukarno. Ia maju ke depan forum dan mengajukan pendapatnya. Ia ulas sejarah Nusantara. Sebagai kutu buku, Sukarno tak kurang referensi. Hingga, pada ujung pendapatnya, Sukarno berkesimpulan: “yang harus kita kuasa pertama-tama adalah adalah bahasa kita sendiri.”

Tentu saja, di sekolah yang isinya hampir 90 persen adalah orang Belanda dan Eropa, pendapat Sukarno jelas menggemparkan. Juga membuat kuping Direktur Sekolah merasa terusik.

Tahun 1918, Tri Koro Dharmo berubah menjadi Jong Java. Meski berubah nama, basis ideologis dan orientasi perjuangannya tak berubah.

Kubu Merah Jong Java

Di Jong Java cabang Surabaya, ada hal unik. Merujuk tuturan Hans Van Miert, Jong Java cabang Surabaya terbelah ke dalam dua kubu yang kerap berhadap-hadapan: kaum merah versus kaum halus.

Kaum merah condong progressif, anti-elitisme, radikal, dan anti-kolonial. Sementara kaum halus cenderung konservatif, bermental feodal, sangat moderat, dan patuh pada Belanda.

Sukarno muda berada di kubu merah. Bahkan, seperti ditulis Van Miert, Sukarno menjadi jubir kaum merah. Karena sikapnya itu, Sukarno kerap berhadap-hadapan dengan sang Ketua Jong Java cabang Surabaya, Soegito.

Seperti pada sebuah rapat di bulan Februari 1921. Saat itu, Sukarno menolak menggunakan bahasa Belanda. Sebaliknya, ia mengusulkan penggunaan bahasa Jawa-Dwipa.

Untuk diketahui, saat itu sedang berkembang gerakan Jawa-Dwipa, yang dipelopori oleh Tjokroaminoto. Gerakan ini memperjuangkan kesetaraan, bahwa manusia diperlakukan sama-rata, termasuk dalam berbahasa. Karenanya, selain menentang bahasa Belanda, gerakan ini juga membuang jauh-jauh bahasa Jawa tinggi (Kromo), lalu menggantinya dengan bahasa Jawa rendah (Ngoko).

Pernah juga, Sukarno punya gagasan radikal untuk mendemokratiskan keanggotaan Jong Java. Ia mengusulkan agar keanggotaan organisasi priyayi ini diperluas. Tidak hanya menghimpuan pelajar dari sekolah elit yang berbahasa Belanda, tetapi juga dari sekolah dan vak (kejuruan) yang tidak berbahasa Belanda. Bahkan, Sukarno mengusulkan agar mereka yang bukan pelajar pun, asalkan bisa berdebat, boleh menjadi anggota Jong Java.  

Puncaknya, Kongres IV Jong Java di Bandung. Ini benar-benar jadi palagan bagi Sukarno. Arek radikal Suroboyo ini tidak hanya menyerukan gerakan Jawa Dwipa, ia malah melantangkan semboyan revolusi Perancis: Liberté (kemerdekaan)égalité (persamaan), dan fraternité (persaudaraan).Tak berhenti di situ, Sukarno mengobrak-abrik orientasi Jong Java yang sibuk menghidupkan romatisme kebesaran Javanisme. Ia mendesak agar organisasi ini lebih banyak bicara soal penderitaan rakyat dan kapitalisme terkoetoek.

Memang, di palagan ini, ide-ide radikal Sukarno belum menang. Tetapi, sejarah mencatat, gagasan-gagasan radikal justru berkembang pesat, bahkan mendominasi semangat pergerakan.

Tamat dari HBS, Sukarno melanjutkan studi di Technische Hoogeschool (THS) Bandung. Pikiran radikalnya tetap ikut serta. Di kota Kembang, ia mendirikan Algemeene Studieclub. Kelompok studi ini radikal dang sangat kiri. Kelak, Partai Nasional Indonesia (PNI) terlahir dari kelompok studi ini.

Dan PNI, partai yang berhaluan nasionalis-kiri, mengambil jalan radikal: non-koperasi (menolak kerjasama) dengan pemerintah kolonial Belanda.

Kenapa Sukarno jadi Radikal?

Ini mungkin pertanyaan kuncinya: mengapa Sukarno menjadi aktivis politik radikal?

Menurut saya, ada tiga faktor utama.

Pertama, Sukarno berasal dari keluarga priayi rendahan. Ayahnya hanya seorang guru biasa. Tentu saja, dengan posisi sosial itu, kehidupan keluarga Sukarno sekedar berkecukupan.

Sukarno sering menyamakan masa kecilnya dengan sosok  David Copperfield–karakter dalam novel Charles Dickens—yang akrab dengan kehidupan melarat.

Kedua, sukarno tergerak oleh keadaan rakyat jelata, yang setiap saat hadir dalam kesehariannya. Ia menyaksikan kemiskinan, penderitaan, diskriminasi terhadap rakyat jelata.

“Aku menghadapi kenyataan bahwa negeriku miskin, malang, dan dihinakan,” katanya kepada Cindy Adams, wartawan Amerika Serikat itu.

Ketiga, pergaulan dengan Tjokroaminoto dan kawan-kawannya.

Keputusan Sukarno muda indekos di rumah Tjokro amat tepat. Selain berkesempatan mengakses ragam bacaan dari perpustakaan keluarga Tjokro, Sukarno muda juga berkesempatan berkenalan dengan tokoh-tokoh hebat dunia pergerakan, seperti Musso dan Alimin.

Dari bacaan dan diskusi, Sukarno mengenal Revolusi Perancis. Juga pemikir-pemikir besar zaman itu. Dari Thomas Jefferson dan Paul Revere di Amerika hingga Mazzini dan Giuseppe Garibaldi di Italia. Dari Jean-Jacques Rousseau dan Voltaire hingga Kalr Marx dan Friedrich Engels. Semua itu memperkaya khazanah pemikiran Sukarno.

Pikiran-pikiran itu, yang bersuara tentang kebebasan, demokrasi, nasionalisme, dan sosialisme, menggerakkan Sukarno.

RUDI HARTONO, pemimpin redaksi berdikarionline.com

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut