Gerakan Pramuka Hari Ini

Akhir-akhir ini Bangsa Indonesia menghadapi berbagai persoalan yang menyusahkan. Selain banyak kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat miskin, juga kita mendengar atau mengalami sendiri berbagai persoalan lain. Bencana alam sepertinya rutin ‘mengunjungi’ dengan meninggalkan berbagai kerusakan, kerugian, dan korban. Akumulasi dari persoalan-persoalan ini menghasilkan bencana sosial yang sangat parah, terutama bagi sebuah bangsa yang lama kehilangan kepribadiannya.

Dalam situasi tersebut, negeri ini memperingati Hari Pramuka (Praja Muda Karana) yang jatuh tanggal 14 Agustus 2010. Kilas sejarah gerakan kepanduan, sebagai bagian dari gerakan pendidikan generasi muda, telah dimulai sejak masa kolonial Belanda, dengan hadirnya cabang “Nederlandse Padvinders Organisatie” (NPO) di Indonesia pada tahun 1912. Selanjutnya, antara tahun 1916 sampai akhir 1930-an, lahir berbagai gerakan kepanduan yang diprakarsai sendiri oleh Bangsa Indonesia, yang berasal dari beragam latar belakang kelompok sosial dan politik. Sampai pasca kemerdekaan, gerakan kepanduan telah menjadi bagian dari pergerakan nasional Indonesia.

Namun perumusan gerakan kepanduan dengan visi nasional yang lebih utuh baru dilahirkan oleh Manjelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada tanggal 3 Desember 1960, yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Nasional Semesta Berencana tahap pertama (1961-1969). Ketetapan MPRS ini antara lain mengamanatkan seluruh gerakan kepanduan yang ada untuk disatukan, dan dibebaskan dari pengaruh sisa-sisa “Lord Baden Powellisme”. Saat itu, terdapat kalangan yang khawatir gerakan kepanduan akan dijadikan gerakan “Pioner Muda” seperti yang terdapat di negeri-negeri sosialis.

Bung Karno menaruh harapan Pramuka dapat menjadi “alat revolusi” sebagaimana judul salah satu amanatnya selaku Ketua Majelis Pimpinan Nasional Gerakan Pramuka. Bila dimaknai sesuai konteks sejarahnya, “revolusi” yang dimaksudkan saat itu adalah sebuah revolusi nasional, pada fase yang dikenal dengan nation and character building; saat mulai merealisasikan program-program Sosialisme Indonesia. Pada masa kekuasaan Soeharto (1966-1998) gerakan Pramuka tampak ‘lebih hidup’ meski dengan visi yang telah jauh melenceng dari rencana Bung Karno. Disadari atau tidak, gerakan Pramuka telah dijadikan alat depolitisasi oleh Soeharto, antara lain dengan menciptakan kepatuhan buta terhadap pemerintah.

Sejak reformasi 1998 gerakan Pramuka seakan mati suri. Andil Pramuka tak lagi tampak menonjol, baik sebagai kegiatan ekstra-kurikuler di sekolah maupun sebagai kegiatan berorganisasi umumnya di luar sekolah yang lebih bersifat sosial. Kegiatan bakti sosial yang biasa dilakukan jauh menurun dibandingkan masa-masa sebelumnya. Berhubungan dengan itu, minat anak-anak dan pemuda terhadap gerakan ini juga nyaris padam, seiring tersedianya berbagai alternatif kegiatan yang dipandang lebih bermanfaat bagi masa depannya.

Di samping berbagai kritik, seperti kecenderungan militeristik dan masih tersisanya budaya feodal, gerakan Pramuka mempunyai andil positif dalam membentuk karakter anak-anak dan pemuda Indonesia. Dalam gerakan ini setidaknya telah mulai ditanamkan nilai-nilai disiplin, kemandirian, kepedulian pada sesama dan alam (atau kepedulian sosial), kebersamaan dan gotong royong. Tidak sedikit juga manfaat praktis berupa sejumlah keterampilan khusus dan kemampuan survival di alam bebas. Kita harapkan agar sisi-sisi positif ini akan lebih didorong maju dengan dukungan kongkrit dari negara, selain perlunya pengembangan kegiatan kepramukaan yang sesuai perkembangan situasi sekarang. Namun yang terpenting adalah kembali menempatkan gerakan Pramuka sebagai alat nation and character building, untuk menciptakan kedaulatan nasional, dan berpartisipasi mengatasi berbagai kesusahan yang tengah dihadapi oleh Rakyat Indonesia. Selamat hari Pramuka!

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Tom Iljas

    Sebuah tulisan yang bagus, berimbang, padat dan membangun.