Demonstrasi Setahun SBY-Budiono Di Jakarta

JAKARTA: Ribuan massa turun ke jalan-jalan di Jakarta untuk merespon setahun umur pemerintahan SBY-Budiono yang dianggap telah gagal menjalankan mandat seluruh rakyat Indonesia.

Sebagian besar massa tertumpah di depan istana negara, di Jalan Medan Merdeka Utara, yang melibatkan berbagai kelompok dan organisasi gerakan rakyat, seperti serikat buruh, mahasiswa, kaum miskin perkotaan, organisasi petani, dan pemuda.

Salah satu kelompok, yaitu Persatuan Oposisi Nasional, memulai aksinya di depan stasiun gambir dan berjalan kaki menuju istana negara dengan membawa seribuan lebih massa.

Aliansi ini menggabungkan sedikitnya 30-an organisasi dari berbagai sektor sosial, diantaranya, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Repdem, Petisi 28, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, dan Partai Rakyat Demokratik.

Demonstran lainnya berasal dari kelompok kecil, seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), yang sudah lebih dahulu berada di depan istana negara. Ada pula seratusan lebih massa dari Aliansi Buruh Menggugat (ABM), yang sudah menggelar aksinya lebih pagi.

Sementara dari arah bundaran HI, seribuan massa Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) dan Front Oposisi Rakyat Indonesia (FORI) bergerak menuju istana negara. Mereka membawa sebuah properti yang menyerupai kepala babi.

Dua kelompok massa besar, yaitu Persatuan Oposisi Nasional dan KASBI/FORI (Front Oposisi Rakyat Indonesia), meleburkan massa mereka tepat di depan istana presiden. Orator dari mobil komando meneriakkan “hidup persatuan gerakan rakyat!”

Mereka menyampaikan orasi politik secara bergantian dari atas mobil komando. Sementara ratusan aparat keamanan berjaga-jaga dan membuat barikade hanya beberapa meter dari demonstran.

Tuntutan Hampir Seragam

Hampir semua pernyataan politik yang tersampaikan dalam aksi hari ini mengarah pada kesimpulan yang seragam, yaitu pemerintahan SBY-Budiono sudah gagal dan sudah saatnya dipertimbangkan untuk memaksa SBY-Budiono mundur.

Seperti Persatuan Oposisi Nasional yang menyimpulkan bahwa SBY sudah gagal memerintah, terutama karena pro-penjajahan asing, menyingkirkan rakyat dari proses demokrasi, gagal memberantas korupsi, dan gagal menurunkan harga.

Dalam statemen yang disebarkan kepada media, Persatuan Oposisi Nasional menganggap pemerintahan SBY-Budiono sudah sepatutnya segera dihentikan dengan menggunakan gerakan rakyat.

Hanya saja, untuk membangun gerakan rakyat ini, persatuan oposisi nasional menganjurkan penggalangan tanda-tangan untuk mosi tidak percaya terhadap rejim SBY, yaitu dengan mendatangi rakyat dari rumah ke rumah, kampung-kampung, pabrik, sekolah, dan lain sebagainya.

Sementara KASBI menuliskan dalam pernyataan sikapnya bahwa setahun pemerintahan SBY-Budiono lebih sibuk pada pencitraan dan sering membeo kepada kepentingan imperialisme.

Buktinya, kata KASBI, adalah kekayaan alam yang tertumpuk di tangan kapitalis internasional, jumlah rakyat miskin yang terus meningkat, tajamnya pertentangan kelas antara penguasa dengan rakyatnya, dan karakter pemerintahan SBY yang semakin reaksioner, otoriter, dan represif.

“Pemerintah kita masih merupakan boneka imperialis. Rakyat secara ekonomi dan politik semakin terpuruk, dan banyak asset strategis yang dikelola oleh pihak asing,” ujar Nining Elitos, Ketua Umum KASBI.

Nining juga menyoroti soal penindasan yang semakin massif terhadap kaum buruh, seperti politik upah murah, sistim kontrak, pasar tenaga kerja fleksibel, dan PHK yang terus berlanjut, termasuk pengabaian terhadap nasib Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri.

“Rakyat harus bersatu dalam satu kekuatan sebagai jalan utama untuk mengakhiri kekuasaan rejim neoliberal di Indonesia,” katanya.

Pernyataan politik hampir serupa juga disampaikan oleh Forum Mahasiswa Lintas Kampus (FMLK), yang merupakan gabungan mahasiswa UI, IISIP, dan kelompok studi eramus Unsada. Kelompok ini membeberkan sejumlah persoalan rakyat akibat praktik neoliberalisme oleh rejim SBY-Budiono, seperti penggangguran yang terus meningkat, penggusuran rumah rakyat, kualitas kesehatan yang makin memburuk, dan buruknya perlindungan terhadap hak-hak kaum buruh.

Terjadi Bentrokan

Demonstrasi berbagai kelompok di depan Istana Negara sempat diwarnai beberapa kali bentrokan antara massa demonstran dengan aparat kepolisian.

Bentrokan pertama terjadi saat puluhan mahasiswa HMI berusaha menerobos pagar berduri yang dipasang membentang di depan pagar istana negara. Beberapa anggota HMI ditangkap petugas kepolisian.

Bentrokan kembali pecah antara HMI dan kepolisian, setelah mahasiswa HMI berusaha untuk merengsek maju ke depan.

Sementara dorong-dorongan juga sempat terjadi antara ribuah massa Persatuan Oposisi Nasional dan KASBI dengan pihak kepolisian. Beruntung seruan dari atas mobil komando berhasil meredam massa yang sudah terlanjur marah dan memukul dengan kayu.

Menjelang sore hari, sekitar pukul 16.00 WIB, bentrokan kembali terjadi antara aktivis HMI dan aliansi beberapa kampus dengan pihak kepolisian. Polisi menembakkan water canon untuk memukul mundur mahasiswa.

Ratusan pasukan polisi dikerahkan untuk mengatasi demonstran yang mulai membalas dengan lemparan batu. Untuk membubarkan dan memukul perlawanan mahasiswa, Polisi akhirnya menembakkan gas air mata dan peluru karet ke arah mahasiswa.

Seorang mahasiswa dilaporkan terkena peluru karet. Sementara beberapa mahasiswa kembali ditangkap pihak kepolisian.

Situasi mulai tenang menjelang magrib, setelah massa Persatuan Oposisi Nasional dan KASBI mulai bergerak untuk meninggalkan istana negara. (Ulfa)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • dicky

    peluru karet apa peluru tajam ??? (yg di UBK ?)

  • rahman

    telah 1 tahun SBY-BUDIONO menjalankan roda pemerintahan di bumi pertiwi ini dengan membawa hasil yang sangat luar biasa bagi kehancuran negeri ini yang membuat rakyatnya makin tertindas dan membuat mereka harus turun ke jalan untuk menuntut hak mereka yang tak mereka peroleh.
    Namun disaat rakyat berbondong-bondong untuk menuntut hak mereka dan mengintervensi Pemerintahan SBY-BUDIONO harus berhadapan dengan pihak kepolisian tak pernah bersahabat dengan rakyat.
    Pihak keplisian dengan bangganya mengeluarkan monco ng sentajanya untuk menembaki rakyat padahal sadar atau tidak moncong senjata yang mereka gunakan untuk menembaki rakyat dan gaji yang mereka perleh itu berasal dari rakyat yang mereka musuhi tersebut.
    maka cuma 1 kalimat untuk menanggapi hal tersebut yakni REVOLUSI TOTAL disegala bidang tak terkecuali kepolisian.,.,.

  • ady

    salut thaah…