“Capital Reversal” dan Ancaman Krisis

Perlahan tapi pasti, dana asing mulai keluar dari Indonesia. Dalam satu bulan terakhir, kepemilikan asing pada Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan Surat berharga Negara (SBN) terus merosot tajam.

Seperti dirilis Kompas (5/10), sampai akhir September dana asing di SBI tinggal sebesar Rp 40,8 triliun, atau turun sekitar Rp 13,9 triliun (4,59%)  dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai Rp 54,7 triliun. Sementara dana asing di SBN per September tergerus Rp 29,4 triliun, dari Rp  247,4 triliun pada bulan Agustus menjadi Rp 218 triliun di bulan September.

Tekanan terhadap pasar obligasi ini, tercermin dari turunnya  Inter Dealer Market Association (IDMA) yang merupakan acuan harga obligasi pemerintah. Pada  23 September IDMA terkoreksi ke level 101,70 atau turun 5,67% dari posisi 107,36 pada 9 September.

Kondisi ini telah memaksa pemerintah melakukan enam kali transaksi pembelian kembali (buyback) Surat Utang Negara (SUN) senilai Rp3,24 triliun atau melampaui rencana buyback SUN tahun ini yang dipatok Rp3,07 triliun. Hal serupa juga dilakukan oleh Bank Indonesia,  jumlah kepemilikan BI di SUN tercatat naik sebesar Rp6,98 triliun menjadi Rp10,75 triliun dari sebelumnya yang hanya Rp3,77 triliun.

Sementara di pasar Saham gejolak serupa tak kalah seru, sejak bulan September hingga memasuki awal Oktober Indeks Harga Saham Gabungungan (IHSG) terus mengalami koreksi secara medium term di bawah level 3.000, dan kemungkinan akan terus berlanjut hingga akhir tahun ini.

Secara eksternal pembalikan arus dana asing (capital reversal) dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap resesi ekonomi dunia akibat problem likuiditas global serta krisis utang di zona Eropa dan Amerika, yang belakangan dibumbui aksi pendudukan wall street menambah guncangan serius pada perekonomian “Paman Sam”.

Tahun lalu, Goldman Sachs Group Inc memprediksi, perekonomian AS akan mengalami fase “sangat  buruk”, yakni terjungkalnya ke jurang resesi, seperti yang kita saksikan hari ini. Sebab itu Goldman Sachs merekomendasikan agar dana-dana yang diparkir di emerging economic dapat ditarik kembali untuk memenuhi likuiditas ke dalam negeri, dengan menaikan tingkat suku bunga.

Apalagi kenaikan tingkat yield seri-seri obligasi Indonesia tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan AS. Kenaikan yield obligasi Indonesia tertinggi hanya sekitar 100 basis poin (bps). Padahal pada krisis 2008 kenaikannya melonjak hingga 700 bps.

Dari sisi internal, terjadinya capital reversal di pasar modal Indonesia juga dipicu oleh meningkatnya Credit Default Swap spread (CDSs), yang mencerminkan risiko investasi di Indonesia. Kenyataan ini semakin mendorong melemahnya nilai tukar rupiah.

Terlebih fundamental perekonomian Indonesia tidak sekuat klaim pemerintah. Inflasi diprediksi akan meningkat tahun ini. Suku bunga rendah telah memicu peningkatan konsumsi domestik, sedangkan naiknya harga impor barang konsumen menjadi sumber inflasi baru (imported inflation).

Turunnya suku bunga acuan berimplikasi menyempitnya selisih  tingkat suku bunga antara negara maju dan emerging country sehingga membuka peluang bagi kembalinya dana-dana asing ke negara asalnya yang tengah kekurangan likuiditas.

Namun, tidak menutup kemungkinan, dana-dana tersebut justeru beralih ke bursa komoditi dunia, sehingga semakin mendorong lonjakan harga pangan, dan menjadi sumber inflasi baru, terlebih saat ini sejumlah komoditi pangan dalam negeri masih harus impor, diantaranya gula, kedelai, jagung, beras, daging, susu, dan lain-lain.

Indonesia yang 64% pertumbuhan PDB-nya masih bergantung konsumsi masyarakat, akan dipaksa merubah proyeksi angka-angka ekonominya. Sinyal ini setidaknya disampaikan World Bank (WB) yang mengkoreksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan (2012), dari 6,7% menjadi 6,3%, bahkan skenario terburuk menurut WB bisa berada pada level 4%.

Ditengah aksi ambil untung investor yang terus berlanjut tampaknya pemerintah masih cukup percaya diri bersandar pada kliam kekuatan fundamental ekonomi untuk mengatasi risiko pembalikan arus dana asing, meskipun rupiah telah terdepresiasi hingga 4,3%, dan dana buyback dalam APBNP 2011 telah terlampaui, sedangkan cadangan devisa perlahan-lahan mulai terkuras. Jika begitu hati-hati krisis tengah menanti.***

Edy Burmansyah, Penulis adalah Researcher Financial Reform Institute

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut