Rafael Correa Ingin Memperdalam Revolusi Warga

Presiden Ekuador, Rafael Correa, yang mencetuskan ide 'Revolusi Kewargaan'.

Minggu, 17 Februari lalu, rakyat Ekuador masuk bilik suara untuk memilih Presiden. Dan hasilnya: kandidat petahana, Rafael Correa, mendapat mandat rakyat untuk kembali memimpin Ekuador. Ia meraih suara 58 persen, sedangkan pesaingnya, Guillermo Lasso, seorang bekas bankir, hanya meraih 24 persen.

Kemenangan itu sangat signifikan bagi Correa. Menurutnya, dukungan di atas 50 persen itu menandakan besarnya keinginan rakyat Ekuador untuk melanjutkan “Revolusi Warga”, yaitu sebuah revolusi yang dijalankan oleh rakyat biasa melawan melawan para elit, bankir, dan politisi korup di Ekuador.

Correa menjelaskan, revolusi warga ini akan mengubah struktur negeri borjuis, yang hanya melayani segelintir elit, menjadi “negara kerakyatan”. Bagi Correa, konsep revolusi warga ini sejalan dengan visi “sosialisme abad 21”.

Bahkan, senin (18/2), di hadapan para pendukungnya yang sudah berkumpul di Istana Kepresidenan, Rafael Correa menyatakan keinginannya untuk memperdalam proses revolusi warga itu. Terutama untuk tiga hal: pemberantasan kemiskinan, mengubah corak produksi, dan mengkonsolidasikan pemerintahan rakyat.

Janji Rafael Correa ini sudah tercetus lama. Pada kongres Alianza PAÍS (AP)—kendaraan politik yang mengusung Rafael Correa, pada 10-11 November 2012 lalu, Rafael Correa telah menekankan beberapa aspek penting dari Revolusi Warga, seperti mengubah struktur negara Ekuador dari neoliberal menjadi negara rakyat, merombak tatanan ekonomi Ekuador dari melayani IMF menjadi melayani rakyat, merombak cara berfikir dan mentalitas bangsa Ekuador, dan mendemokratiskan pengetahuan.

Namun, jika melihat sosok Wakil Presiden yang digandeng Correa, Jorge Glas, yang berlatar-belakang teknokrat, kelihatannya Correa masih akan berkonsentrasi pada pembangunan ekonomi. Sekarang ini Ekuador terus berjuang untuk membangun kapasitasnya di bidang produksi minyak, sumber energi, air, listrik, teknologi informasi dan telekomunikasi.

Transformasi ekonomi ini memang krusial. Begitu berkuasa, langkah awal Correa adalah membatasi impor barang konsumsi dan menaikkan tarif impor untuk barang-barang mewah. Kebijakan ini dimaksudkan untuk memberi nilai tambah bagi produksi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan.

Minyak merupakan sumber pendapatan utama Ekuador. Dengan harga minyak yang terus meroket, pemerintahan Correa punya anggaran yang cukup untuk menopang investasi sosial. Saat ini investasi sosial di Ekuador mencapai 15,3 persen dari PDB dan direncanakan naik menjadi 16,6 persen dari PDB pada tahun 2013 ini.

Menurut Sekretarian Nasional untuk Perencanaan Pembangunan, investasi sosial dan publik di Ekuador telah meningkat enam kali lipat dalam kurun waktu enam tahun terakhir. Sekarang ini posisinya sudah 6,29 juta dollar.

Pimpinan AP sendiri sudah menekankan bahwa prioritas untuk pembangunan empat tahun kedepan adalah menggeser relasi kekuasaan politik agar lebih memihak mayoritas melalui kebijakan ekonomi yang solid, dengan mempromosikan pembangunan sosial, tanpa menapikan efisiensi.

Correa sendiri berjanji akan mendorong transformasi sosial radikal untuk mengubur “partocracy”—kekuasaan yang terletak hanya di tangan segelintir partai atau elit politik. Correa yakin, dengan dukungan besar yang diraihnya, termasuk mayoritas di parlemen, akan memudahkannya menggolkan sejumlah proyek progressif yang tertunda di parlemen sebelumnya.

Anggota parlemen dari partai AP, Virgilio Hernández, menyampaikan kepada IPS News, bahwa tugas besar kedepan adalah membangun “Ekuador pasca minyak”—atau tidak bergantung pada minyak—dan meninggalkan model ekonomi ekspor berbasis bahan mentah atau komoditi.

Ia menyakinkan, konsep revolusi warga kedepan akan mengarah pada reforma agraria radikal, yang akan disertai dengan kredit dan teknologi kepada petani, untuk menjamin kedaulatan pangan. Ia juga menekankan supaya negara terus memastikan redistribusi kekayaan supaya terbangun kesetaraan dan keadilan sosial.

Revolusi sudah terlanjur digulirkan. Dan, seperti pernah dikatakan Bung Karno, revolusi tidak mengenal jalan mundur. Artinya, dalam empat tahun kedepan, Rafael Correa dituntut melakukan perubahan dan perombakan yang jauh lebih radikal dan mendalam dibanding sebelumnya.

Raymond Samuel    

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut