Perjuangan Rakyat Morowali dan Peura

SUDAH sepekan lebih petani dari lima desa di Kecamatan Bungku Tengah, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, berhasil mengambil-alih sebagian lahan yang dikuasai oleh perusahaan nikel terbesar di dunia, PT International Nickel Indonesia Tbk (PT.INCO).

Sejumlah media lokal menyebutkan bahwa aksi pengambil-alihan itu dilakukan petani berdasarkan inisiatif sendiri. “masyarakat lima desa yakni Desa Bahomoteve, Dampala, Lele, Bahomoahi, dan Ululere melakukan aksi tersebut dengan kesadaran mereka sendiri tanpa dikoordinir pihak tertentu,” kata Muhammad Hamdin kepada media.

Aktivitas penanaman dilakukan seminggu sekali, yaitu pada hari minggu. Untuk mengorganisir aksi penanaman ini, maka para petani membentuk kelompok tani. Ada 13 kelompok tani yang berhasil di bentuk. Setiap kelompok beranggotakan 13 orang petani. Sementara setiap orang petani menguasai dua hektar lahan.

Menurut para petani, selain lahan tersebut sudah sangat lama tidak diolah atau menganggur, tanah tersebut juga masuk kategori tanah adat “To Bungku”.

Sementara itu, pada 26 Februari lalu, pemerintah Kabupaten Morowali memberi batas waktu kepada PT Inco selambat-lambatnya bulan Maret untuk merealisasikan kontrak karya di atas lahan seluas 38.000 hektar. Jika tidak, maka perusahaan nikel tersebut diminta segera melepas kontrak karyanya dan mengembalikan lahan kepada pemerintah.

PT.INCO sudah mengantongi kontrak karya sejak tahun 1968, tetapi belum pernah melakukan eksplorasi hingga sekarang. Selain pemerintah, masyarakat pun sudah mengajukan gugatan terhadap PT.INCO.

Sementara itu, di desa Peura, kecamatan Pamona Utara, kabupaten Poso, rakyat sedang berjuang mati-matian untuk menolak pembangunan tower SUTET di wilayah pemukimannya. Pembangunan tower sutet ini dilakukan oleh PT Poso Energi, milik mantan Wakil Presiden RI, Yusuf Kalla.

Pada tanggal 2 maret 2011, warga desa Peura melakukan aksi duduk di jalan sebagai cara untuk menghalangi masuknya truk pengangkut material. Sayang sekali, aksi perlawanan rakyat ini dikesampingkan pemerintah dan pengusaha, bahkan menggunakan aparat TNI, Polisi, dan Satpol PP untuk mengangkat paksa warga dari jalanan.

Selanjutnya, pada 12 maret 2011, truk pengankut material kembali berusaha memasuki desa Peura. Kedatangan truk ini dikawal langsung oleh pasukan Satpol PP. Dengan berbekal surat rekomendasi dari Komnas HAM mengenai penghentian sementara proyek ini, warga berusaha menghentikan truk pengangkut material tersebut. Surat rekomendasi Komnas HAM pun diabaikan dan proses penggalian tanah untuk pendirian tower tetap dilaksanakan.

Pada malam harinya, Polisi pun menangkap seorang warga Peura bernama Ungke terkait kejadian tanggal 2 maret 2011, yaitu saat warga menggelar aksi memboikot masuknya truk pengangkut material pembangunan tower.

Dan, pada senin kemarin, puluhan warga telah bersiap pasang badan untuk menghentikan mobil perusahaan yang dikawal polisi. Mereka tidak gentar sedikitpun saat berhadapan dengan Satpol PP. Akhirnya, besi pun tidak jadi diturunkan dari mobil truk.

PRD mendukung perjuangan rakyat di dua daerah tersebut

Komite Pimpinan Kota Partai Rakyat Demokratik (KPK-PRD) kota Palu menyatakan dukungan terhadap perjuangan rakyat di kedua daerah yang sedang bergolak tersebut, Morowali dan Peura.

Dalam siaran persnya yang diterima Berdikari Online, PRD menganggap kejadian di dua daerah tersebut sebagai akumulasi dari berbagai persoalan yang sudah lama terjadi.

Untuk kasus pengambilalihan tanah milik PT.INCO oleh petani, PRD meminta kepada pihak pemerintah kabupaten Morowali agar memberikan dukungan teknologi dan modal. “Ini merupakan salah satu cara untuk melawan kemiskinan,” kata Syuaib M Akiar selaku ketua PRD Palu dalam pernyataan sikapnya.

Sementara untuk persoalan di Peura, Poso, PRD meminta pihak Pemda untuk segera turun tangan dan membuat pertemuan multi-fihak guna mengatasi persoalan tersebut.

PRD juga mengecam penggunaan kekerasan dan intimidasi terhadap warga Peura saat menolak proyek pembangunan SUTET.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut