Sopir dan Buruh Kontainer di Palu Protes Larangan Masuk Kota

Ratusan buruh dan sopir kontainer yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Buruh Kontainer menggelar aksi massa di kantor Walikota Palu dan DPRD Kota Palu, Rabu (1/11/2017).

Mereka memprotes Surat Edaran Walikota Palu yang membatasi truk kontainer memasuki kota Palu. Kebijakan yang berlaku sejak 1 Oktober lalu itu hanya membolehkan truk kontainer memasuki kota Palu pada pukul 24.00 Wita hingga 06.00 Wita.

Menurut Koordinator Aksi, Joko, kebijakan tersebut menyebabkan pendapatan buruh angkut dan muat barang menurun sangat drastis.

“Sejak kebijakan ini, buruh angkut seperti kehilangan pekerjaan. Kami lebih banyak menganggur ketimbang bekerja,” kata Joko kepada berdikarionline.com.

Joko melanjutkan, kebijakan tersebut juga sangat tidak manusiawi, sebab memaksa sopir kontainer dan buruh angkut barang bekerja dini hari.

“Jadi kalau dibolehkan hanya jam 24.00 wita sampai 06.00 wita, itu kan waktunya orang beristirahat dan terlelap. Sementara kami dipaksa bekerja keras,” ujarnya.

Lebih lanjut, kata Jokowi, kebijakan itu tidak memperhatikan kebijakan tata-ruang yang memberikan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) untuk pembangunan gudang-gudang di tengah kota.

“Ini kan kacau balau, gudangnya semua di tengah kota, sementara kami dilarang ke sana. Mestinya gudangnya dipindah ke pinggiran kota kalau begitu,” paparnya.

Sementara itu Koordinator Posko Menangkan Pancasila Sulawesi Tengah Asman Asgar mengatakan, kebijakan Walikota Palu tersebut tidak diputuskan melalui mekanisme musyawarah dengan berbagai pemangku kepentingan.

“Keputusan ini diambil sepihak, tanpa memperhatikan nasib sopir kontainer dan buruh angkut,” tegasnya.

Dalam aksinya, para buruh membawa beberapa truk kontainer. Mereka membentangkan spanduk dan menggelar orasi dari atas truk kontainer.

Aksi ini mendapat dukungan dari Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI), Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), dan Posko Menangkan Pancasila Sulawesi Tengah.

Tidak mendapat respon

Protes dari sopir kontainer dan buruh angkut ini kurang mendapat respon dari pihak Pemerintah Kota Palu.

Walikota Palu menganggap kebijakannya itu sudah melalui pertimbangan yang matang.

Dia mengatakan, rencana penertiban kontainer sudah berlangsung lebih dari 16 tahun, tetapi baru sekarang ditegakkan karena sebagian besar masyarakat meminta agar kontainer ditertibkan.

Karena tuntutannya tidak mendapat respon, para sopir kontainer dan buruh angkut berencana memboikot semua aktivitas bongkar muat di pelabuhan Pantoloan dan pelabuhan Loli.

Aprianto

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut