WikiLeaks dan Kebebasan Informasi

SUDAH berbulan-bulan wikileaks menjadi topik pembicaraan media massa dan masyarakat umum. Maklum, wikileaks telah lancang membongkar sejumlah disinformasi media besar dan kebohongan imperialisme AS. Lebih dari 250 ribu dokumen rahasia dari kawat diplomatik kedutaan besar dan konsul AS di seluruh dunia turut dibocorkan.

Kaum progressif pun telah memuji langkah wikileaks sebagai sebuah keberanian. Pembocoran data rahasia dianggap sebagai kemenangan terhadap kebohongan imperialisme AS dan disinformasi media besar kanan.

Presiden Venezuela Hugo Chavez mengganggap pembocoran 250 ribu file rahasia oleh wikileaks sebagai bentuk penelanjangan kebusukan imperialisme AS. Meski wikileaks sangat berjasa dalam mengungkap kebusukan di balik diplomasi rahasia imperialisme AS, tetapi ekonom progressif asak Kanada, Michel Chossudovsky, menganggap wikileaks masih berjalan di atas kepentingan media imperialis, terutama New York Times, dan juga sangat dekat dengan intelijen AS (CIA). Lagi pula, Julian Assenge juga mendapat dukungan banyak dari media-media mainstream (New York Times, the CFR, The Economist, Time Magazine, Forbes, Finers Stephens Innocent), yang selama ini telah banyak terlibat dalam permainan disinformasi.

Di Indonesia, sebuah usaha untuk membuka terobosan yang sama juga dilakukan beberapa orang, diantaranya, pendirian indoleaks.org. Dengan berpegang pada slogan “informasi adalah hak azasi”, Indoleaks.org berusaha menjawab kebutuhan informasi bagi masyarakat, termasuk mengungkap berbagai informasi yang ditutup rapat oleh penguasa.

Tidak main-main, Indoleaks pun memulai gebrakan awalnya dengan transkrip percakapan Soeharto dan Richard Nixon, laporan TPF kasus pembunuhan Munir, kasus lumpur lapindo, dan terakhir yang sangat kontroversial; hasil visum dokter terkait para jenderal korban G.30.S. Apa yang disajikan Indoleaks memang bukan hal baru bagi aktivis pegerakan, tetapi menjadi informasi menarik bagi masyarakat umum dan media mainstream.

Pada dasarnya, kita menyambut baik terobosan wikileaks dan indoleaks terkait kebebasan masyarakat mendapatkan informasi. Saya sepakat dengan Marta Hanecker, bahwa demokrasi hanya akan bisa bertahan jikalau semua orang bisa memiliki informasi yang benar.

Selama ini, media mainstream telah memainkan peranan penting dalam melakukan disinformasi, dan menciptakan sebuah prakondisi sosial untuk mengamankan kepentingan imperialisme di berbagai belahan dunia.

Hanya saja, apa yang perlu kita waspadai, sebagaimana diterangkan oleh Michel Chossudovsky, bahwa keberadaan wikileaks sebagai prakondisi think-thank imperialis untuk memproduksi ‘perbedaan pendapat”. Wikileaks berhasil menyebarkan informasi penting mengenai kejahatan imperialis AS, tetapi begitu gayanya tertanam pada jurnalisme mainstream, maka itu akan menjadi alat disinformasi baru yang lebih berbahaya.

Bahaya kedua dari model wikileaks ini adalah bombastis dan sensasional, sebagaimana yang menjadi ciri umum dari media mainstream. Kecenderungan mengejar bombastisme, tetapi mengesampingkan analisis mengenai fakta dan kondisi sosial-historis, justru akan menjerat leher jurnalisme ke arah disinformasi.

Apa yang perlu ditekankan di sini adalah perlunya gerakan progressif membangun media-media alternatif, seperti koran massal, media online, televisi, radio komunitas, dan lain-lain. Kita memerlukan sebuah media, sebagaimana diterangkan oleh Lenin, bukan hanya alat untuk menyebarkan propaganda—ide tentang sifat kapitalisme dan bagaimana cara mencapai sosialisme—tetapi sebagai sarana untuk menciptakan organisasi nasional yang berhubungan dengan perjuangan secara umum.

Kita butuh media yang menyajikan informasi yang mencerdaskan dan menyehatkan fikiran rakyat, yaitu media yang terang mengupas kebusukan neoliberalisme dan imperialisme, dan menyatu dalam barisan perjuangan anti-imperialisme.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut