Aktivis PRD Dijatuhi Vonis 16 Tahun Penjara

Ridwan.jpg

Selasa, 29 April lalu, dua aktivis gerakan rakyat dari Pulau Padang, Kepulauan Meranti, Riau, dijatuhi hukuman penjara cukup lama oleh Pengadilan Negeri Bengkalis.

Muhammad Ridwan, kader Partai Rakyat Demokratik (PRD) di Pulau Padang, Kepulauan Meranti, Riau, dijatuhi hukuman penjara selama 16 tahun tanpa potong masa tahanan. Sedangkan Yanas, aktivis Serikat Tani Riau (STR), dijatuhi hukuman penjara selama 14 tahun.

Majelis Hakim dalam persidangan tersebut menilai, Ridwan dan Yanas terbukti secara sah dan meyakinkan turut serta secara bersama-sama dalam melancarkan aksi membakar dan membunuh operator Eskavator PT. Riaun Andalan Pulp and Paper (RAPP), Chodirin.

Menurut Ketua Majelis Hakim persidangan ini, Sarah Louis Simanjuntak, Muhammad Ridwan terbukti telah melanggar Pasal 340 Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana tentang pembunuhan berencana.

“M. Ridwan Bin Hasan ini sebagai terdakwa pembunuhan berencana ini, majlis hakim menjatuhkan hukuman 16 tahun penjara ditambah membayar ongkos perkara sebesar Rp5.000 (lima ribu rupiah) telah dikenakan Primair Pasal 340 KUHP jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP, sebab terbukti bersalah dan meyakinkan atas pembunuhan berencana tersebut, ” kata Ketua Majelis Hakim, Sarah Louis Simanjuntak, saat sidang pembacaan vonis, Kamis (29/4).

Menurut Majelis Hakim, pada saat kejadian berlangsung, yakni pada tanggal 13 Juli 2011, Muhammad Ridwan selaku Ketua Umum STR tidak berusaha mencegah anggotanya untuk melakukan pembakaran dan pembunuhan terhadap operator eskavator PT. RAPP tersebut.

Menanggapi keputusan pengadilan tersebut, Muhammad Ridwan dan penasehat hukumnya, Dahlian, S.Ip, SH, menyatakan masih akan pikir-pikir dulu. Dalam proses persidangan ini, selain dihadiri oleh orang tua dan keluarga Ridwan, puluhan anggota kepolisian melakukan pengawalan.

Sebelumnya, pada tanggal 15 April 2014 lalu, Ridwan melalui penasehat hukumnya membacaan nota pembelaan (Pledoi). Dalam pledoi tersebut, Ridwan menyatakan bahwa kasus pembakaran dan pembunuhan eskavator tersebut bukan kasus yang berdiri sendiri.

Menurut dia, kasus tersebut tidak terlepas dari kebijakan pemerintah, yakni SK Menteri Kehutanan nomor 327 tahun 2009 yang memberi ijin HTI kepada PT. RAPP, yang menyulut konflik dengan masyarakat Pulau Padang.

Bagi masyaraka Pulau Padang, kehadiran PT. RAPP akan menyebabkan bencana ekologis di pulau tersebut, mulai dari pembabatan hutan hingga ancaman tenggelamnya pulau tersebut akibat pembukaan lahan gambut oleh perusahan tersebut.

Tak hanya itu, hutan di Pulau Padang sudah menjadi tempat menggantungkan hidup bagi mayoritas masyarakat Pulau Padang. Sudah begitu, kehadiran PT. RAPP berpotensi merampas atau menyerobot lahan milik masyarakat.

Inilah yang memicu perlawanan masyarakat Pulau Padang terhadap masuknya PT. RAPP. Berbagai bentuk perlawanan pun dilakukan, mulai dari aksi massa, aksi pendudukan, hingga aksi jahit mulut. Aksi itu juga tak hanya dilakukan di Pulau Padang dan Pekanbaru, tetapi juga di Jakarta. Sayang, pemerintah tidak merespon aspirasi warga Pulau Padang tersebut.

Hingga, pada suatu hari di bulan Juli 2011, di tengah kekecewaan warga atas bungkamnya pemerintah, seorang warga bernama M Toyib mengusulkan perlunya menggelar aksi lebih radikal dibanding sebelumnya guna menghentikan operasional PT. RAPP.

Saat itu, M Toyib mengusulkan bentuk aksi radikal itu adalah pembakaran eskavator dan pembunuhan terhadap operatornya. Dan, bak gayung bersambut, usulan Toyib itu disetujui oleh warga. Namun, keputusan itu justru memposisikan Muhammad Ridwan selaku Ketum STR dalam posisi sulit. Dalam hati-kecilnya Ridwan tidak menyetujui tindakan tersebut. Apalagi, dia sadar, bahwa tindakan itu bisa menodai dan menghancurkan perjuangannya. Namun, apa daya, ia tak punya kuasa menghentikannya.

Hingga terjadilah kejadian itu. Selaku pimpinan organisasi, Ridwan dianggap bertanggung-jawab atas tindakan anggotanya itu. Hal itulah yang mengantarkan Ridwan menjadi penghuni jeruji besi selama 16 tahun kedepan.

Namun, karena merasa yakin di pihak yang benar, Ridwan tidak menyerah. Dari balik dinding penjara ia tetap akan menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan dan kesewenangan-wenangan. Termasuk terhadap keserakahan korporasi yang hendak melumat kampung halamannya.

Ulfa Ilyas

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Alfian Huang

    Tetap semangat dan jangan menyerah pak ! Revolusi nasional belum selesai !

  • Bima Muhammad Iqbal Nhaq

    saya sangat terang betul melihat perampasan hak rakyat di kepulauan meranti, setiap harinya puluhan kapal tongkang pengangkut akasia lalu lalang di perairan meranti, garis pantai mulai mundur dan lama kelamaan pulau akan hilang

  • Agit

    Selamat berjuang kawan lama,walaupun kalian sempat memperalat dan menyandra saya.tp saya selalu mendukung perjuangan kalian.Pulau padang akan selalu menjadi kenangan 10hari yg tak akan terlupakan bagiku. -Kawan lamamu dari Bandung