Capres Kiri Menang di Pemilu Ekuador

Calon presiden dari partai berhaluan kiri Alianza PAIS, Lenin Moreno, berhasil meraih suara terbanyak dalam pemilu putaran kedua Ekuador, Minggu (2/4/2017).

Dari 94,18 persen suara yang sudah dihitung, Lenin mendapat 51,07 persen suara. Sedangkan pesaingnya seorang bankir, Guillermo Lasso, mendapat 48,93 persen.

Dengan hasil tersebut, Lenin terpilih sebagai Presiden ke-9 Ekuador, sekaligus sebagai pelanjut Revolusi Kewarganegaraan yang dicetuskan oleh Rafael Correa sejak tahun 2007.

“Saya berterima kasih kepada jutaan rakyat Ekuador yang telah mendukung kami. Demokrasi menang hari ini. Ekuador juga menang hari ini,” kata Lenin di hadapan pendukungnya, Minggu (2/4) malam.

Lenin adalah bekas Wakil Presiden di pemerintahan Rafael Correa. Dia menjabat pada periode 2007-2013. Semasa kampanye, dia berjanji akan melanjutkan Revolusi Kewarganegaraan.

“Sepuluh tahun yang lalu, orang-orang Ekuador berpikir inilah negara paling buruk di dunia. Semuanya telah berubah dengan Revolusi Kewargaan ini,” kata Moreno.

Revolusi Kewarganegaraan adalah istilah untuk perombakan ekonomi, politik, dan sosial-budaya yang dilakukan di bawah pemerintahan Rafael Correa.

Selama satu dekade pemerintahan Correa, Revolusi Kewarganegaraan telah membawa banyak kemajuan sosial, seperti pengentasan kemiskinan, mengurangi ketimpangan, dan pemenuhan hak-hak dasar warga negara.

Baca lebih lanjut tentang Revolusi Kewarganegaraan di sini dan di sini.

Pemilu Ekuador putaran kedua ini memang cukup sengit. Banyak analis yang membandingkan pemilu ini dengan “pertempuran Stalingrad” di masa perang dunia kedua.

Penyebabnya, dua capres yang bertarung mewakili dua kutub politik yang bersebarangan, yakni kiri dan kanan. Lenin mewakili politik kiri, sedangkan Lasso mewakili kanan.

Lenin mengusung program politik yang mengedepankan penguatan peran negara dan program sosial, sedangkan Lasso mengusung program neoliberal seperti privatisasi, liberalisasi investasi, pencabutan subsidi, dan lain-lain.

Dengan suasana persaingan sengit itu, kemenangan Lenin disambut gembira kaum progressif di Ekuador dan Amerika latin. Setidaknya, kemenangan tersebut bisa menghambat gelombang pasang kanan yang tengah menguat di Amerika latin.

Moreno, yang lahir 19 Maret 1953, adalah aktivis pergerakan sejak usia muda. Dia pernah terlibat gerakan “Furajidos” yang turut menggulingkan Presiden Gutierrez di tahun 2005.

Tahun 1998, Moreno jadi korban penembakan. Sejak itu dia menderita lumpuh dan terpaksa memakai kursi roda. Namun, keterbatasan tidak menghambatnya bergerak untuk mendorong perubahan.

Dia mendirikan gerakan yang menyuarakan hak-hak penyandang disabilitas. Tahun 2008, dia ditunjuk sebagai Duta Khusus PBB untuk kampanye perlindungan penyandang disabilitas. Tahun 2012, Moreno diusulkan mendapat penghargaan Nobel atas kerja-kerja kemanusiaannya.

Tahun 2007, Rafael Correa menunjuknya sebagai Wakil Presiden. Jabatan itu dipegangnya hingga 2013. Saat tak menjabat Wapres, dia terus bekerja untuk isu-isu kemanusiaan.

Hingga, Oktober 2016, Alianza PAIS mengusung Moreno sebagai Calon Presiden.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut