‘Yo Soy 132’: Kebangkitan Gerakan Mahasiswa Meksiko

Jangan coba-coba meremehkan aksi-aksi protes kecil. Seperti kata peribahasa terkenal: sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Begitulah yang terjadi pada gerakan mahasiswa di Meksiko.

Cerita kita mulai dari sebuah gerakan yang disebut “Yo Soy 132” (Aku 132). Ini bermula saat kandidat Partai Revolusioner Institusional (PRI), Enrique Peña Nieto, akan berkampanye di kampus Ibero-American University. Sejumlah mahasiswa menyatakan penolakan keras terhadap pencalonan Nieto.

PRI memerintah Meksiko cukup lama, yakni 70-an tahun, yang menghasilkan kehancuran ekonomi, korupsi, dan represi. Sedangkan Nieto punya catatan buruk mengenai Hak Azasi Manusia (HAM). Pada tahun 2006, saat menjadi Gubernur di negara Meksiko, ia memerintahkan polisi merepresi aksi protes. Itulah yang disebut insiden Atenco. Dua orang aktivis gugur dalam kejadian itu.

Ada 131 orang mahasiswa yang menggelar protes saat kedatangan Nieto di kampus Ibero-American University. Nieto menganggap remeh aksi mahasiswa itu. Tidak hanya itu, Arturo Escobar, anggota senat dari partai hijau yang mendukung kandidat PRI, menuding mereka tidak murni mahasiswa, melainkan orang-orang yang dibayar oleh lawan-lawan politik Nieto.

Mahasiswa membalas tudingan Escobar. Mereka memposting sebuah video yang memperlihatkan ke-131 mahasiswa dan kartu mahasiswanya. Solidaritas pun bermunculan dari berbagai kampus dan kelompok mahasiswa di seluruh negeri. Inilah awal kemunculan gerakan “So Soy 132” (Aku 132).

Media mainstream menolak memberitakan aksi mahasiswa itu. Dua media terbesar di Meksiko, TV Asteca dan Televisa, sangat memihak PRI. Tetapi mahasiswa tidak mau menyerah. Dengan menggunakan jejaring sosial, khususnya Facebook dan Twitter, mereka berhasil menyebar berita ke seantero negeri.

Tidak hanya di dunia maya, aktivis-aktivis “Yo Soy 132” juga aktif menyebar selebaran, menggelar mimbar depan umum, dan aksi-aksi yang menarik simpati dan partisipasi publik. Mereka terkadang berpropaganda di atas bus-bus umum, kereta api, dan ruang-ruang publik lainnya.

Gerakan “So Soy 132” meluas ke berbagai pelosok Meksiko: Tijuana, Guadalajara, Aguascalientes, dan banyak kota lain. Di  Aguascalientes, awalnya aksi anti-Nieto hanya diikuti oleh 300-400 orang. Namun, sejak 10 Juni 2012 lalu, aksi protes telah menyeret ribuan orang.

Di Meksiko City, pada 22 Juni 2012, sedikitnya 50 ribu orang bergabung dalam aksi protes menentang Nieto dan PRI. Bahkan, pada 27 Juli 2012 lalu, ribuan orang mengepung kantor stasiun TV Televisa—jaringan TV terbesar di Meksiko. Televisa dianggap menyebarkan berita bias terkait pemilu dan cenderung memenangkan kandidat PRI-Nieto.

Uniknya, inisiatif gerakan “Yo Soy 132” ini justru mahasiswa dari strata klas menengah ke atas. Ibero-American University dikenal sebagai salah satu kampus swasta elit di Meksiko. Bayangkan, kampus elit justru menjadi pelopor dari sebuah gerakan politik.

Kenapa gerakan cepat meluas? Menurut seorang pengamat di University of Guadalajara, Dr. Jaime Tamayo, ada dua hal yang mengikat berbagai sektor mahasiswa bisa menyatu dalam gerakan: Pertama, penolakan terhadap kandidat PRI-Nieto, yang dianggap neoliberal dan otoriter. Kedua, penolakan terhadap kekuatan di balik kandidat PRI-Nieto, yakni media massa, yang cenderung dimonopoli oleh dua korporasi besar (TV Asteca dan Televisa).

Kunci sukses gerakan “Yo Soy 132” lainnya adalah jejaring sosial. Mereka aktif menggunakan twitter untuk mengorganisir protes. Mereka juga sering mengunggah video-video ke Youtube. Tidak heran, gerakan ini pun mendapat dukungan dari berbagai belahan dunia: AS, Kanada, Argentina, Mesir, dan lain-lain. Bahkan, Pemimpin gerakan mahasiswa Chile, Camila Vallejo, melakukan kunjungan ke Meksiko dan melakukan pertemuan dengan aktivis “Yo Soy 132”.

Kebangkitan gerakan “Yo Soy 132” sering dibandingkan dengan gerakan mahasiswa Meksiko tahun 1968. Saat itu, militer membantai demonstran di Tlatelolco’s Plaza de las Tres Culturas—hanya beberapa saat menjelang pembukaan Olympiade di kota Meksiko City. Diperkirakan 30 hingga 400 demonstran tewas saat itu.

Akhir-akhir ini, gerakan “Yo Soy 132” mulai membuka jaringan dengan gerakan-gerakan di luar sektor mahasiswa, seperti serikat buruh, organisasi HAM, dan lain-lain. Isu yang diangkat pun mulai diperluas: pelanggaran HAM, kehancuran ekonomi, dan masalah pendidikan.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut