‘Kegelapan’ Menghantui Ukraina

Di tahun 1917, di saat terbitnya fajar Revolusi Proletar di Rusia, Lenin menulis artikel berjudul “Ukraina”. Melalui artikel pendek itu, Lenin berusaha menyakinkan kaum demokrat-revolusioner Rusia, bahwa jika mereka memang benar-benar revolusioner dan demokrat, mereka harus menghargai penuh hak-hak rakyat Ukraina, termasuk hak melepaskan diri dari Rusia.

Kendati demikian, Lenin tidak menapikan arti penting persaudaraan antara kaum buruh Rusia dan Ukraina. Tetapi persaudaraan itu tidak boleh dipaksakan, melainkan musti sukarela. “..untuk memenangkan persahabatan dengan mereka [pen: Ukraina] dengan memperlakukan mereka setara, sebagai sekutu dan kawan dalam perjuangan untuk sosialisme,” tulis Lenin.

Jadi jelaslah bahwa Revolusi Proletar Rusia tidak pernah berniat mencaplok Ukraina. Justru, rezim Tsar dengan semangat ‘sovinisme Rusia’-nya yang selalu merendahkan Ukraina dan melarang anak-anak Ukraina berbicara dalam bahasa ibu mereka.

Namun, tanggal 8 Desember 2013, massa demonstran anti pemerintah di kota Kiev, Ukraina, telah menumbangkan patung Lenin. Tak hanya dirobohkan, patung pemimpin Revolusi Rusia tersebut juga dihancurkan dengan palu. Andriy Shevchenko, mantan pemain bola yang kini jadi anggota Parlemen Ukraina, menulis kicauan: “Selamat tinggal, warisan komunis!”

//

Sejak November 2013 lalu, demonstrasi anti-pemerintah meletus di Ukraina. Mereka menuntut pengunduran diri Presiden Viktor Yanukovych. Sebetulnya, akar dari protes ini adalah ketidakpuasan massa rakyat terhadap korupsi, kemiskinan, dan ketimpangan di Ukraina. Namun, kekuatan oligarki dan nasionalis-kanan Ukraina, yang disokong oleh AS dan Eropa, telah mengubah pokok ketidakpuasan massa itu menjadi kebencian terhadap rezim Yanukovych yang enggan membawa Ukraina ke dalam Uni Eropa.

Memang, sejak krisis keuangan menghantam Eropa, Ukraina merasakan dampak telak. Sepanjang tahun 2008 dan 2009, ekonomi Ukraina turun sebesar 15%. Pengangguran membengkak dari 3% menjadi 9%. Kemiskinan mencapai 25% (angka resmi)–sementara perkiraan lain menyebut 80%. PDB per kapitanya merupakan yang terendah ketiga di Eropa–setelah Moldova dan Kosovo. Ekonomi Ukraina terjerembab dalam krisis hutang. Lantaran ekonomi yang memburuk itu, 6,6 juta rakyat Ukraina mencari penghidupan di luar negeri.

Untuk mengatasi ini, bagi sebagian elit dan kelompok bisnis, Ukraina butuh pinjaman sebesar  $ 27 miliar dari Uni Eropa dan IMF. Selain itu, dengan bergabung di bawah Uni Eropa, ekonomi Eropa akan mendapat suntikan modal baru dan pasar baru. Pinjaman baru ini tentu bisa menjadi lahan korupsi baru bagi oligarki yang mengontrol ekonomi Ukraina.

Di sisi lain, pendukung Uni Eropa juga menebar mimpi-mimpi indah kepada kaum muda dan klas menengah Ukraina, bahwa Eropa adalah sumber kemakmuran dan kebebasan. Upah rata-rata pekerja di Ukraina hanya € 250 per bulan. Sementara upah di Polandia, negara tetangganya yang juga anggota Uni Eropa, bisa dua kali lipat lebih besar. Ilusi inilah yang ditiupkan oleh pendukung Uni Eropa.

Namun, supaya bisa menjadi bagian dari keluarga ‘Uni Eropa’, IMF mengajukan syarat-syarat: pemerintah Ukraina harus menaikkan tarif gas sebesar 40%, memangkas subsidi energi, membekukan upah minimum, berkomitmen untuk mengurangi belanja sosial dan gaji, dan lain-lain. Pada intinya, kalau Ukraina masuk Uni Eropa, mereka harus melakukan kebijakan penghematan dan neoliberalisme yang intensif.

Tekanan IMF dan Uni Eropa itu membuat rezim Yanukovych berpaling ke Rusia. Tanggal 21 November lalu, Yanukovych meninggalkan pembicaraan persetujuan asosiasi dengan Uni Eropa. Inilah yang memicu massa pro-Uni Eropa, yang sebagian besar berasal dari Ukraina bagian barat, tumpah ruah di Maidan Nezalezhnosti  atau Lapangan Kemerdekaan.

Namun, eskalasi protes ini terus meningkat seiring dengan respon rezim yang sangat keras. Rezim Yanukovych mengerahkan rezimen Berkut (polisi anti huru-hara) untuk menembaki demonstran. Pada tanggal 8 Desember 2013, jumlah demonstran di Maidan meningkat. Jumlahnya mencapai 500.000 orang.

Demonstrasi itu, yang ditunggangi partai-partai sayap kanan dan fasis/Neo-Nazi, telah meniupkan kebencian terhadap Rusia dengan mengaitkannya dengan jejak komunisme. Patung Lenin dirobohkan. Sentimen anti-komunis dikobarkan. Padahal, Rusia sendiri–yang menjadi sasaran kebencian mereka–bukanlah negara komunis.

Selain itu, mirip dengan demonstrasi oposisi di Suriah dan Venezuela, oposisi Ukraina juga memancing kekerasan. Mereka menyerang kantor-kantor pemerintah untuk mengundang reaksi keras dari polisi dan aparat keamanan. Dan, ketika keamanan bertindak keras, pihak oposisi ini punya dalih menggunakan senjata.

Situasi itulah yang membawa Ukraina dalam pertempuran bersenjata selama 36 jam, Selasa (18/2) dan Rabu (19/2)–lebih mirip perang sipil ketimbang demonstrasi–yang menyebabkan 26 orang tewas dan ratusan lainnya terluka. Di sisi lain, sekutu oposisi di dunia internasional, terutama AS dan Uni Eropa, melancarkan kecaman atas kekerasan tersebut.

Akhirnya, karena tekanan massa dan milisi bersenjata, Yanukovych meninggalkan Kiev. Lalu, di tengah kekosongan itu, parlemen Ukraina yang dikuasai oposisi menggelar Sidang darurat untuk menunjuk pejabat Presiden sementara: Oleksandr Turchynov. Turchynov, yang juga tangan kanan mantan Perdana Menteri Yulia Tymoshenko, adalah seorang fundamentalis-reaksioner.

//

Oposisi di Ukraina didominasi oleh sayap kanan, dari kanan tengah, nasionalis-kanan, fasis, hingga fundamentalis.

Oposisi utama Ukraina berasal dari tiga partai: Batkivshchyna (Tanah Air) dengan tokohnya  Arseniy Yatsenyuk, Ukrainian Democratic Alliance for Reform (UDAR) dengan tokohnya petinju Vitali Klitschko, dan Svoboda (Kebebasan) dengan tokohnya Oleg Tyagnibok.

Batkivshchyna adalah partai yang didirikan oleh Yulia Tymoshenko, seorang politisi kaya Ukraina yang memainkan peranan dalam ‘Revolusi Oranye’ di tahun 2004. Partai ini cenderung liberal-konservatif dan sangat bernafsu menggabungkan Ukraina ke Uni Eropa. Yulia sendiri termasuk orang terkaya di Ukraina dan broker besar dalam bisnis gas di Ukraina. Dia mendapat gelar “Putri Gas”.

Sementara UDAR, yang dipimpin oleh petinju Vitali Klitschko, sangat dekat dengan Partai Kristen Demokrat Jerman (CDU) dan lembaga think-thank Konrad Adenauer Foundation. Bahkan, seperti dilaporkan media Jerman, Der Spiegel, UDAR- Vitali Klitschko mendapat dukungan logistik dari CDU/Angela Merkel dan Konrad Adenauer Foundation.

Tanggal 17 Februari lalu, Arseniy Yatsenyuk dan Vitali Klitschko menemui Angela Merkel di Berlin, Jerman. Dalam pertemuan itu Merkel menyampaikan rasa simpati terhadap ‘rakyat Ukraina’. Dia juga menjanjikan kepada Klitschko dan Yatsenyuk bahwa Jerman–bersama dengan Uni Eropa–akan berkontribusi dalam penyelesaian ‘positif’ krisis di Ukraina. Tak hanya itu, Merkel juga mendukung perjuangan oposisi untuk melahirkan konstitusi baru dan pemerintahan baru.

Sementara partai Svoboda adalah partai kanan-fasis. Studi Friedrich Ebert Foundation berjudul “The Extreme Right in the Ukraine” menyebut Svoboda sebagai kendaraan ideologi ekstrim kanan. Awalnya partai ini bernama Partai Sosial-Nasional Ukraina. Partai ini juga menggunakan simbol NAZI: Swastika. Namun, atas saran partai fasis Perancis Front Nasional, partai ini menanggalkan nama dan lambang yang provokatif.

Kelompok Ekstrim Kanan dengan simbol-simbol NAZI dalam aksi massa di Kiev, Ukraina.
Kelompok Ekstrim Kanan dengan simbol-simbol NAZI dalam aksi massa di Kiev, Ukraina.

Partai ini juga membatasi keanggotaannya pada etnis asli Ukraina. Partai ini juga sangat anti-komunis, anti serikat buruh, anti Yahudi, anti-imigran, dan sangat anti LGBT. Partai ini juga sangat berperan mengerahkan ribuan milisi bersenjatanya dalam pertempuran dengan polisi di Lapangan Maidan.

//

Campur tangan asing, terutama AS dan Uni Eropa, sangat nyata dalam penggulingan Presiden Yanukovych.

Di bulan Desember 2013, senator AS John McCain mengunjungi Ukraina dan menyatakan dukungan terhadap oposisi. Di sana McCain bertemu dengan pimpinan partai fasis Svoboda, Oleg Tyagnibok.

AS jelas punya kepentingan besar di Ukraina. Terutama untuk menggusur pengaruh Rusia dan RRC. Ukraina juga bisa menjadi ‘kuda troya’ bagi NATO untuk menjepit Rusia.

Sedangkan Uni Eropa, yang dimotori Jerman, membutuhkan Ukraina sebagai lahan baru untuk menularkan virus krisis-nya. Ukraina akan menjadi tempat penanaman modal dan pasar baru. Di bawah rezim baru yang pro-Uni Eropa, Ukraina akan dipaksa menjalankan kebijakan penghematan dan perdagangan bebas.

Tanggal 28 Februari 2014, PandoDaily menurunkan laporan terkait keterlibatan AS, terutama melalui US Agency for International Development (USAID) dan National Endowment for Democracy (NED), dalam mendanai kelompok oposisi di Ukraina. USAID menyediakan 54% dana Centre UA, sebuah LSM yang aktif berkampanye membongkar korupsi rezim Yanukovych. Situs itu juga menyebut keterlibatan Pierrie Omidyar, pengusaha AS pendiri situs lelang Ebay dan pemilik Omidyar Network, dalam mendanai kaum oposisi Ukraina.

William Engdahl dalam artikelnya di Global Research, Ukraine Protests Carefully Orchestrated: The Role of CANVAS, US-Financed “Color Revolution Training Group, mengendus keterlibatan Center for Applied Non-violent Action and Strategies (CANVAS), organisasi yang diciptakan untuk membina oposisi di berbagai negara, dalam memicu krisis politik di Ukraina. CANVAS mendapat pendanaan dari Freedom House, International Republican Institute, Institute for Open Society [George Soros], USAID dan American Institute for Peace. CANVAS terlibat dalam mengobarkan “Revolusi Berwarna” untuk menggulingkan Slobodan Milosevic di Yugoslavia. CANVAS juga bekerjasama dengan oposisi Venezuela untuk menggulingkan Chavez.

Selain itu, pada bulan Desember lalu, Asisten Sekretaris Negara AS Victoria Nuland mengingatkan para pemimpin bisnis Ukraina untuk membantu Ukraina mencapai ‘aspirasi Eropa’. Ia juga memberitahukan bahwa AS telah menginvestasikan $5 milyar untuk membantu Ukraina menemukan ‘masa depan yang layak’.

Lalu, tanggal 28 Januari lalu, melalui pembicaraan telpon dengan Dubes AS untuk Ukraina, Geoffrey Pyatt, Nuland berbicara tentang solusi atas Ukraina dengan pemerintahan baru. Dalam percakapan yang juga dipublikasi di Youtube itu, Nuland cenderung memilih  Arseny Yatseniuk (Batkivshchyna/mantan Menlu) sebagai pemerintahan baru. Sementara Vitali Klitschko, di mata Nuland, ‘masih kurang berpengalaman’.

Tak hanya itu, salah satu kelompok demonstran di lapangan Maiden, yakni Ukrainian National Self Defence Organization (Ukrainska Narodna Sambooborunu, UNSO), pernah mendapat pelatihan militer di kamp teroris NATO di Estonia tahun 2006.

//

Penggulingan kekuasaan di Ukraina, yang domotori oleh kaum oligarki pro barat (Uni Eropa/AS), justru akan membawa Ukraina menjadi “mangsa” dua bajingan sekaligus: imperialisme dan fasisme.

Segera setelah bergabung dengan Uni Eropa, Ukraina akan mengadopsi kebijakan neoliberal yang massif. Makanya, banyak yang menyebut rezim baru di Ukraina sebagai ‘rezim bunuh diri’. Paket ekonomi yang ditawarkan oleh IMF kepada rezim baru Ukraina hanya akan membawa rakyat Ukraina senasib dengan rakyat Yunani.

Di sisi lain, perkembangan sayap kanan-fasis memburamkan masa depan negeri ini. Partai fasis Svoboda berhasil merebut banyak posisi penting di pemerintahan: Wakil Perdana Menteri, Menteri Pertahanan, Menteri Pertanian dan lain-lain. Andriy Parubiy, pendiri partai Sosial-Nasional Ukraina, sekarang menjabat Kepala Keamanan Nasional dan Dewan Pertahanan.

Sementara kekuatan kiri di Ukraina, yang relatif sangat kecil pengaruhnya, sulit untuk membendung perkembangan kelompok fasis tersebut. Kantor partai komunis di Kiev telah menjadi sasaran serangan kaum fasis. Tak hanya itu, kaum fasis juga mulai menyerang kaum Yahudi dan kaum minoritas.

Kegelapan menghantui Ukraina. Kelompok fasis mulai mendominasi politik Ukraina bukan karena wacana dan solusi politik yang rasional dan objektif, melainkan karena melecut sentimen irasional (nasionalisme sempit dan rasialisme) dan unjuk kekuatan/kekerasan.

Dan satu hal lagi, Ukraina bukan hanya menjadi korban pertarungan antara Barat (AS/Eropa) dan Timur (Rusia), tetapi negeri ini juga berada di ambang pembelahan: Ukraina Barat dan Ukraina Timur.

Ukraina barat, yang relatif pedesaan dan banyak petani, menjadi basis utama rezim yang berkuasa saat ini. Sedangkan Ukraina timur, yang relatif terindustrialisasi, menjadi basis pendukung partai regional (Viktor Yanukovich).

Bergabung dengan orbit Uni Eropa/AS maupun Rusia bukanlah solusi bagi rakyat Ukraina. Namun, seperti dianjurkan Lenin, rakyat Ukraina harus menentukan nasibnya sendiri.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut