Babak Baru Skandal Bank Century

SEKIAN lama terpendam dalam panggung politik nasional, skandal Bank Century kembali mencuat ke permukaan. Ibarat peluru yang dapat dipergunakan kapan saja dan atas sasaran tertentu, skandal Bank Century pun kadang muncul pada situasi-situasi politik tertentu, dan setelah itu akan meredup lagi.

Kali ini, skandal bank Century “dinyanyikan” kembali oleh orang nomor satu di partai Golkar, yakni Aburizal Bakrie, saat melakukan silaturahmi di rumah kediaman Yusuf Kalla, Minggu (12/9/2010). Ini terbilang sebuah “gebrakan”, mengingat bahwa kasus Century tenggelam bersamaan dengan pendirian Sekretariat Gabungan (Setgab), dimana Aburizal Bakrie memainkan peranan “kunci” di situ.

Dikatakan “gebrakan” karena sebagian besar anggota pansus kini terdiam dalam sunyi, tidak ada lagi riuh perdebatan mengenai mega-skandal paska reformasi ini. Mereka yang dulu sangat vocal dan serius, kini mulai tutup mulut dan tutup buku.

Jika diperhatikan dengan seksama, ada tiga peristiwa politik yang sedikit-banyaknya mempengaruhi kemunculan kembali skandal bank century. Pertama, keputusan “heboh” KPK menetapkan 26 anggota DPR sebagai tersangka  dalam kasus cek perjalanan yang meloloskan Miranda Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia pada 2004.  Dalam kasus ini, Golkar dan PDIP menjadi partai yang paling banyak kadernya “terseret”.

Kedua, momentum pemilihan pimpinan baru Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang mana tahap sekarang tinggal menyisakan dua nama,  Bambang Widjojanto dan Busyro Muqoddas. Kedua nama ini, yang diakui integritasnya oleh sebagian publik kita, dapat dianggap mewakili “keberanian baru” untuk mengurai kembali benang kusut kasus century ini.

Ketiga, kemunculan isu “reshuffle kabinet”, yang disuarakan oleh Ahmad Mubarok, orang Demokrat yang dikenal dekat dengan SBY, disebut-sebut sebagai alat gertakan bagi partai-partai pendukung koalisi yang sedikit “bandel” kepada pemerintah.

Dalam keadaan demikian, ada banyak pihak menaruh “keraguan” bahwa pengusaha yang banyak dikecam karena menimbun beberapa desa dengan lumpur ini, benar-benar serius mau mengungkap skandal memalukan tersebut.

Boleh jadi, menurut anggapan sebagian orang tersebut, kasus bank century ini menjadi “peluru terakhir” Aburizal Bakrie, untuk membalas tindakan KPK yang telah memperkarakan banyak anggotanya dalam kasus “travel check”-miranda Gultom, ataukah sebagai alat untuk memasang bargain menghadapi reshuffle kabinet, supaya orang-orang Golkar di kabinet tetap aman atau malah tambah jatah.

Namun, terlepas dari “kecurigaan” yang sangat pantas itu dan memang benar adanya, kita berharap bahwa gelindingan ala Ical –sapaan akrab Aburizal Bakrie-ini benar-benar mendorong pimpinan baru KPK untuk membongkar skandal bank Century dan menyeret seluruh orang yang diduga pelakunya, baik yang berlindung di balik istana maupun yang bersembunyi di Washington, tempat Bank Dunia berkantor.

Apalagi, KPK baru-baru ini membuat ‘terapi kejut” dengan memenjarakan 26 orang anggota DPR, yang nilai suapnya mencapai Rp24 miliar, sementara skandal Bank Century merugikan negara sebesar Rp6,7 triliun. Ibarat kata pepatah “panas setahun dihapus oleh hujan sehari”, jika ternyata KPK terbukti melakukan “perlakuan berbeda” terhadap kedua kasus ini. “Kalau Bachtiar Hamzah bisa dipenjara karena pengadaan kain sarung, kenapa skandal Bank Century yang triliunan rupiah bisa dilupakan,” demikian perumpaan dari mantan Wakil Presiden Yusuf Kalla.

Ada yang mengatakan, separuh kebenaran masih lebih berbahaya dari seratus persen kebohongan. Setidaknya, jika ada usaha keras dan serius dari penegak hukum untuk membongkar kasus ini, rakyat Indonesia bisa sedikit bernafas lega dan tidak merasa sia-sia hidup di negeri tercinta ini. Sebab, sebuah negara yang berjalan di atas kebohongan, cepat atau lambat, hanya akan mencapai keruntuhan.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut