Mahasiswa Desak Jokowi Usut Tuntas Tragedi Trisakti

demo-trisakti

Tragedi Trisakti yang terjadi 17 tahun lalu masih menyimpan tanda tanya. Pasalnya, hingga saat ini belum ada kejelasan atas dalang penembakan yang mengakibatkan tewasnya aktivis mahasiswa kampus yang berada di kawasan Grogol, Jakarta tersebut.

Inilah yang melatarbelakangi tiga ribuan mahasiswa Trisakti menggelar aksi turun ke jalan, Selasa (12/5). Mereka menuntut Presiden Jokowi untuk serius dalam menuntaskan kasus kekerasan terhadap aktivis tersebut. “Kita ada tiga ribu masa yang turut aksi, terdiri dari sembilan jurusan yang ada di Trisakti,” ujar  Presiden Mahasiswa Universitas Trisakti (Usakti), Muhammad Puri Handamas.

Seperti diketahui, tragedi yang terjadi pada 12 Mei 1998 silam tersebut berawal dari riuhnya gerakan mahasiswa yang ingin menumbangkan rezim Soeharto. Aksi demonstrasi yang rutin digelar di beberapa titik kampus membuat militer menjadi represif.

Handamas menjelaskan, hingga saat ini pelaku penembakan dan dalang di balik tragedi memilukan itu belum juga terungkap. Karena itu, seluruh mahasiswa Usakti akan terus memperingati peristiwa tersebut setiap tahun. “Kami menolak lupa,” tegas mahasiswa jurusan teknik pertambangan ini.

Seperti diketahui, ada empat mahasiswa yang menjadi korban keganasan militer dalam tragedi Trisakti. Mereka adalah Hendriawan Sie, mahasiswa jurusan manajemen; Hery Hartanto, teknik mesin; Elang Mulya Lesmana, arsitektur; dan Hafidhin Royan, teknik sipil.

Hampir setiap tahun setelah tragedi penembakan tersebut, mahasiswa Trisakti turun ke jalan untuk mengajak masyarakat tidak melupakan perjuangan keempat pahlawan reformasi tersebut. Pada tahun 2005, Presiden Susilo Bambang Yudoyono memberikan bintang tanda jasa pratama sebagai tanda kehormatan kepada empat mahasiswa Trisakti yang gugur tersebut.

Baru-baru ini, nama keempat mahasiswa tersebut diabadikan menjadi nama jalan di kawasan Kampus Nagrak, Jalan KH Rafei-Alternatif Cibubur Km 6, Kelurahan Ciangsana, Kabupaten Gunung Putri, Bogor. “Ini sebagai bentuk penghargaan kami terhadap para pahlawan yang telah gugur dalam perjuangan reformasi 17 tahun silam,” ujar Wakil Rektor III Usakti Hein Wangania.

Pemberian nama jalan tersebut dihadiri oleh orangtua masing-masing mahasiswa yang gugur dan Rektor Usakti Prof Thoby Mutis. Hein berharap dengan menjadikan nama empat mahasiswa sebagai nama jalan, masyarakat dapat mengingat perjuangan mereka.

Sementara itu, Ketua Tim Pemulihan dan Informasi Usakti Advendi Simangunsong, menilai pemberian nama jalan ini merupakan simbol dari perjuangan agar seluruh civitas akademika Usakti terus mengenang dan mencontoh perjuangan empat mahasiswanya.

“Peringatan tragedi 12 Mei juga bukan hanya sekedar tradisi dan kegiatan rutin biasa bagi kami, namun bagi kami 12 Mei adalah Hari Pahlawan. Sebagai tanda pengingat untuk terus berjuang, walau bentuk perjuangannya mungkin tidak sama seperti dahulu, sekarang kami berjuang untuk ikut berperan dalam membangun dan meningkatkan mutu pendidikan,” pungkasnya.

Tedi CHO

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut