Membaca Politik Kelas Menengah Muslim

Kelas menengah muslim Indonesia berusaha membangun eksistensi dan representasi politiknya melalui adaftasi dengan modernitas. Dalam politik informal, mereka aktif sebagai kelompok kepentingan maupun penekan.

Hal itu disampaikan oleh peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Wasisto Raharjo Jati, dalam bedah buku Politik Kelas Menengah Muslim Indonesia di kampus Universitas Gajah Madah (UGM) Yogyakarta, Rabu (29/3/2017).

Wasisto, yang juga penulis buku Politik Kelas Menengah Muslim Indonesia, berusaha membaca kelas menengah muslim Indonesia dari dua perspektif, yakni weberian dan marxsisme.

Dalam perspektif weberian, kelas menengah merupakan kelompok masyarakat yang bertumpu pada kepemilikan properti dan keterampilan yang dimiliki. Dalam hal ini, kelas menengah memiliki aset sebagai basis modal sosial yang menjadikan kelompok ini independen, rasional, dan otonom sebagai suatu kelas.

Sedangkan dalam perspektif marxisme, kelas menengah adalah mereka yang memiliki alat produksi kecil dan tidak mempekerjakan orang lain.

“Secara singkat, sebenarnya buku yang saya susun ini banyak menggunakan perspektif weberian. Saya membaca perspektif Weberian dalam setiap agama di Indonesia,” kata Wasisto.

Lalu, siapa kelas menengah muslim Indonesia?

Wasisto menjelaskan, kelas menengah Muslim Indonesia adalah kelompok kelas menengah yang menggunakan prinsip, norma, dan nilai islam sebagai identitas politik, baik sebagai individu maupun kelompok.

“Kelas menengah Muslim ini muncul sebagai bentuk diskriminasi dan alienasi terhadap umat Islam yang kemudian memicu aktivitas borjuasi, edukasi, filantropi sebagai simbol kebangkitan politik,” paparnya.

Dia melanjutkan, pembentukan kelas menengah muslim baru terjadi melalui proses intelektualisme dan modernisasi. Gelombang intelektualisme didorong oleh kelompok epistemik kampus dan berbasis Masjid.

Sedangkan gelombang modernisasi dimulai dengan munculnya berbagai macam produk syariah dan islami.

Dia juga mencatat genealogi awal kelas menengah muslim Indonesia melalui tiga jalan, yaitu perdagangan, haji dan pendidikan. Mereka meliputi para santri, pedagang dan pemuka agama.

Selain itu, kata Wasisto, kelas menengah muslim menempatkan Islam dalam dua hal, yakni sebagai modal kultural dan praktik kelas. Islam sebagai modal kultural berarti komoditisasi nilai, norma, dan perilaku Islam sebagai modal sosial. Sedangkan Islam sebagai praktik kelas berarti upaya menjaga konteks ummah dalam eksklusifitas maupun juga komunalitas.

“Mereka menerima Islam berdasarkan pemahaman emosional/fungsional dan spiritual,” jelasnya.

Lebih lanjut, Wasisto mengungkapkan, santrinisasi dan resantrinisasi kelas menengah berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan kelas menengah muslim di Indonesia.

Muhammad Idris

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut