Revolusi Warga Ekuador: Rebut Kembali Kekuasaan dari Kaum Elite

Pengantar Redaksi: Perubahan sosial di negara-negara Amerika Latin menarik perhatian dan menginspirasi gerakan progresif di berbagai negeri. Selama ini perhatian dan kajian lebih banyak muncul mengenai negara-negara seperti Venezuela, Bolivia, Brasil, dan Argentina. Namun ada sebuah negara lain yang memiliki pengalaman tak kalah menarik dengan perubahan-perubahan radikal yang dicapainya.

Ekuador, negara kecil yang terlintas garis katulistiwa di Amerika Latin, membuat prestasi kerakyatan yang cukup mengagumkan dan dapat pula dipelajari sebagai salah satu rujukan penting pegiat perubahan sosial di mana pun berada. Berikut ini redaksi sajikan sebuah analisa yang diterjemahkan dari teleSUR tentang perkembangan Ekuador dengan “Revolusi Warga”nya di bawah pemerintahan seorang doktor bidang ekonomi, Rafael Correa.


Revolusi Warga Ekuador: Rebut Kembali Kekuasaan dari Kaum Elite

Pada 15 Januari 2016 ini Presiden Rafael Correa menandai sembilan tahun menjabat dan melakukan transformasi di Ekuador. Ini akan menjadi tahun terakhir kekuasaannya setelah ia putuskan untuk tidak lagi menjabat. Correa akan dicatat dalam sejarah sebagai salah satu presiden Ekuador yang paling sukses.

Ekuador sebelum Correa didefinisikan sebagai ketidakstabilan politik dan ekonomi, dengan tujuh presiden dipaksa mundur dalam satu dekade. Tindakan neoliberal yang diterapkan oleh pemerintahan sebelumnya menjadikan negara ini sebagai salah satu yang termiskin dan susah berkembang di kawasan ini. Tapi pemerintahan Rafael Correa melakukan serangkaian reformasi yang mendalam, yang membawa perubahan luar biasa bagi sebagian besar rakyat Ekuador yang telah lama dipinggirkan.

Dalam prosesnya, Ekuador bergabung dengan Bolivia dan Venezuela menolak kebijakan pasar bebas ekstrim yang terpaksakan di Amerika Latin oleh Dana Moneter Internasional dan badan-badan berpengaruh sejenis lainnya. Seperti kata Presiden Rafael Correa pada tahun 2014, “Rakyat harus menang atas modal,” dengan menambahkan bahwa politik adalah tentang kepentingan siapa yang dilayani pemerintah: “Elit atau mayoritas? Modal atau manusia? Pasar atau masyarakat? Kebijakan dan program bergantung pada siapa yang memegang kekuasaan.”

Sebuah Masyarakat dalam Krisis

Sebelum terpilih (sebagai presiden), Rafael Correa yang merupakan ekonom dan profesor di universitas ini telah menjabat sebagai Menteri Ekonomi selama pemerintahan sementara Alfredo Palacio, yang berhasil menggulingkan Presiden Lucio Gutierrez.

Ketidakstabilan politik di negara ini meningkat setelah keruntuhan ekonomi dalam krisis perbankan swasta pada tahun 1999, yang menyebabkan dolar AS diadopsi sebagai mata uang nasional pada tahun 2000. Pengangguran melejit, dan hampir satu dari sepuluh orang Ekuador meninggalkan negara mereka.

Sebagai Menteri Ekonomi, Correa menyatakan oposisinya terhadap rencana Palacio menandatangani perjanjian perdagangan bebas dengan Amerika Serikat dan kemudian mengundurkan diri ketika pemerintah mengutang ke Bank Dunia.

Membangun Kembali Negeri

Menjelang pemilu 2006, Correa dan beberapa politisi Ekuador lainnya mendirikan gerakan Aliansi PAIS, dan mengusulkan penyusunan konstitusi baru untuk mengatasi krisis yang dihadapi Ekuador.

Setelah Correa menjabat, majelis konstituante yang mengundangkan sebuah konstitusi baru yang disahkan melalui referendum rakyat.

Sejak itu, Revolusi Warga—nama yang dipilih oleh pendukung Correa memperingati demonstrasi massa yang menggulingkan presiden—telah memperkuat negara Ekuador, memulihkan perannya dalam pembangunan ekonomi negara.

Di bawah Correa, ekonomi Ekuador tampil menguat, rata-rata (pertumbuhan) 4 persen, sehingga tidak hanya menjadikan pertumbuhan ekonomi Ekuador sebagai salah satu yang terbaik di wilayah ini, melainkan juga disukai oleh kaum miskin di negeri ini. Ekuador telah melampaui negara Amerika Latin lainnya dalam memangkas ketidakadilan atau ketidaksetaraan.

Keberhasilan ini dicapai meskipun Rafael Correa mulai menjabat ketika krisis keuangan global sedang mendera dan Ekuador sedang terhambat oleh ketiadaan mata uang sendiri. Kunci dari keberhasilan ini adalah rehabilitasi yang dilakukan Correa atas peran ekonomi negara melalui investasi publik yang besar untuk membentuk pasar. Correa telah berulang kali menegaskan bahwa meskipun ada peran untuk pasar di beberapa daerah namun mereka tidak dapat mendominasi perekonomian. Correa mengatakan ia mendukung “masyarakat dengan (keberadaan) pasar dan bukan sebuah masyarakat pasar.”

Pusat bagi pertumbuhan yang kuat adalah tekanan pada investasi sosial ketimbang pembayaran utang luar negeri. Akibatnya, indeks kemiskinan telah menurun sepertiga, dengan lebih dari 1,5 juta orang terangkat dari kemiskinan sejak tahun 2007.

Revolusi Warga telah mendorong kebijakan yang inovatif untuk menjamin keadilan sosial yang lebih besar. Misalnya, upah minimum akan dinaikkan menjadi US $ 366 (sekitar 5 juta rupiah) pada tahun 2016, salah satu yang tertinggi di Amerika Latin. Di tahun 2015 juga terjadi reformasi komprehensif hukum ketenagakerjaan yang memperluas hak dan perlindungan pekerja dan pengakuan negara atas tenaga kerja ibu rumah tangga dengan menggabungkan mereka ke dalam sistem jaminan sosial untuk pertama kalinya dalam sejarah negara itu.

Beberapa ekonom memperkirakan perubahan ini akan menambah angka pengangguran, tetapi yang tampak sebaliknya; Ekuador kini memiliki tingkat pengangguran terendah dalam sejarah yakni 4,28 persen.

Dalam pendidikan dan kesehatan, yang telah diabaikan secara serius di bawah pemerintahan sebelumnya, Revolusi Warga telah membuat langkah besar. Pemerintahan Correa memulihkan peran negara di kedua sektor tersebut; menjamin pendidikan gratis hingga tingkat universitas, dan menerapkan kesehatan gratis. Pemerintah telah mengumumkan bahwa mereka akan membangun 400 sekolah baru pada 2017 dan Ekuador kini memiliki tingkat investasi publik tertinggi kedua di dunia dalam pendidikan tinggi. Untuk pembiayaan sebagian besar program ini, pemerintah Correa menargetkan para pengemplang pajak, masalah besar yang menimbulkan kebocoran pendapatan masyarakat. Ekuador sekarang menghasilkan pajak tiga kali lebih besar dibandingkan tahun 2006.

Mandat demokrasi

Sebagai hasil dari perubahan sosial ini, Presiden Correa terus dilihat sebagai salah satu presiden paling populer di Amerika Latin sepanjang pemerintahannya.

Sementara itu, persepsi masyarakat terhadap pemerintahan Ekuador, pengurangan korupsi, dan distribusi kekayaan adalah yang tertinggi di kawasan ini.

Selanjutnya, politik negara Andean ini telah kembali stabil. Presiden terpilih kembali di tahun 2009 dan pada pemilihan umum tahun 2013 menyusul adopsi konstitusi baru. Dukungan rakyat juga telah membantu ia memenangkan referendum, masing-masing pada tahun 2007, 2008 dan 2011. Secara keseluruhan Correa dan pendukungnya telah memenangkan 10 kali pemilu sejak tahun 2007.

Mempromosikan Kesetaraan

Upaya Correa untuk membangun kembali negeri ini termasuk dengan penekanan untuk mengatasi diskriminasi demi menyertakan segmen masyarakat yang lama diabaikan. Selama kampanye pemilu pertama pada tahun 2006, Correa menyambut pendukungnya dalam bahasa Quechua, bahasa Adat yang paling banyak diucapkan di Ekuador.

Pada tahun 2007, dengan bantuan dari pemerintah Venezuela, Ekuador meresmikan stasiun televisi publik pertama; kemudian bersama-sama dengan stasiun radio milik negara mempromosikan program dalam bahasa Quechua dan bahasa pribumi lainnya. Tindakan ini mendorong penggunaan bahasa ibu yang berbeda, yang sebelumnya terancam punah.

Hukum untuk melindungi minoritas juga telah dilaksanakan, termasuk undang-undang yang memaksa perusahaan untuk mencadangkan empat persen dari pekerjaan bagi penyandang cacat, dan kuota lainnya untuk etnis minoritas kelompok—seperti masyarakat adat dan Afro-Ekuador—dalam rangka untuk mempersempit jurang kesenjangan dan ketidakadilan. Hal yang sama telah diterapkan dalam sistem pendidikan tinggi di negara itu, di mana keterlibatan masyarakat adat dan Afro-Ekuador telah melonjak.

Dengan Undang-Undang Media baru—yang disetujui pada tahun 2013—masyarakat adat akan memiliki akses yang lebih besar untuk media komunitas. Undang-Undang memberikan 34 persen dari frekuensi radio dan televisi negara untuk media komunitas. Sejauh ini, 14 frekuensi radio telah ditetapkan untuk masing-masing kelompok adat. Pemerintah juga akan memberikan pelatihan dan pilihan pendanaan khusus untuk mendukung media kecil, dalam upaya untuk terus mempromosikan bahasa asli dan pertukaran budaya.

Perubahan luas atas undang-undang disabilitas bermakna penyediaan layanan yang lebih baik bagi penyandang disabilitas fisik dan mental di bandingkan sebelumnya, dan kampanye pemerintah secara besar-besaran berhasil mengatasi persoalan diskriminasi dan penerimaan yang lebih tinggi dalam masyarakat.

Reaksi dari Elite

Upaya untuk melucuti kekuasaan para elit tua yang telah bercokol selama berabad-abad berhadapan dengan serangan bersama dari para politisi dan organisasi sayap kanan terhadap pemerintah Correa.

Dalam rangka mengatasi dominasi Barat, pemerintahan Correa menutup pangkalan militer AS di Manta, menegaskan kontrol atas minyak negara itu dan sumber daya alam lainnya, menjauhkannya dari dominasi perusahaan multinasional, dan membatalkan hukuman utang luar negeri, yang oleh Correa dijelaskan bahwa pembayaran utang di masa lalu tiga kali lebih banyak dibandingkan untuk pelayanan sosial.

Sebagai akibatnya, datang perlawanan sengit dari elit tua dan sekutunya di Washington, dan kudeta 2010 membuktikan seberapa peduli kekuatan lama terhadap keberhasilan Correa. Pada tanggal 30 September pemogokan polisi berakhir dengan perlawanan kekerasan terhadap Presiden Correa yang disandera di rumah sakit selama beberapa jam.

Bentrokan ini mengakibatkan 10 orang meninggal termasuk seorang pengawal presiden. Dokumen yang muncul menunjukkan dana besar-besaran diberikan untuk polisi dan kelompok-kelompok oposisi melalui USAID. Meskipun menghadapi ancaman langsung, Correa terus menegaskan kebijakan luar negeri yang independen; salah satu gerakannya yang paling berani itu pemberian suaka kepada Julian Assange di kedutaan Ekuador di London pada 2012. Assange takut diekstradisi ke Amerika Serikat atas peran yang dimainkan WikiLeaks dalam mengungkap kejahatan perang.

Tahun 2015 menunjukkan kebangkitan oposisi ini setelah beberapa tahun ketenangan sosial. Lawan Correa, bersama-sama dengan unsur-unsur dari media swasta, sengaja memberikan informasi yang salah kepada masyarakat Ekuador mengenai dua perundang-undnagan yang bertujuan meningkatkan pajak kepada orang kaya untuk mengatasi ketimpangan di negeri ini.

Demonstran oposisi sayap kanan melakukan protes berkala, terutama di dua kota terbesar di negara itu, Quito dan Guayaquil. Mereka kemudian bergabung dengan serikat buruh blok-oposisi dan kelompok adat. Banyak di antara protes tersebut berubah menjadi kekerasan, dengan pengunjuk rasa secara ceroboh menyerang polisi dan pejabat publik.

Sebagai tanggapan, Presiden Correa menyerukan debat nasional di negara itu seputar masalah keadilan dan redistribusi kekayaan. Pada akhir 2015 jumlah protes oposisi telah menyusut dan Correa mengumumkan bahwa peraturan redistribusi kekayaan akan diperkenalkan kembali untuk diperdebatkan di Majelis Nasional pada tahun 2016.

Pengadilan bagi Mantan Pelanggaran HAM

Transformasi besar lain yang dicapai oleh Revolusi Warga adalah restrukturisasi sistem peradilan. Mahkamah Nasional—pengadilan tertinggi negara itu—itu diubah dan prosedur usang dari masa lalu direformasi.

Reformasi ini adalah kunci untuk mengatasi pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan selama presiden Leon Febres Cordero. Presiden yang oleh banyak orang dianggap sebagai seorang diktator ini  memerintah melampaui sistem peradilan dengan penunjukan sekutu terdekatnya untuk menempati posisi kunci.

Pemerintah Presiden Correa membentuk komisi kebenaran untuk menyelidiki pelanggaran hak asasi manusia di negara itu dari tahun 1984 sampai 2008. Sejauh ini, sembilan orang telah dipenjara atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan, karena keterlibatan mereka dalam penyiksaan dan pembunuhan selama kekuasaan Febres Cordero.

Sebuah pengadilan bersejarah mengenai pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan terhadap tiga mantan anggota kelompok Alfaro Vive Carajo, sebuah gerakan gerilya revolusioner yang pernah beroperasi di Ekuador, diharapkan mulai tahun 2016.

Sebuah Revolusi Yang Benar

Sebagaimana seorang revolusioner dan penyanyi terkenal Kuba, Pablo Milanes, pernah berkata, Revolusi Warga di Ekuador adalah “salah satu revolusi yang paling otentik di Amerika Latin”.

Sumber: teleSUR diterjemahkan oleh Mardika Putera

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut