Aktivis Gerakan Rakyat Maju Di Pilkada Kabupaten Sigi

Di tengah hiruk-pikuk penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), yang dijadwalkan berlangsung pada bulan Desember 2015, ada seorang aktivis gerakan rakyat yang turut bertarung.

Dia adalah Aristan. Pria kelahiran Kayumalue, Palu Utara, 2 April 1969 ini akan maju sebagai Calon Bupati (Cabup) di Pilkada Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Dia akan diusung oleh partai Nasional-Demokrat (NasDem).

Ketua Partai NasDem Sulteng, Ahmad Ali, sudah menegaskan sikap partai NasDem untuk mengusung Aristan. “Lewat kesempatan ini saya secara resmi meminta izin kepada teman-teman aktivis pergerakan di Sulawesi Tengah dan Indonesia untuk mencalonkan Sdr Aristan sebagai calon Bupati Sigi,” tulis Ahmad Ali dalam siaran persnya, Minggu (25/1/2015), seperti dikutip Metrosulawesi.com.

Ahmad Ali mengaku, keputusannya mencalonkan Aristan sebagai Cabup merupakan bentuk penghargaan dirinya atas konsistensi Aristan dalam menyuarakan hak-hak rakyat tertindas. “Dan Aristan tidak sekedar mewakili partai, tapi mewakili teman-teman aktivis pergerakan di Sulteng dan Indonesia,” kata Ahmad Ali.

Namun, dukungan untuk Aristan bukan hanya datang dari NasDem, tetapi juga dari aktivis dan organisasi pergerakan di Sulteng. Tidak ketinggalan, rakyat dari desa-desa—yang pernah diadvokasi atau bersentuhan dengan Aristan—juga datang berbondong-bondong untuk memberikan dukungan politik.

Kini, berbagai dukungan itu telah diwadahai dalam berbagai organisasi relawan, seperti Relawan Aristan (LARIS), Bersama Aristan (Beras), SMS (Sigi Menuju Sejahtera) Aristan), dan Relawan ASPURA (Aristan Puramo Kita).

Rekam Jejak Perjuangan

Semangat aktivisme untuk membela kemanusiaan sudah membentuk pribadi Aristan sejak kecil. Ayahnya, seorang guru sekolah dasar, membekalinya dengan banyak nasehat yang menebalkan prinsip hidup sekaligus memperkaya rasa kemanusiaannya.

“Kalian tak boleh mengambil dan menikmati yang bukan milik dan hak kalian,” itulah salah satu pesan ayah Aristan yang dipegangnya kuat-kuat hingga hari ini.

Di tahun 1984, ketika masih mengejar ilmu di Sekolah Pertanian Menengah Atas, Aristan mulai keluar-masuk desa dan kampung-kampung. Ia mulai bersentuhan dengan warna-warni kehidupan rakyat di desa-desa. Termasuk melihat langsung berbagai penindasan yang ditimpakan terhadap rakyat di desa-desa.

Tahun 1987, Aristan melanjutkan studi di Fakultas Pertanian Universitas Tadulako (Untad). Selain aktif di ruang perkuliahan, dia juga bergabung dengan organisasi mahasiswa pencinta alam. Ia pernah ditunjuk sebagai pengurus Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) tingkat universitas di kampusnya.

Dengan Mapala, Aristan makin rajin ke desa-desa. Termasuk ke Kabupaten Sigi. Di sana ia bertemu dengan banyak praktek ketidakadilan yang melilit rakyat desa, khususnya petani. Di tahun 1993-94, ia terlibat dalam pembelaan hak-hak rakyat di lembah Sigi, khususnya di  desa Porame dan Bobo.

“Dari situlah pemahaman saya tentang Sigi mulai tumbuh, sampai pada akhirnya menjadi aktivis lingkungan, hingga menjadi ketua Wahana Lingkungan Hidup Sulawesi Tengah,” kenang Aristan.

Di tahun 1996, bersama dengan M. Ridha Saleh, Aristan dilantik menjadi calon anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD). Ia kemudian mendapat penugasan untuk bekerja memperluas partai secara semi-legal hingga dilantik menjadi anggota.

Tahun 2007, Aristan menjabat Ketua DPD Partai Persatuan Pembebasan Nasional (Papernas) Sulawesi Tengah. Papernas adalah alat politik yang dibentuk oleh PRD dan sejumlah ormas pergerakan untuk merespon pemilu 2009. Kemudian, dari tahun 2010-2013, Aristan ditunjuk sebagai Koordinator Deputi Politik Komite Pimpinan Wilayah Partai Rakyat Demokratik (KPW PRD) Sulawesi Tengah.

Selain itu, Aristan juga pernah menjadi Direktur Daerah Wahanan Lingkungan Hidup (WALHI) periode 1996-1999, Pengurus Yayasan Pendidikan Rakyat (YPR) periode 1999 – 2000, Pengurus Yayasan Merah Putih Palu periode 2000 – 2003, Koordinator Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) tahun 2000, Dewan Nasional WALHI periode 2000-2004, dan Ketua Persatuan Rakyat Miskin Sulawesi Tengah (PRMST) tahun 2004.

Saat ini, Aristan sedang berkiprah di Partai Nasdem. Di partai yang mengusung gagasan “rertorasi Indonesia” ini, Aristan menjabat sebagai Ketua Harian Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) NasDem Sulteng.

Dikenal Sederhana

Aristan memegang teguh pesan orang tuanya: hidup sederhana. Ternyata prinsip hidup ini diterapkannya juga saat membangun keluarga bersama istrinya, Rusmin Binti Siko Bin Hasa Bin Hambibi Potandi.

Keduanya bertemu saat masih belajar di Untad. Keduanya juga punya hobi yang sama: pencinta alam. Pasangan ini kini dikarunia dua orang putera, yaitu Urib Arya Ruista dan Hanif Gafur Muthahari.

Kendati berkali-kali menjadi petinggi organisasi, bahkan Direktur LSM seperti Walhi, Aristan tetap hidup sederhana. Untuk menopang ekonomi keluarganya, istrinya berjualan kue. Sekarang pun, di sela-sela kesibukannya, Aristan beternak kambing. Dia sendiri yang mengurus kambing-kambing tersebut.

Itulah Aristan. Manusia langka dalam dunia politik. Ia memilih memeras keringat untuk menopang ekonomi keluarga dan membiayai pendidikan anak-anaknya. Ia menampik jalan kebanyakan politisi Indonesia hari ini: hidup dari berpolitik!

Memenangkan Kekuasaan Rakyat

Ini bukan kali pertama Aristan turut bertarung di Pilkada. Sebelumnya, di tahun 2008, berbekal dukungan 39 organisasi rakyat, ia maju sebagai Calon Bupati Kabupaten Donggala dari jalur independen. Saat itu Sigi masih menjadi bagian dari Kabupaten Donggala.

Dukungan rakyat mengalir deras. Sayang, ia diganjal di KPU Donggala. Pihak KPU Donggala menuding, sebagian KTP yang dikumpulkan oleh pendukungnya dari masyarakat, sebagai prasyarat untuk maju sebagai calon independen, dianggap ganda.

Tetapi Aristan tidak menyerah. Kali ini ia mendapat mandat dari partai NasDem untuk maju di Pilkada Sigi. Yang lebih penting, dukungan gerakan rakyat dan masyarakat luas sangat kuat di belakangnya.

Keputusan Aristan untuk maju di Pilkada bukanlah karena ambisi politik pribadi. Sebaliknya, ia maju di Pilkada sebagai representasi gerakan rakyat untuk memajukan kepentingan rakyat. Baginya, politik adalah soal bagaimana menggunakan kekuasaan untuk kepentingan umum atau rakyat banyak.

Ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD) Sulteng, Adi Priyanto, menilai pencalonan Aristan sebagai peluang bagi gerakan rakyat untuk merebut kekuasaan lokal. “Ini adalah peluang untuk membangun pemerintahan kerakyatan di tingkat lokal untuk mengatasi persoalan rakyat di tingkat lokal,” ujarnya.

Menurutnya, dengan berbekal pengalaman sebagai aktivis gerakan rakyat dan bersentuhan dengan berbagai persoalan rakyat, Aristan mengenal persoalan rakyat di Sigi lebih mendalam dan tahu cara terbaik untuk mengatasinya.

Hal senada juga disampaikan oleh Arianto Sangaji, kawan seperjuangan Aristan yang pernah memimpin Yayasan Tanah Merdeka (YTM). Menurut dia, ketika mencalonkan diri sebagai Bupati di Sigi, daerah dengan mayoritas penduduknya hidup bergantung dari sektor pertanian, Aristan sangat mengerti dengan baik problem-problem konkrit yang dihadapi para petani dan keluarga mereka, dan apa yang harus dilakukan untuk keluar dari soal-soal itu.

“Dengan telah menghabiskan sebagian besar usianya bekerja di daerah itu, Aristan sangat mengerti soal-soal di Sigi,” ujarnya.

Menuju Kabupaten Sigi Yang ‘Dahsyat’

Kabupaten Sigi memiliki luas 5.196, 02 Km2, yang meliputi 15  Kecamatan  dan  156  Desa. Jumlah penduduknya mencapai 214.137 jiwa (BPS, 2010). Sebagian besar penduduknya hidup dari sektor agraria, terutama pertanian.

Sayang, kendati kaya dengan potensi sumber daya alam, tapi 20 persen penduduk Sigi terjerembab dalam kemiskinan. Meskipun tanahnya luas, tapi banyak warga yang bekerja sebagai buruh-tani. Tidak hanya itu, tekanan ekonomi juga memaksa sebagian warganya untuk mencari penghidupan dengan menjadi buruh migran di luar negeri.

Situasi itulah yang membuat Aristan bergerak. Ia ingin membangun Sigi berbasiskan partisipasi rakyatnya, yang berbasiskan pada perserikatan-perserikatan adat dan forum-forum petani dan pemuda yang tersebar di 156 desa dan 15 Kecamatan.

Ia pun mengusung konsep pembangunan yang disebut “Mombangu Alima”, yang diadopsi dari falsafah dan tata hidup masyarakat Sigi yang mengutamaka kerja bersama-sama alias gotong-royong.

Visi Aristan adalah membangun “Pemerintahan Kabupaten Sigi Yang Dahsyat”, yaitu pemerintahan yang berbasiskan pada lima cita-cita besar, yakni damai, adil, hijau, sejahtera, dan merakyat.

Untuk mencapai visi itu, ia mempromosikan pengelolaan sumber daya alam yang berbasiskan keadilan sosial dan berkelanjutan. Dia akan mengembangkan sistim perhutanan sosial, dimana pengelolaan hutan tidak terlepas dari fungsi sosial dan ekologisnya.

Dia juga memperjuangkan kesejahteraan rakyatnya melalui pemenuhan hak-hak manusia yang sifatnya mendasar, seperti pendidikan, kesehatan, lapangan pekerjaan, dan lain-lain. “Saya bercita-cita kedepan Kabupaten Sigi bisa jadi daerah pendidikan dengan pembangunan SMP dan SMA berasrama bagi daerah terpencil,” ujarnya.

Dia juga memperjuangkan Kabupaten Sigi Sigi sebagai Kabupaten penghasil pangan sebagai industrialisasi pedesaan dan penguatan koperasi sebagai sokoguru ekonomi kerakyatan. Lainnya, dia akan mendorong pengorganisasian produksi berbasis keadilan agraria lewat pembentukan Lembaga Keuangan Mikro, Koperasi Bank Perkreditan Rakyat (KBPR) di Kabupaten, Koperasi Simpan Pinjam (KSP)/Usaha Simpan Pinjam (USP) di Kecamatan, dan Tempat Pelayanan Kegiatan (TPK) di Perdesaan.

 ‘Nanjayo’ Ke Kampung-Kampung

Untuk memenangkan pertarungan politik, setiap kandidat harus meraih dukungan rakyat. Ini bukan perkara gampang. Selama ini, para politisi tradisional mengandalkan gaya lama, seperti menyebar baliho dan spanduk, bagi-bagi uang, dan menebar janji-janji kosong.

Aristan memilih gaya baru. Salah satu strategi kampanye Aristan adalah Nanjayo atau berkunjung ke kampung-kampung atau basis rakyat. Atau, merujuk pengistilahan sekarang: blusukan atau turun ke bawah ke tengah-tengah rakyat.

Dengan cara itu, ia bisa menyerap berbagai keluhan dan aspirasi masyarakat. Tidak hanya itu, ia juga makin mengenal keadaan dan persoalan konkret yang dihadapi oleh rakyat di Kabupaten Sigi. Sekalipun, jauh sebelum proses pencalonan ini, Aristan sudah banyak bersentuhan dengan rakyat Sigi.

Ia juga mengedepankan pendidikan dan penyadaran politik. Setiap pertemuan dengan warga selalu dimanfaatkannya untuk berdiskusi dan membuka jalan pikiran mereka agar mengertik dengan keadaan politik negeri ini.

Kedepan, Aristan dan organisasi relawannya berencana menggelar rapat-rapat akbar tingkat kecamatan. Tidak hanya itu, ia dan relawannya berusaha menghidupkan forum-forum desa sebagai ruang untuk mendorong warga desa mengartikulasikan aspirasi sosial-ekonomi dan politiknya.

Selamat berjuang, Bung Aristan!

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut