Bukan Dikotomi Tua-Muda, Tapi Anti-Imperialis versus Pro-Imperialis!

Capres lanjut usia, sadarlah! Kata-kata itu dilontarkan oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Taufiq Kiemas, saat mengomentari nama-nama calon presiden untuk pemilu 2014.

Bagi Taufik Kiemas, capres lanjut usia mestinya memberi ruang kepada tokoh-tokoh berusia muda. Dengan demikian, terjadi proses regenerasi dalam dinamika politik Indonesia. Gagasan Taufik Kiemas ini didukung pula oleh Amien Rais. Mantan Ketua MPR ini bahkan membatasi usia Capres harus di bawah 60 tahun.

Polemik soal capres tua-muda bermunculan dimana-mana. Yang paling sering muncul: dikotomi antara golongan tua dan muda. Bagi sebagian orang, kepemimpinan nasional di tangan kaum tua sudah terbukti gagal. Sejak orde baru hingga sekarang, Indonesia praktis berada digenggaman kaum tua. Sehingga, bagi sebagian orang itu, harus ada terobosan radikal: memotong generasi tua!

Ada sebagian yang berpendapat lain. Bagi kelompok ini, soal umur tidaklah terlalu prinsipil untuk diperdebatkan. Akan tetapi, bagi mereka ini, yang paling penting adalah sepak terjang dan keberpihakan politik. Jumhur Hidayat, misalnya, mengusulkan agar pendikotomiannya “pemimpin pro-rakyat versus anti-rakyat”.

Sejarah Indonesia memang tidak bisa dilepaskan dari andil pemuda. Hiruk-pikuk perjuangan kemerdekaan tak lepas dari sepak-terjang kaum muda: Sumpah Pemuda, Proklamasi Kemerdekaan, dan lain-lain. Dengan demikian, tak elok juga untuk mengabaikan peranan kaum muda. Juga, kalau kita lihat dari sejarah, Republik Indonesia yang masih baru ini justru awalnya disetir oleh mereka yang masih berusia muda kala itu: Soekarno, Hatta, Sjahrir, Amir Sjarifuddin, dan lain-lain. Jadi, tidak patut pula meremehkan kaum muda dari segi pengalaman.

Hanya saja, dalam konteks perdebatan Capres Tua-Muda ini, kita tidak bisa menggunakan patokan umur. Sebab, persoalan bangsa jauh lebih kompleks dari sekedar perdebatan soal umur. Dalam banyak kasus, kita sering menjumpai tokoh-tokoh berusia tua tetapi berfikiran maju (progressif). Dan, sebaliknya, terkadang kita temukan juga tokoh muda berfikiran konservatif/reaksioner.

Lapangan politik kita saat ini sudah jelas: perjuangan merebut kembali kedaulatan nasional bangsa kita (politik, ekonomi, sosial-budaya) dari penjajahan asing—yang paling nyata melalui “washington consensus”. Di sini, energi kekuatan kita terletak pada seluruh kekuatan bangsa, tanpa memandang perbedaan usia, yang bersikap anti-neokolonialisme dan anti-imperialisme.

Sehingga, dikotomi yang paling dibutuhkan adalah—meminjam istilah Bung Karno—kaum “sana” dan “sini”. Kaum sana itu merepresentasikan kepentingan “neokolonialis”, sedangkan “kaum sini” mewakili kepentingan nasional. Nah, dalam konteks sekarang, dua antitesa alias pertentangan ini yang harus digelorakan. Jangan ada kata ‘damai’!

Dalam pilpres 2014, misalnya, kerangka pertententanganya adalah: capres pro-imperialis dan anti-imperialis. Bagaimana jika semua capres—supaya bisa menang pemilu—mengaku sebagai capres anti-imperialis? Jawabannya sederhana: kita periksa sikap dan tindakan politiknya. Kita  bisa memeriksa, apakah sikap, tindakan, dan sepak terjang politiknya benar-benar berpihak kepada kepentingan nasional atau tidak: Apakah ia siap menolak privatisasi? Apakah ia siap menegakkan kedaulatan rakyat atas sumber daya (sesuai amanat pasal 33 UUD 1945)? Apakah ia siap mengusir atau menasionalisasi perusahaan asing yang melecehkan bangsa dan menindas rakyat? Apakah ia setuju melindungi pasar di dalam negeri dari serbuan liberalisasi perdagangan?

Sama seperti kasus SBY, yang pada tahun 2009 mengaku bukan neoliberal, tetapi praktek kebijakannya sangat “ultra-neoliberal”. Kita bisa menelanjangi rezim SBY sebagai contoh dari rezim yang mengabdi kepada kepentingan ‘kaum sana’ alias neokolonialisme.

Jadi, sebagai kesimpulan, ada baiknya kaum tua-muda bekerjasama bahu-membahu menyelamatkan bangsa. Mari menyusun barisan anti-neokolonialisme dan anti-imperialisme. Sebab, dikotomi yang tak terdamaikan adalah antara kepentingan nasional kita dan neokolonialisme/imperialisme.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut