10 Kegagalan Jokowi-JK Dalam Bidang Ekonomi Versi Pengamat

Jokowi1

Pengamat Ekonomi AEPI, Salamuddin Daeng, menilai Presiden Jokowi gagal dalam memperbaiki perekonomian Indonesia. Dia mengungkapkan setidaknya ada 10 kegagalan mantan Gubernur Jakarta tersebut dalam mewujudkan ekonomi berdikari sesuai amanat Trisakti.

Pertama, kata Salamuddin, sejak dipimpin Jokowi, pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat. Secara tahunan (year on year/ yoy), ekonomi Indonesia hanya 4,7 persen. “Melambat dibandingkan pertumbuhan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,14 persen,” katanya, Rabu (13/5).

Kedua, nilai ekspor mengalami penurunan. Dimana, periode Januari–Maret 2015 nilai barang keluar Indonesia hanya USD39,13 miliar. Angka ini turun 11,67 persen dibanding ekspor periode yang sama tahun 2014. “Demikian juga ekspor nonmigas, sebesar USD33,43 miliar atau turun 8,23 persen,” sambungnya.

Ketiga, impor malah naik. Nilai impor Maret 2015 sebesar USD12,58 miliar, naik 9,29 persen dibanding impor Februari 2015 dan turun 13,39 persen jika dibanding impor Maret 2014.

“Keempat, Impor migas naik. Impor migas Maret 2015 sebesar USD2,27 miliar, naik 31,89 persen dibanding Februari 2015 (yang sebesar USD1,72 miliar),” tambahnya.

Kelima, nilai ekspor menurun. Dimana, menurut peneliti IGJ ini, nilai ekspor Indonesia Maret 2015 sebesar USD13,71 miliar. “Turun 9,75 persen, year-on-year (secara tahunan-red),” tandasnya.

Keenam, nilai tukar petani (NTP) juga ikutan anjlok.Per April 2015, NTP ini turun 1,37 persen dibanding Maret 2015.

Masih Salamuddin, kegagalan ketujuh adalah angka inflasi yang kian melonjak. Inflasi April 2015 mencapai 0,36 persen. Ini  akibat kenaikan indeks pada komponen inti (core) 0,24 persen, komponen yang harganya diatur pemerintah (administered prices) 1,88 persen.

Kedelapan, lanjutnya, nilai tukar rupiah merosot. pada 13 Mei 2015 rupiah bertengker pada posisi 13.202  per dolar Amerika.

Kesembilan, cadangan devisa juga ikutan tertekan. Salamuddin mengatakan posisi cadangan devisa lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir Februari 2015 sebesar 115,5 miliar dolar AS.

“Penurunan posisi cadangan devisa tersebut akibat peningkatan pengeluaran untuk pembayaran utang luar negeri Pemerintah dan dalam rangka stabilisasi nilai tukar Rupiah,” tegasnya.

Terakhir, kata Salamuddin, realisasi penerimaan pajak yang ikut terkerek ke bawah. Realisasi penerimaan pajak menurun 5,63%, dari Rp 210,057.05 triliun sampai Maret 2014, menjadi Rp 198,226.53 triliun Meret 2015.

Karena fakta-fakta tersebut, Salamuddin mengkhawatirkan, “untuk menyelamatkan kekuasaannya, Jokowi akan terus mencekik rakyat dengan menaikkan harga BBM, harga listrik, dan harga kebutuhan pokok.”

Tedi CHO

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut