GNP 33 UUD 1945 Jatim Kecam Pembunuhan Petani Jambi Oleh TNI

GNP 33 UUD 1945 Surabaya.jpg

Aksi solidaritas untuk Puji bin Tayat, petani Suku Anak Dalam (SAD) yang menjadi korban kekerasan aparat TNI, berlangsung di kota Surabaya.

Aksi solidaritas tersebut digelar oleh 50-an aktivis Gerakan Nasional Pasal 33 UUD 1945 (GNP 33 UUD 1945) kota Surabaya. Mereka menggelar aksinya di depan gedung Grahadi Surabaya.

Yang menarik, seluruh massa aksi GNP 33 UUD 1945 mengenakan caping sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan kaum tani Indonesia. “Kami mau ingatkan, bahwa 270-an juta rakyat Indonesia itu makan beras. Dan beras itu diproduksi oleh petani. Kok negara membiarkan petani ditindas sewenang-wenang,” ujar juru bicara GNP 33 UUD 1945 Jatim, Hendraven Saragih.

Menurut Hendraven, kekerasan anggota TNI terhadap petani Jambi bukan hanya membuktikan bahwa aparat keamanan negara telah diperalat oleh perusahaan asing, tetapi juga membuktikan tidak adanya keberpihakan negara terhadap nasib kaum tani.

“Yang diperjuangkan petani SAD itu adalah hak atas tanah. Tanpa tanah, mereka tidak bisa berproduksi dan melanjutkan kehidupannya. Harusnya negara menjamin hak rakyat atas tanah tersebut,” terangnya.

Hendraven mengungkapkan, jumlah petani yang menjadi korban konflik agraria semakin banyak. Ia mengutip laporan Konsorsium Pembaruan Agraria, bahwa pada tahun 2013, ada 21 orang petani di Indonesia tewas akibat konflik agraria.

Menurutnya, jumlah tersebut akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah konflik agraria di Indonesia. “Pada tahun 2012, ada 198 kasus konflik agraria di seluruh Indonesia. Sementara di tahun 2013 lalu, jumlahnya melonjak tinggi hingga 369 kasus konflik. Dalam lima tahun terakhir, yakni 2009-2013, jumlah konflik agraria melonjak 314% atau 3 (tiga) kali lipat,” ungkapnya.

Ia menggarisbawahi bahwa maraknya konflik agraria di Indonesia, termasuk berbagai bentuk kekerasan yang menyertainya, merupakan imbas dari massifnya liberalisasi ekonomi.

“Ada korelasi langsung antara peningkatan kasus konflik agraria dengan semakin massifnya liberalisasi ekonomi, termasuk di sektor agraria,” terangnya.

Dalam aksinya, massa GNP 33 UUD 1945 juga membawa replika mayat sebagai simbol keprihatinan. Mereka menuntut agar kasus pembunuhan Puji Bin Tayat diusut hingga tuntas. Tak hanya itu, GNP 33 UUD 1945 juga mendesak penarikan TNI dari wilayah-wilayah konflik agraria.

Kamaruddin Koto

Baca juga: Kronologis Penculikan, Kekerasan Dan Pembunuhan Warga SAD oleh aparat TNI

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut