Apa jadinya bila tak ada nyamuk?

Para penghuni dusun berkumpul di alun-alun rimba. Semuanya bintang. Mereka memperbincangkan kedatangan makhluk baru di dusun itu. Heboh…

Burung berkata: Tadi menjelang fajar, aku melihat dua makhluk asing. Mereka tidak pernah kulihat sebelumnya. Tadi itu untuk yang pertamakali.

Ayam jantan menyambar, “Betul. Aku juga melihat. Tadi sewaktu aku berkokok membangunkan seisi bumi, dua makhluk itu tiba-tiba hadir layaknya tamu tak diundang.”

“Aku juga melihat.”

“Aku juga.”

“Me too…”

“Mereka berkaki dua…”

“Bertangan dua…”

“Punya mata dua…”

“Yang satu berambut panjang…”

“Yang satu berambut sebahu…”

“Yang satu ada jendolan di dadanya…”

Para binatang saling bersahutan. Suasana riuh rendah.

“Yang satu puya belalai,” kata gajah menyela. Sontak semua mata tertuju padanya. Sadar menjadi pusat perhatian gajah melanjutkan pendapatnya, “ya, sama sepertiku. Yang satu punya belalai. Tapi tidak sepanjang belalaiku. Dan belalainya juga bukan dihidung, melainkan di pangkal kakinya.”

Para hadirin manggut-manggut. Belajar mamahami keadaan dibalik kebingungan.

***

Waktu terus berjalan. Siang berganti malam. Malam berganti siang. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun, ber…ber…ber…

Alam masih alam yang dulu. Hanya saja penghuninya bertambah. Dua makhluk yang dianggap asing itu, tak lagi asing. Mereka sudah saling kenal. Para binatang bersepakat menamai makhluk itu; MANUSIA.

Konon ceritanya, dua manusia ini pandai sekali bercerita. Setiap bulan purnama, para binatang berkumpul di alun-alun dusun hanya untuk mendengarkan kisah yang dituturkan dua manusia itu secara berganti-gantian.

Manusia itu pernah bercerita bahwa mereka berasal dari sebuah tempat yang bernama sorga. Tempatnya begini, tempatnya begitu… indah…indah…dan indah. Jauh lebih indah dari dusun tempat kini mereka tinggal.

Tiap bulan purnama, tiap manusia berbagi cerita, tiap itu pula para binatang dibuai lamunan. Mereka mengkhayal betapa indah kehidupan di negeri asal manusia tersebut.

“Bagaimana cara kita bisa ke negeri asalmu itu?” para binatang bertanya-tanya.

Lalu manusia itu menjabarkan banyak hal mengenai aturan main. Sadar ataupun tidak, aturan-aturan itulah yang membuat manusia menjadi penguasa dusun. Semua makhluk tunduk padanya. O…tunggu dulu, ada juga yang membangkang. Tentang si pembangkang ini, nantilah kita ceritakan…

***

Sebagai makhluk yang punya indera perasa, dua manusia ini tentu merasakan dingin di malam hari dan panas di siang terik. Mereka menggunakan dedaunan sebagai pelindung tubuh. Waktu terus berjalan. Dedaunan berganti kulit kayu, dan kulit kayu berganti kulit binatang yang baru saja mati. Kini, mereka sudah tahu cara menggunakan batu untuk alat potong.

Kulit binatang ini lama kelamaan kotor dan bau. Tentu mereka harus keliling dusun untuk mencari binatang mati dan memotong-motong kulitnya untuk dijadikan pakaian sesuai pola yang diinginkan. Jadi, mereka perancang busana pertama di dunia.

Terus begitu. Bertahun-tahun lamanya. Pekerjaan memotong kulit bintang ini jangan dikira pekerjaan mudah. Berhari-hari waktu yang dihabiskan. Sehingga kemudian pekerjaan yang memakan waktu itu mereka tinggalkan begitu manusia yang punya jendolan di dadanya menemukan ide segar.

“Bagaimana kalau kulit ini kita cuci. Jadi tak perlu lagi menghabiskan waktu mencari binatang mati dan tak perlu buang-buang waktu untuk memotongnya,” katanya manusia berbuah dada.

“Wah, apa mungkin?” si empunya belalai bertanya-tanya.

“Kita coba saja…”

“Yuk, kemon…….”

Pagi itu lembab. Awan hitam bergelantung. Mendung. Setelah mencuci, dua manusia itu kebingungan bagaimana cara mengeringkan. Tak ada tiang jemuran.

“Bagaimana ini?” tanya Si Belalai sembari memegang pakaian kulit made in tangan sendiri.

“Dipegangin aja,” sahut Si Jendol.

Masih lembab. Matahari sudah berada di puncak kepala. Tapi awan hitam masih menggelantung. Mendung. Dan mendung, memang tak berarti hujan. Itu pakaian belum juga kering.

“Masak dipegangin terus. Lama-lama pegal juga nih…” Si Belalai menggerutu.

“Sabar…”

“Sabar…sabar…sabar…”

“Aku sebenarnya juga pegel,” ujar si Jendol.

“Inikan tadi idemu…”

“Tenang aku ada ide baru…”

“Wah, coba ungkapkan…” Si Belalai mendesak.

“Kan kamu punya itu,” Si Jendol menunjuk belalai lawan bicaranya.

“Lalu…?”

“Dan sejajar dengan anu-mu itu, aku punya lobang di sini,” Si Jendol menunjuk ke arah pusernya. “Bagaimana kalau kita sangkutkan anu-mu itu di sini. Dan kita jemur jemur di sini. Jadi tak perlu dipegangi, kan jadi nggak pegel tuh,” sambungnya.

“Idemu memang selalu cemerlang,” Si Belalai memuji.

Matahari kini sudah mulai condong ke Barat. Dan masih alam masih lembab. Masih mendung. Dan mendung memang tak berarti hujan. Akan tetapi itu pakaian kulit belum juga kering.

Mereka masih dalam posisi berhadap-hadapan. Tiba-tiba saja…sraaaaak! Pakaian kulit itu jatuh. Siapa pula yang tahan berdiri diam lama-lama dalam posisi yang tak berubah. Sedikit goyangan saja, pakaian itu jatuh ke tanag dan kotor lagi.

“Wah, cantelannya tidak begitu kuat. Lobangnya pendek sih…” Si Jendol berkilah seraya meraba-raba perutnya. Sejurus kemudian Si Jendol menyadari bahwa ada lubang lain selain yang di perut itu untuk dijadikan cantelan jemuran.

“Kayaknya kita harus coba lagi. Bereksperimen kita. Tak boleh pasrah dan menyarah. Kegagalan ini harus dijadikan pelajaran. Coba sini belalaimu,” kata Si Jendol meraih anu-nya si belalai dan menyangkutkan ke lubang di bawah puser perutnya.

“Kayaknya ini lebih nyaman.”

“Iya lebih tersangkut…”

Dan Matahari kini sudah berpulang ke peraduan. Langit benar-benar gelap. Kendati mendung, tak ada hujan hari itu. Mendung memang tak berarti hujan!

“Wah, sudah malam nih,” kata Si Belalai.

“Tapi pakaian kita belum kering. Masak harus berburu binatang mati kita malam ini. Masak harus memotong-motong kulit, kita malam ini. Kita tunggu saja ini kering. Kan eksperimen. Kalau ini berhasil, ini untuk masa depan kita juga. Ini akan memudahkan kita ke depannya.”

“Okelah kalau begitu…”

Seperti biasanya, malam hari kawanan nyamuk mulai keluar sarang melakukan perburuan. Mereka haus darah.
Satu persatu nyamuk berdatangan menggigit pantat Si Belalai maupun pantat Si Jendol. “Darah segar nih,” pikir nyamuk. “Mhhh… lezaaaaaaaaaaattttttt…”

Berkali-kali Si Belalai menepuk-nepuk nyamuk di pantatnya . Hal serupa juga dilakukan si Jendol. Tanpa disadari anu-nya Si Belalai masuk semakin dalam ke anunya Si Jendol. Karena kedalaman, ditarik lagi keluar sedikit, agar tidak menganggu jemuran yang belum kering. Begitu terus, berkali-kali…

“Mhhh… enak juga…” gumam Si Jendol dalam hati. Dia betul-betul menikmatinya. Lain lagi dengan Si Belalai, dia tak merasakan apa-apa. Sementara Si Jendol sudah merem melek…

Pendek cerita, eksperimen itu berhasil. Pakaian kulit itu kering dan bisa digunakan lagi. Pada bagian lain, Si Jendol jadi kecanduan mencuci.

“Nyuci lagi yuk…” ajak Jendol.

“Yuk kemon…” sahut Si Belalai penuh semangat. Rupanya dia juga sudah tahu betapa nikmatnya aktivitas setelah mencuci. Pasang jemuran ciiiiiiiingggggggg!

Semenjak sering-sering mencuci, Jendolan di tubuh Si Jendol bertambah. Dia hamil. Mereka beranak pinak. Anak beranak, kawin beranak. Anak beranak lagi, kawin beranak…

“Gara-gara nyamuk nih…”

“Makanya kita berhutang budi pada nyamuk.”

Makanya kemudian hari, sebagai balas budi pada nyamuk, untuk membunuh nyamuk para manusia bersepakat menamainya obat nyamuk. Berbeda dengan tikus, untuk membunuh tikus, racun tikus!

“Apa jadinya bila tak ada nyamuk…”

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • kusno

    sampah!

  • Tari Adinda

    Lucu sich…tapi sepertinya ada bagian yang tidak masuk akal…