Bung Karno Dan Tari Lenso

Ada dua kabar yang membuatku mengelus dada. Yang pertama, anggapan Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo, bahwa kesenian Jarang Kepang alias Jathilan merupakan kesenian terburuk di dunia. Yang kedua, kabar tentang kepunahan 39 kesenian rakyat yang dulu pernah Berjaya di Jawa Barat.

Pertanda apakah itu? Kesenian rakyat makin mendekati ajalnya. Tak lama lagi, dalam sepuluh-dua puluh tahun kedepan, kesenian rakyat tinggal sejarah. Sedangkan kita, sebagai sebuah bangsa, akan menjemput masa tanpa sebuah identitas, kebanggaan, sejarah, dan kepribadian sendiri.

Dahulu, di era Bung Karno, kesenian rakyat mendapat tempat terhormat. Karenanya, kesenian rakyat pun berkembang sedemikian rupa. Bahkan, berkat kegigihan Bung Karno, tak jarang kesenian rakyat itu “nongol” di panggung dunia.

Salah satu kesenian rakyat paling digemari Bung Karno adalah Tari Lenso. Bung Karno sangat sering menari tari Lenso. Bahkan, ketika kedatangan tamu dari negara lain, Bung Karno menjamunya dengan tari lenso. Ia pun terkadang tenggelam dalam gerak tari lenso bersama tamu-tamunya.

Beberapa sumber menyebutkan, tari lenso berasal dari tanah Maluku. Tarian ini dipertunjukkan secara beramai-ramai ketika ada pesta, seperti pernikahan, panen, tahun baru, dan lain-lain. Lenso sendiri berarti “sapu-tangan”. Tari lenso juga sering dipergunakan untuk menyambut tamu.

Sedangkan sumber lain menyebut tari ini berasal dari Minahasa. Katanya, tari ini menceritakan tentang seorang pemuda Minahasa mencari jodohnya atau calon istri. Dalam tarian ini, yang menjadi perantara adalah lenso atau selendang. Selendang inilah yang menjadi isyarat: selendang dibuang berarti lamaran ditolak, sedangkan selendang diterima berarti persetujuan.

Bung Karno menjadikan tari lenso sebagai tari pergaulan. Supaya bisa menari kapan saja jika ada kesempatan, Bung Karno membentuk grup musik pengirim. Sebagian besar anggotanya adalah pasukan DKP (Detasemen Kawal Pribadi).

Bung Karno bermimpi kelak Indonesia punya tarian pergaulan. Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), salah satu organisasi kebudayaan terbesar kala itu, merespon keinginan Bung Karno itu. Konferensi Nasional Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR), yang diselenggarakan oleh CC PKI pada tahun 1964, juga mendiskusikan perlunya tarian pergaulan revolusioner.

Kriteria pun dibuat: tarian yang dipilih haruslah mudah, meriah, indah, dan massal. Dan, setelah melalui proses pendiskusian, KSSR memutuskan tari lenso sebagai tarian pergaulan massa revolusioner dan anti-imperialis. Dengan tarian ini, hubungan persaudaraan dan solidaritas dari berbagai suku-bangsa bisa diperkuat. Lekra dan PKI pun segera memassalkan tarian ini.

Bung Karno sadar, negeri ini tidak hanya kaya-raya dengan alamnya, tetapi juga dengan kesusastraan dan kesenian-keseniannya. Indonesia kaya dengan tarian-tarian rakyat yang tersebar di berbagai daerah. Ia yakin, pengembangan kesenian rakyat itu bisa mempertinggi kebudayaan nasional.

Anna Yulia, contributor Berdikari Online

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut