“Aji Mumpung” Antusiasme Rakyat

Dalam kejuaraan Federasi Sepakbola ASEAN tahun 2010 ini, antusiasme masyarakat Indonesia untuk menyaksikan dan memberi dukungan kepada Tim Nasional tampak luar biasa. Atau, paling tidak, atmosfer pemberitaan media telah ‘mendorong’ banyak orang yang bukan penggemar bola menjadi ingin tahu, atau mengikuti, perkembangan bola; analisa-analisanya, bintang-bintangnya, dan sebagainya. Antusiasme tersebut positif, karena membuktikan masyarakat Indonesia masih punya kehendak yang sama untuk kebaikan negerinya. Namun rakyat patut waspada terhadap kelihaian penguasa memanfaatkan momentum ini. Keadaan ini telah sengaja didorong oleh pemberitaan media dalam skala yang besar dan mencolok. Sementara persoalan-persoalan kehidupan rakyat tetap terus menghampiri, dari kenaikan harga barang kebutuhan, sekolah dan rumah sakit mahal, lapangan pekerjaan yang terbatas, upah murah, kelangkaan pupuk, dan lain-lain.

Pemerintahan SBY-Boediono, memanfaatkan euforia ini dengan ‘ilmu’ aji mumpung dalam jurus multi-wajah. Di satu sisi menampilkan wajah seolah ‘sangat nasionalis’ dan ‘sangat peduli’ pada perjuangan para pemain dan official timnas. Sampai-sampai presiden dan para pejabatnya harus berulangkali mengeluarkan pernyataan yang terkait topik ini, jauh lebih sering dibanding membuat pernyataan tentang upah minimum buruh, kekayaan alam dan manusia Indonesia yang dijarah korporasi, janji pemberantasan korupsi, atau tentang harga cabe yang melambung tinggi di pasar-pasar. Seorang Presiden sampai ‘harus’ mengintervensi harga penjualan tiket pertandingan, kemudian beberapa kali mengunjungi timnas, dan menanyakan (hanya menanyakan!) detail-detail kebutuhan timnas yang sedang menjadi pujaan bangsa tersebut.

Di sisi lain, pemerintah terus mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada kepentingan nasional. Contoh terakhir adalah rencana kenaikan harga BBM mulai awal tahun 2011 yang akan menjadi lahan keuntungan bagi perusahaan-perusahaan distribusi minyak asing (Shell, Total, Petronas, dll). Sampai di sini ‘ke-nasionalis-an’ presiden dan pejabat-pejabat yang hadir menyaksikan tiap pertandingan dari Royal Box stadion utama Glora Bung Karno patut dipertanyakan.

Sementara antusiasme masyarakat dimanfaatkan pula oleh PSSI untuk menaikkan harga penjualan tiket. Harga tiket untuk kategori II (di belakang gawang) mengalami kenaikan dari 75 ribu (di babak penyisihan) menjadi 150 ribu (di babak final). Tiket untuk duduk di tribun VIP Timur naik dari 100 ribu menjadi 350 ribu, VIP Barat naik dari 250 ribu menjadi 500 ribu, dan tribun VVIP naik dari 500 ribu menjadi satu juta rupiah. Bahkan untuk kategori III (tribun atas) yang biasanya (pada setiap pertandingan) tetap dijual 50 ribu rupiah sempat dinaikkan menjadi 75 ribu rupiah. Karena kuatnya tuntutan masyarakat (bukan karena permintaan presiden SBY yang muncul belakangan) akhirnya PSSI menurunkan harga tiket kategori III tersebut kembali menjadi 50 ribu rupiah.

Jurus aji mumpung dalam suasana euforia ini tampaknya ampuh. Yang pertama (oleh pemerintah) untuk menutupi kebijakan-kebijakannya yang semakin menguntungkan modal asing dan di sisi lain menyusahkan rakyat, Sedangkan yang kedua (oleh PSSI) untuk meraup untung yang sebesar-besarnya dari bisnis penjualan tiket dan bisnis lainnya. Hal yang sama dari keduanya adalah terjadi akumulasi keuntungan ekonomi dan politik sekaligus. Semua masih untuk kapital! Oleh karena itu, dukungan kepada Timnas saat ini jangan sampai tenggelam dalam euforia, sehingga kita kehilangan daya kritis terhadap kenyataan sosial yang timpang.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut