“Argo” Dan Revolusi Yang Terenggut

Di tengah berkecamuknya Revolusi Iran tahun 1979, ratusan mahasiswa pengikut garis Imam–Ayatollah Khomeini—mengambil alih Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Teheran. Itu terjadi tanggal 4 November 1979.

Kelompok mahasiswa ini menuntut agar pemerintah AS mengembalikan Shah Pahlevi ke Iran untuk diadili. Shah sendiri adalah diktator boneka imperialisme AS yang berkuasa di Iran selama tiga dekade. Ayatollah Khomeini sendiri menuding Kedubes AS telah menjalankan aktivitas mata-mata.

Dalam aksi pengambil-alihan Kedubes AS itu, mahasiswa menyandera 52 pejabat dan pekerja Kedubes. Penyanderaan itu berlangsung selama 444 hari.  Namun, ketika mahasiswa bersenjata itu menyerbu ke dalam Kedubes, 6 orang diplomat Kedubes lainnya berhasil kabur. Mereka kemudian ditampung di rumah kediaman Kedubes Kanada.

Tahun 2012 ini, aktor dan sekaligus sutradara film AS,  Ben Affleck, berusaha menyingkap operasi pembebasan ke-6 diplomat AS itu ke layar lebar. Lahirlah film berjudul “Argo”. Dalam film garapannya ini, Ben Affleck tampil memerankan tokoh utama film, Tony Mendez, anggota CIA yang mengomandoi proses pembebasan sandera itu.

Di AS sendiri, kasus penyanderaan itu mendorong pemerintahan Jimmy Carter ke dalam krisis. Berbagai upaya penyelamatan, termasuk militer, menemui kegagalan total. CIA pun dipanggil turun gunung untuk melakukan operasi terselubung untuk membawa keluar 6 diplomat AS tersebut.

Tony Mendez memikul tugas ini. Ia menciptakan strategi penyelamatan yang terbilang kocak: menyamar sebagai kru film asal Kanada. Maka diciptakanlah sebuah proyek film fiksi-ilmiah bohong-bohongan: Argo. Syuting film itu, salah satunya, berlokasi di Iran.

Mendez berangkat ke Iran dengan paspor Kanada. Sementara 6 diplomat itu disamarkan sebagai bagian dari kru film. Dengan dukungan dua orang Hollywood,  John Chambers dan Lester Siegel, rancangan film bohong-bohongan ini dimatangkan. Dan berhasil. Kementerian Kebudayaan Iran menyetujui proposal itu.

Begitulah, setelah melalui ketegangan, Mendez dan 6 diplomat AS berhasil mengelabui petugas Bandara. Juga mengelabui pasukan Garda Revolusi Iran di Bandara. Akhirnya, pada 28 Januari 1980, Mendez dan 6 diplomat berhasil keluar dari Iran.

Saya punya beberapa kritik terhadap film ini:

Pertama, film ini berusaha menggiring kesadaran kita untuk menerima aksi pembebasan 6 diplomat AS itu sebagai bentuk “perjuangan kemanusiaan” melawan teror dan kebringasan demonstran Iran. Ujung-ujungnya, ada bisa terjebak untuk memuji keberhasilan CIA membebaskan para sandera.

Sebaliknya, beberapa gambar dalam film itu terkesan sangat mendiskreditkan revolusi Iran: massa demonstran yang beringas, milisi bersenjata, orang yang digantung di atas eskavator, dan lain-lain. Menurut saya, kita harus jeli membedakan antara Revolusi dan teror yang diselenggarakan oleh rezim Ayatollah Khomeini.

Di film ini, teriakan-teriakan demonstran di jalanan hanya digambarkan sebagai ungkapan kosong; slogan dan teriakan-teriakan demonstran tidak diterjemahkan ke bahasa bahasa Inggris. Akibatnya, penonton tidak tahu apa tuntutan dari demonstran itu.

Kedua, ada hal kontradiktif di dalam film ini. Pada narasi awal diceritakan: pada tahun 1951, rakyat Iran memilih seorang nasionalis radikal Mohammed Mossadegh sebagai perdana menteri. Pada waktu berkuasa, Mossadegh menasionalisasi perusahaan minyak milik Inggris-Amerika. Gara-gara itu, pada tahun 1953, Inggris dan AS memprakarsai kudeta terhadap Mossadegh dan membentuk rezim boneka di bawah pimpinan Shah Pahlevi.

Shah Fahlevi sangat korup dan otoriter. Ia memagari kekuasaannya dengan pasukan kejam dan bengis, SAVAK. Penyair dan penulis Iran Reza Baraheni mengungkapkan, ribuan orang dieksekusi hanya dalam kurun waktu 23 tahun. Lebih dari 300.000 orang dipenjara hanya dalam kurun waktu 19 bulan. Rata-rata 1500 orang dipenjara tiap bulannya. Dan tentara Iran bersama SAVAK membantai 6000 rakyat saat protes 5 Juli 1963.

Namun, begitu kita masuk dalam filmnya hingga akhirnya, kita justru menemukan kesimpulan seolah-olah CIA sebagai pahlawan kemanusiaan. Ada kesan sutradara Ben Affleck mencoba merendahkan kemanusiaan kita: seakan-akan penyelamatan 6 diplomat dirayakan aksi kemanusian bersejarah, namun mengabaikan kejahatan AS—termasuk CIA didalamnya—dalam menyokong rezim diktator yang menyebabkan ribuan rakyat Iran tewas dan ratusan ribu orang dipenjara tanpa pengadilan. CIA sendiri terlibat dalam mendirikan dan melatih SAVAK.

Ketiga, sutradara Ben Affleck sangat tidak kritis dalam melihat aksi mahasiswa menyerbu Kedubes AS dan menyandera diplomat AS. Banyak penulis dan pengamat melihat aksi penyerbuan Kedubes AS itu sebagai manuver rezim fundamentalis Ayatollah Khomeini untuk mengkonsolidasikan kekuatannya dan melemahkan faksi-faksi politik oposisi.

Setelah kejadian itu, Khoemeni mulai membasmi faksi-faksi politik sekuler dan kiri karena dianggap tidak sejalan dengan Republik Islam. Saat itu, propaganda rezim paling gencar berbunyi: Jika kau tidak di sisi Republik Islam, berarti kau di sisi setan besar (AS) dan melawan Iran. Kelompok kiri Iran, termasuk partai Komunis (Tudeh), tidak berdaya melawan propaganda itu.

Dan sejarah kemudian memperlihatkan: Revolusi Iran itu menemui kegagalan. Rezim fundamentalis telah merenggut Revolusi itu untuk mengkonsolidasikan kekuasaan otoriarian hingga hari ini. Dan di sini kita teringat ucapan Karl Marx: Sejarah berulang–pertama sebagai tragedi, kemudian sebagai komedi.

Khaeruddin Al Ghifari

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut