Batalyon Yang Pernah Dipimpin SBY Menganiaya Warga Hingga Tewas

“Tidak ada satuan militer di negeri ini yang memiliki sejarah yang khas seperti Batalyon Infanteri 744/Satya Yudha Bhakti. Seluruh unit militer yang dulu bertugas di Timor Timur telah dilikuidasi atau sudah tidak ada lagi. Satu-satunya yang tetap tegak berdiri dan makin berjaya adalah Batalyon 744. Oleh karena itu, agungkan sejarah itu sambil memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, agar perjalanan ke depan Batalyon 744 ini dalam menjalankan tugas negara selalu dalam lindungan dan selalu berhasil.”

Demikian sebagian isi pidato Presiden Yudhoyono di hadapan Keluarga Besar Batalyon Infanteri 744/Satya Yudha Bhakti di Belu, Atambua 10 Februari lalu. Sebulan setelah kejadian itu, para prajurit Yonif 744/SYB beramai-ramai menganiaya 7 orang pemuda di markasnya di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Minggu (13/3) kemarin, Charles Mali, salah seorang dari para pemuda itu akhirnya tewas di Rumah Sakit Wirasakti Atambua, Belu.

Menurut kronologis yang disampaikan Romo Leo Mali, seorang imam Katolik dan penggiat kemanusiaan, yang kebetulan juga paman kandung korban, peristiwa ini bermula pada Sabtu (5/3) lalu. Saat itu 6 pemuda Kelurahan Fatubenao, Atambua yang sedang mabuk minuman keras mengancam seorang anggota TNI dari Yonif 744/SYB yang kebetulan lewat. Tidak terima dengan perlakuan ini, si prajurit mengadu pada teman-teman di kesatuannya.

Seperti biasa, tanpa menghargai hukum yang berlaku, para prajurit TNI mencoba main hakim sendiri. Keesokan harinya (6/3), empat anggota TNI mendatangi rumah Raimundus Mali. Mereka mencari dua putra Raimundus, Heri dan Charles, dua dari enam pemuda yang terlibat upaya pemalakan pada hari sebelumnya. Disana, mereka tidak menemukan Charles dan kawan-kawannya yang sejak semalam belum pulang. Begitu juga tengah malam pada esok harinya, ketika 8 orang anggota TNI kembali mendatangi rumah Raimundus.

Dua kali gagal, para prajurit dari pasukan yang baru sebulan sebelumnya dibangga-banggakan Presiden Yudhoyono itu mencoba siasat licik. Selasa (8/3), sekitar pukul 9 pagi, mereka menciduk Raimundus dan istrinya, Modesta Dau, dan membawanya ke markas Yonif 744 di Tobir. Di sana kedua orang tua itu dipaksa untuk wajib lapor setiap hari, hingga anak-anak mereka menyerahkan diri.

Rabu (9/3), Raimundus dan Modesta menuruti perintah anggota TNI tersebut. Mereka datang sejak pagi, tetapi baru dibolehkan pulang pada pukul 5 sore. Selama berada di Tobir, mereka tidak dikasih makan ataupun minum.

Keesokan harinya, Raimundus dan Modesta tidak sempat wajib lapor karena ada saudara Raimundus yang meniggal dunia. Raimundus harus mencari hewan di pasar untuk diantar ke rumah duka. Bagi orang Nusa Tenggara Timur, peristiwa kematian kerabat merupakan hal yang harus mendapat prioritas perhatian. Karena itu, meski permintaan ijinnya ditolak, Raimundus memilih mangkir dari wajib lapor.

Jumat malam (11/2), Charles dan kawan-kawannya berhasil ditemui. Agar masalah tidak berlarut-larut, para pemuda itu diantar ke markas Yonif 744 seterbitnya matahari. Modesta ikut mengantar mereka. Ia percaya pada janji para tentara untuk membina kedua anaknya. Ia membayangkan “pembinaan” itu akan berupa nasihat.

Tetapi Modesta keliru. Kedua putra tercinta, bersama 5 orang kawannya yang lain, “dibina” dengan penganiayaan beramai-ramai oleh aparat Yonif 744. Kakak beradik, Heri dan Charles, dipaksa berkelahi disaksikan dan disorak-sorai aparat Yonif 744.

Tindakan keji aparat TNI baru berhenti setelah Charles jatuh pingsan. Menurut Romo Leo Mali, sekitar pukul 10 pagi, Charles meninggal. Jenasahnya kemudian dibawa ke rumah sakit Wirasakti. Tidak berselang lama, Hery, sang adik, juga harus dilarikan ke rumah sakit karena muntah-muntah dan kencing darah. Begitu juga lima orang pemuda lainnya.

Raimundus dan keluarga besar Mali benar-benar dihantam duka. Baru sehari saudara mereka dimakamkan, kini jenazah Charles anak mereka terbaring menggantikan, dan Herry adiknya kritis di rumah sakit. Modesta sang ibu begitu terpukul karena merasa telah mengantar anaknya menuju kematian. Tak kuat menahan sedih, beberapa kali ia mencoba bunuh diri.

Batalyon Kesayangan Sang Presiden

Batalyon Infanteri 744/Satya Yudha Bhakti bukan sembarang pasukan. Di pasukan inilah, Presiden Yudhoyono banyak menyimpan kenangan terlibat penumpasan gerilyawan rakyat Timor Leste. “Sejarah yang khas …memori yang indah … nostalgia yang penuh kenangan,” kata Presiden Yudhoyono. Demi nostalgia penuh kenangan inilah, Presiden Yudhoyono rela menempuh perjalan darat dari Kupang ke Atambua pada Februari lalu. Demi memori indah ini, SBY rela mengantar sendiri sumbangan ambulans, mini bus, seperangkat band, peralatan bengkel, genset dan dua ratus dus minyak goreng. Presiden juga membantu pembangunan gedung serba guna seluar 750 meter persegi.

Batalyon Infanteri 744/SYB memang istimewa. Ia satu-satunya pasukan yang tidak dibubarkan, meskipun Korem 164/Wiradarma induknya telah dilikuidasi. Dalam sebuah artikel di milist yang diposting Maret 2000 silam, kekebalan Yonif 744/SYB merupakan hasil lobby para mantan komandannya. Pasukan ini memang menghasilkan sejumlah tokoh besar di tubuh TNI. Selain SBY, ada Letjen Yunus Yosfiah (terakhir Menpen), Mayjen Ahmad Rivai (mantan Pangdam IX/Udayana), dan Mayjen TNI Kiki Syahnakri (Mantan Pangdam IXVII Wirabuana).

Yonif 744/SYB dibentuk 1977, bertempat di Provinsi Timor-Timur (sebelum merdeka menjadi Timor Leste). Awalnya, pasukan ini bernama Yonif 744/BS, masuk dalam jajaran Kodam IX/Udayana. Yunus Yosfiah menjadi Danyon pertamanya. Sementara Presiden Yudhoyono memimpin batalyon ini pada tahun 1986-1988. Pada 21 Pebruari 1978, status Yonif 744 menjadi batalyon yang berdiri sendiri, dengan organik administrasi berada di bawah Kodam XVI/Udayana. Setelah Korem 164/Wira Dharma dibentuk (1978), secara taktis Yonif 744 berada di bawah Danrem 164/Wiradharma.

Ketika Timor Leste merdeka dan Korem 164/Wiradharma dilikuidasi, Yonif 744/SYB tidak ikut dibubarkan. Kini batalyon ini di bawah Kodam IX/Udayana, dan di-BKO-kan pada Korem 161/Wirasakti-Kupang.

Kemarahan Rakyat

Penganiayaan yang dilakukan aparat Yonif 744 terhadap 7 pemuda Atambua, dan menyebabkan kematian Charles Mali, telah memancing reaksi kemarahan keluarga korban dan masyarakat Nusa Tenggara Timur.

Senin (14/3) siang kemarin, ratusan keluarga dan masyarakat Belu mendatangi DPRD Belu. Mereka menggotong jenazah Charles yang dijemput dari rumah sakit. Dihadapan DPRD, Romo Leo Mali menyampaikan tuntutan pihak keluarga dan masyarakat agar Yonif 744/SYB dibubarkan.

Tuntutan pembubaran Yonif 744 juga disampaikan Forum Akademia NTT. Forum yang beranggotakan ratusan mahasiwa dan mantan-mahasiswa jenjang pascasarjana dan doktoral asal NTT ini juga menuntut pengkajian ulang keberadaan seluruh pasukan TNI AD di Timor.

Organisasi sukarelawan Koalisi Akar Rumput (KoAR) NTT bahkan menuntut penghentian pembangunan pos dan markas militer, dalam bentuk apapun di Nusa Tenggara Timur.

Kemarahan rakyat dapat dimaklumi, mengingat peristiwa penganiayaan rakyat oleh aparat TNI bukan pertama kalinya terjadi di Belu dan kabupaten lain di Nusa Tenggara Timur. Pada September 2010, tiga anggota TNI-AD dari Yonif 742/SWY melakukan pengeroyokan terhadap Romo Beatus Ninu, rohaniwan Katolik yang bertugas di Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, yang berbatasan langsung dengan wilayah kantung Timor Leste, Oecusse.

Menurut Ketua KPW NTT Partai Rakyat Demokratik James Faot, tuntutan pembubaran komando teritorial yang dilontarkan masyarakat dapat dibenarkan, mengingat bahwa struktur komando teritorial adalah stuktur yang dibutuhkan pada masa agresi militer Belanda. Saat itu, lumpuhnya pemerintahan sipil dan terdesaknya TNI dan laskar-laskar rakyat dijawab dengan struktur Tentara dan Teriorial dimana TNI membangun kantong-kantong gerilya sekaligus menjalankan fungsi pemerintahan darurat (sipil). Setelah puluhan tahun agresi militer Balanda itu berakhir, seharusnya tidak lagi ada alasan bagi keberadaan Komando Teritorial.

Tetapi menurutnya, pembubaran komando teritorial tidak otomatis menjadi solusi tuntas masalah pelanggaran HAM oleh TNI. “Yonif 744 bukan komando teritorial, tetapi kehadirannya mengancam masyarakat. Karena Belu terletak di perbatasan, sulit untuk menuntut pembubaran atau penarikan batalyon ini.”

Karena itu, menurut Faot, tuntutan yang diperlukan dalam kasus ini adalah pelaksanaan pengadilan umum bagi anggota TNI yang melakukan kejahatan sipil. “Karena selama ini pengadilan anggota TNI yang melakukan kejahatan terhadap rakyat juga dilakukan di mahkamah militer, hukuman yang diberikan tidak memberikan efek jera.” Menurut Faot, dalam mahkamah militer kepentingan penegakan keadilan tersubordinasi solidaritas korps. Ia yakin jika kejahatan sipil anggota TNI diadili di pengadilan pidana umum, vonis yang diberikan dan masa penahanan yang dijalani akan lebih efektif memberikan efek jera.

Ah, ini benar-benar berita tak elok buat Presiden Yudhoyono. Pasukan yang menjadi “memori indah dan nostalgia penuh kenangan” bagi dirinya, ternyata menjadi “memori kelam kematian” buat rakyat Belu, Nusa Tenggara Timur. Menurut Anda, jika tuntutan pembubaran Yonif 744 disampaikan kepada presiden, bagaimana isi pidato tanggapannya?***

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut