Setiap Orang Bisa jadi Wirausahawan

Di Indonesia, jumlah wirausahawan baru 1,6 persen dari jumlah penduduknya. Angka tersebut sangat kecil dibanding negara lain, seperti Malaysia (3 persen), Amerika Serikat (12 persen), Tiongkok (10 persen), Jepang (10 persen), India (7 persen) dan Singapura (7 persen).

Padahal, untuk dikatakan negara maju, sebuah negara mesti punya 2 persen wirausahawan. Di sisi lain, setiap tahunnya ada 2-3 juta angkatan kerja baru. Tanpa ketersediaan lapangan usaha dan pekerjaan, Indonesia akan terbebani persoalan pengangguran.

Mengantisipasi persoalan tersebut, perkumpulan Prakarsa Indonesia (PI) bekerjasama dengan Balai Besar Peningkatan Produktivitas (BBPP) Kementerian Ketenagakerjaan RI menyelenggarakan pelatihan kewirausahaan baru produktif.

Pelatihan kewirausahaan itu berlangsung di dua titik yang melibatkan warga dua desa, yakni desa Wanajaya dan Kiara Hayam Margamulya di kecamatan Teluk Jambe barat, Kabupaten Karawang. Setiap desa mengirim 25 peserta untuk dilatih sebagai wirausahawan.

Menurut Direktur Prakarsa Indonesia, Siti Rubaidah, rendahnya semangat berwirausaha di Indonesia bukan hanya karena minimnya inisiatif, tetapi juga kurangnya pengetahuan kewirausahaan, akses permodalan, dan dukungan pasar.

“Sebetulnya rakyat kita punya keinginan berwirausaha, tetapi mereka terbentur di pengetahuan, akses permodalan, dan dukungan pasar. Makanya kita buat pelatihan kewirausahaan ini,” kata Rubaidah.

Rubaidah menegaskan, setiap orang bisa menjadi wirausahawan, asalkan ada tekad, peluang dan kesempatan. Menurutnya, pemerintah harusnya berperan dalam mendorong inisiatif berwirausaha dengan memberikan pelatihan, akses permodalan, dan jaminan pasar.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan, pelatihan kewirausahaan yang berlangsung 4 hari (28-31 Maret 2017) ini menyajikan teori dan praktek. Untuk teori, peserta diajari soal pengertian wirausaha, pembukuan dasar, akses permodalan, dan manajemen perusahaan.

Sedangkan untuk praktek, peserta mendapat pelatihan budidaya anggrek dan goody bag. Selain itu, peserta juga belajar membaca peluang usaha, menyusun anggaran permodalan, dan membaca peluang pasar.

“Kami berharap pelatihan ini bisa berkontribusi bagi peningkatan ekonomi masyarakat desa. Sebab, banyak petani di sini kehilangan tanah dan kesulitan mendapatkan penopang hidup,” kata Suhendar, salah seorang tokoh pemuda Kiara Hayam.

Di acara penutupan kegiatan, Kepala Seksi Penyelenggaraan BBPP Yonhendri mengatakan, salah satu persoalan besar dalam setiap pelatihan kewirausahaan adalah perekrutan.

“Kalau perekrutannya asal-asalan, sudah pasti gagal. Tetapi kalau perekrutannya serius, peluang untuk berhasil tentu besar,” katanya.

Dia mengungkapkan, dari sekitar 6000 orang yang sudah dilatih kewirausahaan oleh BBPP, baru sekitar 500 orang yang berhasil menjadi wirausahawan baru.

Willy Soeharli

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut