Cerpen: Anakku Tersayang Hilang dari Pandangan

Ilustrasi: Petani-Dudy Iskandar (Sumber: http://www.flickr.com/photos/grclubs/7149307333)

Tubuh ringkihnya masih ia paksakan untuk tetap bekerja. Saban hari, sebuah topi jerami selalu menutupi uban di kepalanya. Celana coklat pudar yang telah terlumuri noda lumpur, serta kemeja lusuh berlengan panjang juga ikut menemani hari-harinya yang bekerja sebagai seorang petani. Hari itu, ia telah siap melangkahkan kakinya ke sawah. Terlihat sebuah cangkul telah tergantung di bahunya, pertanda bahwa ia akan segera bersua dengan terik mentari di hamparan sawah yang luas.

Warga desa tempat ia tinggal memanggilnya Apa Ali. Ya… Apa Ali, seorang pria yang sulit untuk diterka umurnya, dan ia sendiri pun tak tahu menahu sudah berapa lama kiranya ia telah hidup di atas bumi ini, namun dari raut wajah keriput serta legam tubuhnya yang bungkuk, sepertinya ia telah berkepala enam, ataupun bisa saja lebih dari itu. Telah lama ia menduda. Istrinya meninggal dunia sesaat setelah melahirkan bayi laki-laki semata wayang mereka. Pendarahan hebat di rumah dukun beranak di desa di mana sepasang suami-istri itu tinggal, adalah sebuah kenangan pahit yang kadang masih terngiang di dalam benak Apa Ali.

***

Apa Ali berjalan menelusuri jalan setapak berkerikil  yang dipenuhi oleh kotoran hewan ternak di sebelah kiri dan kanannya. Langkahnya melaju perlahan. Tatapan matanya kosong, dan ia seolah tak memperdulikan warga-warga lainnya yang berlalu-lalang di hadapannya.

Tiba-tiba sapaan seseorang membuat langkahnya terhenti.

“Apa Ali,” panggil seorang pemuda. Pemuda tersebut menghampiri Apa Ali dan menyalaminya penuh takzim.

Wajah Apa Ali tidak terlalu memberi respon yang baik. Tampaknya ia tidak mengenal si pemuda tersebut. Keningnya ia kerutkan, dan ia menatap si pemuda tadi dengan ujung mata sayunya seraya membiarkan tangan kanannya tersalami oleh pemuda tersebut.

“Saya, Burhan, sahabat Amin dulu,” sambar si pemuda itu lagi yang mencoba membangunkan Apa Ali dari lamunan serta rasa penasarannya.

Sontak saja, tatkala Apa Ali mendengar nama “Amin”, ia seolah hanyut dalam lautan keputusaan. Hujaman ombak petaka juga seakan turut  merubuhkan batin Apa Ali. Apa Ali mengusap pipi Burhan dengan tangan keriputnya. Jari-jari tangannya bergetar hebat, dan pandangan kosongnya tadi berubah menjadi tatapan yang begitu dalam. Apa Ali mengayuh ingatannya ke masa silam, di mana Burhan dulu adalah sahabat karib anak semata wayangnya, Amin— yang sering bertandang ke rumah. Rupa Burhan hanya samar-samar saja terekam di benak Apa Ali, karena telah lama Burhan meninggalkan kampung.

Mulut Apa Ali seperti ingin mengucapkan sesuatu, akan tetapi lidahnya seolah telah kelu. Sebuah cerita kelam yang pernah ia alami menahan rongganya untuk mengeluarkan kata-kata. kesedihan itu terlalu dalam. Dan… air matanya pun terurai jatuh membasahi pipinya.

“Apa, kita duduk dulu,” ucap Burhan sambil memapah Apa Ali kesebuah pondok yang berdaun rumbia di dekat mereka berdiri.

Apa Ali masih saja terisak-isak. Sebuah pertanyaan akhirnya terlontar juga dari mulutnya, “Di mana engkau selama ini, Nak?”

Burhan menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Apa Ali.

“Saat konflik dulu, saya hijjrah ke negeri jiran, Apa. saya dan beberapa pemuda lainnya menumpang perahu nelayan,” ujar Burhan dengan nada pelan.

“Tapi, Amin terlalu keras kepala, ia tak mau ikut saya saat itu, padahal sudah berulang kali saya bujuk dia,” tambah Burhan lagi. Wajahnya menunjukkan kekesalan yang amat hebat.

“Amin, tak tega meninggalkanku sendirian, itu alasannya mengapa dulu ia tak mau ikut denganmu,  bukan?” tanya Apa Ali.

Burhan kaget mendengar ucapan Apa Ali. “Apa, bagaimana keadaanmu, sehat-sehat sajakan, Apa?” Burhan mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Seandainya dulu ia ikut denganmu, pastilah hari ini aku masih bisa melihatnya,” kata Apa Ali yang mangacuhkan pertanyaan Burhan. “10 tahun sudah ia hilang, pusaranya pun aku tak tahu di mana,” ujar Apa Ali lagi.

***

Amin, anak semata wayang Apa Ali, raib sepuluh tahun yang lalu saat sebuah operasi militer di desanya ikut  memboyong pemuda yang baru saja lulus SMA tersebut ke dalam sebuah truk reo. Tak ada hukum yang pasti, tak ada bukti, apalagi persidangan untuk menetapkan Amin sebagai tertuduh dalam gerakan separatis. Pemuda malang tersebut, hanyalah segelintir pemuda desa yang bertahan di desa di kala kebanyakan lainnya memilih untuk meninggalkan desa, mengingat kondisi saat itu sangat mencekam.

Bukannya Apa Ali tak berjuang untuk mencari anaknya. Bertahun-tahun lamanya Apa Ali pulang-pergi ke kantor “pihak yang berwajib” dan ke tempat-tempat di mana saja ada ditemukannya mayat, namun bak menjari jarum dalam tumpukan jerami, menemukan Amin adalah suatu kemustahilan. Apa Ali yang hanya seorang petani desa tak kuasa menuntut keadilan. Tak ada tempat mengadu bagi seorang ayah yang tak berpendidikan duniawi itu.

***

Perbincangan Apa Ali dengan Burhan cukup panjang pada pagi menjelang petang itu. Dahan-dahan pohon bambu meliuk melampai diterpa hembusan angin. Bunyi-bunyi suara binatang di dalam hutan juga lirih terdengar seakan mahluk ciptaan Tuhan tersebut ikut beduka akan derita yang dirasakan Apa Ali. Akhirnya, berpisahlah jua Apa Ali dan Burhan. Apa Ali, oh Apa Ali, engkau hanya hidup seorang diri saja. Untuk bisa menyambung sisa kehidupan saja terasa amat berat bagimu.***

Ket: Apa= Paman atau sapaan untuk lelaki dewasa (dalam bahasa Aceh).

Biodata Penulis:

Nama: Firdaus
Tempat/ Tgl. Lahir: Sigli, 25 April 1990
Alamat: Jl. Perintis No. 9 Kel. Blang Paseh KEC. Kota Sigli KAB. Pidie  PROV. Aceh
Kode Pos: 24118
Pekerjaan: Mahasiswa (Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Jabal Ghafur Gle Gapui-Sigli)
E-Mail/FB/Twitter : [email protected]/Dauz Yusuf/[email protected]
No. HP : 085370136430

Karya-karya yang pernah dipublikasikan:
Cinta Si Abua Amat (FAM Publishing, 2012)
Tiga Pilihan yang diajukan oleh Waktu (Plotpoint, 2012)

Prestasi:

30 terbaik kompetisi essai Menjadi Indonesia 2012 yang diselenggarakan oleh Tempo Institute (Alumni KEM Menjadi Indonesia angkatan keempat).

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut