Ganti-Rugi PT.AMI Atas Lahan Warga Telaga Raya Belum Memuaskan

Jumat, tanggal 9 Juni 2011, puluhan Petani Peroroa, Kec. Talaga Raya, Kab. Buton, menerima dana ganti rugi lahan dari PT. Arga Moroni Indah (AMI). Para petani yang berangkat sejak pagi pukul 05.00 WIB dengan menggunakan speed boat mendatangi Aula (Eks) Kantor Bupati Buton.

Kedatangan petani disambut pula oleh lima puluhan intel Polres Baubau, hadir pula diantaranya Camat Talaga Raya, Nursal Zubair. Sedangkan pihak PT. AMI baru tiba sore pukul 04.30 WIB. Karena kesal menunggu perwakilan perusahaan selama tujuh jam lebih, petani kemudian mengancam untuk tidak menerima ganti rugi tersebut, dan berencana akan menghentikan kembali aktifitas pengangkutan nikel di Pelabuhan milik PT.AMI di pulau Kabaena.

Menurut Yusmar, aktivis Himpunan Mahasiswa dan Pelajar Telaga (HIMAPTA), besaran ganti rugi lahan petani juga tidak sesuai dengan kesepakatan. “Pihak perusahaan telah berjanji akan melakukan ganti-rugi lahan Rp.5000 per meter, sedangkan yang diberikan oleh pihak perusahaan hanya sebesar Rp.2500 per meter.”

“Semestinya besaran ganti rugi yang diberikan untuk petani sesuai dengan kesepakatan tahun 2009, yang sudah disetujui oleh warga dan pihak perusahaan,” katanya.

Semula, petani yang merasa tertipu hendak menolak ganti-rugi tersebut, tetapi pihak Pemerintah Kecamatan kemudian membujuk petani untuk menerima pencairan dana ganti-rugi yang sudah ada saat ini.

Kemudian, perwakilan PT. AMI, Sahrun, juga menyatakan permohonan maaf atas keterlambatan pihaknya dan atas kesalahan informasi yang selama ini terus berkembang. “Kami yang merupakan perwakilan pihak PT. AMI memohon maaf sebesar-besarnya karena telah telat dari waktu yang ditentukan, termasuk atas keadaan yang selama ini dialami masyarakat. Untuk lebih cepatnya, kami akan memanggil satu per satu nama-nama warga yang penerima ganti-rugi.”

Namun, hanya sebagian petani yang menrima ganti-rugi tersebut. Sedangkan 19 orang petani lainnya menolak dengan alasan bahwa ganti-rugi tersebut tidak sesuai dengan besaran lahan perkebunan mereka. Pihak perusahaan juga dinilai lamban dalam menyelesaikan ganti-rugi, karena sebagian dari petani sudah ada yang berangkat ke luar negeri sebagai TKI. Dan sekitar pukul 19.00 WIB, warga kemudian bergegas balik.

Sebelumnya, pihak perusahaan bersama warga membuat berita acara kesepakatan sejak tahun 2009. Kesepakatan tersebut berisi tentang ganti-rugi tanam tumbuh sebsar Rp.500.000 per pohon untuk tanaman produktif. Ganti-rugi lahan sebasar Rp.7.000 yang berada dilokasi pertambangan dan Rp.5000 untuk lahan yang dilalui jalan akses perusahaan.

Selain itu juga, juga ditentukan besaran kontribusi sebesar Rp.2000 per ton untuk setiap kali pengapalan, serta pemanfaatan sarana transporatis kapal laut milik warga untuk kebutuhan angkut minyak dan karyawan perusahaan.

Akan tetapi, dari kesembilan poin kerjasama yang telah disepakti tersebut, tidak satupun yang direalisasikan oleh pihak perusahaan. Bahkan, ganti-rugi lahan dan tanam tumbuh milik Petani Laurano, Kec. Talaga Raya di Pulau Kabaena, belum juga dilakukan, padahal lahan dan tanaman petani telah rusak oleh aktivitas penambangan nikel.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut