Gerakan ‘Occupy Jakarta’ Anggap Sistem Kapitalisme Sudah Gagal

Gerakan “Occupy Wall Street” akhirnya menyebar ke Indonesia. Siang tadi, puluhan orang dari lintas profesi juga menggelar aksi “Occupy Jakarta” di depan kantor Bursa Efek Jakarta (BEJ) di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta.

Bob Sulaiman, salah seorang peserta aksi, menganggap kapitalisme sebagai sistem yang gagal mensejahterakan rakyat dunia. ‘Hanya 1% yang sangat makmur, tetapi 99% benar-benar hidup sengsara”.

Ia menegaskan bahwa perjuangan mereka, termasuk di Indonesia, adalah untuk menghentikan kapitalisme dan memperjuangkan sebuah tata dunia baru yang lebih berperikemanusiaan dan berkeadilan sosial.

Gerakan occupy Jakarta berasal dari berbagai latar-belakang, seperti pekerja kantoran, aktivis serikat buruh, aktivis LSM, advokat, dan lain sebagainya. Gerakan ini diorganisir dengan sangat demokratis dan berdasarkan demokrasi langsung.

Berbagai tuntutan peserta aksi dibahas dalam sebuah forum langsung, dimana setiap peserta berhak mendaftarkan usulan dan tuntutannya. Setiap orang juga berhak menjadi contak person dan menyebarkan pesan tentang gerakan ini ke seluruh Indonesia dan dunia.

Sari Putri, seorang penggiat sosial dan ahli gizi anak-anak yang turut menginisiatori gerakan ini, menjelaskan bahwa gerakan ini akan berlangsung terus-menerus hingga ada perubahan yang cukup revolusioner di Indonesia.

“Jadi hari ini adalah hari pertama dan besok kita akan tetap disini lagi sampai ada perubahan revolusioner, dimana rakyat yang menjadi pemegang dalam menentukan aturan-aturan bagi kehdupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya kepada Berdikari Online.

Sari Putri, yang mengambil pelajaran dari gerakan “Occupy Wall Street”, sangat yakin bahwa gerakan ini akan segera meluas dan membesar. “Awalnya memang cuma puluhan orang. Tetapi besok kita akan mengusahakan bertambah lagi. Hingga akhirnya berkembang menjadi gerakan rakyat,” ujarnya.

Selain menggelar orasi-orasi politik dan memasang spanduk, aktivis “occupy Jakarta” juga menggelar pertemuan langsung. Mereka membahas strategi dan rencana aksi kedepan secara terbuka.

Salah satu keputusan dari pertemuan langsung itu adalah menempatkan kapitalisme sebagai  musuh bersama dari 99% rakyat Indonesia. Kapitalisme dianggap sebagai sistem yang gagal dan menyebabkan kesengsaraan rakyat Indonesia.

Keputusan lainnya adalah kesepakatan untuk menjadikan Bursa Efek Jakarta (BEJ) sebagai pusat pendudukan. “Ini adalah simbol kapitalisme. Di sinilah berbagai korporasi yang menghisap 99% rakyat Indonesia bermain saham,” ujar seorang peserta aksi.

Mereka juga bersepakat bahwa perebutan kembali ruang-ruang publik, seperti taman-taman kota, adalah penting dan politis.

Aksi hari pertama occupy Jakarta ditutup dengan pementasan seni oleh dua seniman, yaitu Nick Wallaki (Australia) dan Rizal Abdulhadi (Jaker). Keduanya menyanyikan lagu-lagu perjuangan untuk menghibur dan menyemangati peserta aksi.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut