Tonggak Penting Dari Perjuangan Chavez

Saya sering mendengar ungkapan, “politik sudah usang dan ideologi sebaiknya dibuang ke keranjang sampah.” Orang yang masih memuja “isme-isme” dan menjadi pengikut partai tertentu akan dianggap ‘manusia peninggalan sejarah’.

Namun, mereka akan sontak kaget ketika menengok Venezuela. Di negeri kaya minyak itu, jutaan rakyatnya rela berbaris di jalanan, dipanggang oleh teriknya matahari, hanya untuk menyaksikan dan memberi salam terakhir terhadap peti jenazah sang Presiden.

Mereka mungkin akan berkilah, “hah, itu kan bentuk pendewaan yang berlebihan terhadap Chavez.” Ironisnya, ada juga orang kiri yang menganut pandangan semacam itu. Mereka lupa, ketika mengetahui Chavez sudah meninggal, rakyat Venezuela meneriakkan, “Chavez masih hidup, perjuangan akan berlanjut!

Saya kira, pendapat semacam ini lahir dari kegagalan memahami perubahan signifikan di Venezuela selama 14 tahun pemerintahan Chavez.

Pada tahun 1998, ketika Chavez menjadi Presiden, ideologi neoliberal memang sudah merosot. Di negara-negara selatan, terutama Asia dan Amerika latin, penolakan terhadap neoliberalisme sudah cukup kuat.

Namun, gerakan perlawanan itu belum ada yang sampai kepada penaklukan kekuasaan politik. Venezuela lah yang pertama memulai itu. Dan, begitu Chavez berkuasa, pemerintahannya menegaskan untuk keluar dari kerangka neoliberal dan mencari sistem ekonomi alternatif.

Jadi, pada masa itu, pemerintahan Chaves seperti riak kecil di tengah lautan luas. Hampir tidak ada pemerintahan yang setegas itu. Pada tahun 2000, misalnya, Ricardo Lagos—bekas aktivis anti kediktatoran Pinochet—memenangi pemilu Chili. Tetapi, kita tahu, garis kebijakan Lagos masih sangat neoliberal.

Hal serupa juga terjadi di Ekuador. Pada tahun 2003, Lucio Gutiérrez, seorang sosialis, menang pemilu. Kemenangannya dianggap hasil sumbangsih pemberontakan jalanan menolak IMF. Namun, Gutiérrez memilih melanjutkan kerjasama dengan IMF. Akhirnya, ia digulingkan oleh pemberontakan rakyat.

Inilah sumbangsih terpenting Chavez. Pemerintahan Chavez-lah yang merintis jalan alternatif keluar dari neoliberalisme. Inilah yang membuat Chavez sangat dihormati di Amerika Latin, kawasan yang sudah sangat lama menderita akibat kediktatoran dan neoliberalisme.

Kedua, Chavez percaya perubahan bisa dilakukan secara konstitusional–revolusi melalui konstitusi. Dengan revolusi ini, Chavez yakin, ia bisa mentransformasikan struktur politik, ekonomi, dan sosial-budaya di negerinya.

Ia memulai revolusinya dengan refendum mengenai perlu tidaknya pembentukan Majelis Konstituante. Referendum berhasil. Majelis Konstituante berhasil dibentuk, dengan mayoritas anggotanya berasal dari barisan pro-revolusi. Majelis konstituante inilah yang melahirkan kontitusi Bolivarian (1999).

Konstitusi inilah, yang legalitasnya tak terbantahkan, menjadi senjata Chavez untuk mulai merombak struktur ekonomi-politik negerinya. Ini pengalaman menarik dan jarang dipraktekkan gerakan revolusioner di tempat lain.

Ketiga, hal menarik dari revolusi Bolivarian, yang berbeda dengan Kuba, Nikaragua, dan banyak gerakan kiri lainnya, adalah keberhasilan Chavez mengombinasikan kekuatan rakyat dan proses demokratis. Sejak 1999, ada 16 kali pemilu di Venezuela. Sebanyak 15 pemilu dimenangkan Chavez.

Gaung yang hampir sama sebetulnya pernah ditiupkan oleh Salvador Allende, pada tahun 1971, yakni revolusi dengan jalan damai atau menempuh proses demokrasi. Saat itu, Allende juga berkali-kali memenangi pemilu untuk memupuk dukungan rakyat terhadap pemerintahan Unido Popular. Akhirnya, sekalipun oposisi berulangkali menjatuhkan Allende, baik melalui parlemen maupun pemilu recall, Allende selalu menang. Oposisi akhirnya frustasi dan memilih kudeta militer.

Dengan berdiri di atas legalitas konstitusi dan mandat rakyat melalui berbagai pemilu, oposisi tidak punya ruang legal untuk membendung proyek Chavez. Bahkan, pada tahun 2002, ketika oposisi mengkudeta Chavez, rakyat sendiri yang turun ke jalan untuk mengembalikan Chavez ke kursi kekuasaannya.

Ketiga, Chavez tidak percaya bahwa proyek sosialisme bisa ditiru atau diimitasi dari tempat lain. Chavez percaya, seperti juga Soekarno, bahwa sosialisme harus merupakan hasil “penciptaan yang heroik”, sesuai dengan karakteristik dan kekhususan masing-masing bangsa. Chavez berbicara sosialisme melalui ide-ide bolivarianisme, teologi pembebasan, sosialisme leluhur (indian-amerika), dan lain-lain.

Alih-alih memungut sosialisme abad ke-20, seperti yang dipraktekkan di Soviet dan Eropa Timur, yang sudah bangkrut, Chavez justru mencetuskan sosialisme abad 21: transformasi ekonomi dengan berporos pada pembangunan manusia, demokrasi partisipatif, rakyat sebagai protagonis, pembangunan yang menghargai alam dan manusia, dan lain-lain.

Chavez adalah pembaca buku-buku teori. Ia mengunyah-ngunyah teori Marx, Engels, Rosa Luxemburg, Lenin, Gramsci, Trotsky, bahkan hingga ke pemikir-pemikir kontemporer seperti Chomsky dan István Mészáros. Yang menarik, Chavez bisa memuntahkan kembali pemikiran tokoh-tokoh tersebut dengan bahasa sederhana kepada rakyatnya. Bayangkan, dalam setiap acara talk-show “Alo Presidente”, ia mengutip pemikiran tokoh-tokoh itu dan menyampaikannya dengan bahasa sederhana kepada rakyatnya.

Keempat, selama 14 tahun memerintah, Chavez berhasil menciptakan kemajuan signifikan bagi kesejahteraan rakyat dan kemajuan ekonomi negerinya. Untuk ini, silahkan baca ulasan Salim Lamrani, 50 Fakta Mengenai Hugo Chavez.

Banyak yang menuding itu praktik populisme. Saya tidak setuju dengan pendapat itu. Chavez bukanlah pemimpin yang membagi-bagikan uang, sembako, atau rumah begitu saja kepada rakyat. Hampir semua misi sosial Chavez dimulai dari proses pengumpulan informasi dan pendataan mengenai apa kebutuhan rakyat. Kredit mikro, misalnya, itu tidak dikucurkan sebelum calon penerima belum terorganisir dalam komunitas/koperasi dan mendapat pelatihan kerja/skill.

Saya kira, misi sosial Chavez—pendidikan, kesehatan, perumahan, jaminan sosial bagi lansia, pangan, dll—telah mengangkat harkat dan martabat rakyat Venezuela, khususnya kaum miskin. Bayangkan, 14 tahun lalu, orang-orang miskin di barrio tidak pernah bermimpi bisa menginjakkan kaki di Universitas. Sekarang mereka bisa kuliah gratis di Universitas. Dulu, setiap musin hujan, orang-orang miskin khawatir dengan atap rumah mereka yang bocor. Sekarang mereka tinggal di rumah dengan fasilitas lengkap dan sangat manusiawi.

Chavez, di mata rakyat Venezuela, adalah “Simon Bolivar Kedua”, yang membebaskan rakyat dari kemiskinan dan penghinaan oleh segelintir elit dan korporasi asing. Tak heran, ketika Chavez meninggal, rakyat Venezuela seakan kehilangan bapaknya sendiri.

Kelima, Chavez tidak hanya berbuat untuk negerinya, tetapi juga terhadap dunia. Kita tahu, kemenangan Chavez menandai pergeseran dunia dari unipolarisme menjadi multi-polarisme. Chavez juga aktif mendorong aktif integrasi regional melalui ALBA dan CELAC. Chavez juga aktif mendorong penguatan persatuan bangsa-bangsa Afrika.

Venezuela–bersama Kuba–juga aktif dalam aksi solidaritas untuk membantu bangsa-bangsa dan rakyat tertindas di berbagai belahan dunia. Chavez membantu negara-negara Amerika Latin keluar dari jebakan IMF melalui Bank Selatan. Chavez memberi bantuan minyak kepada negara-negara kecil Karibia melalui program “Petrocaribe”. Chavez juga membuat program minyak pemanas murah untuk rakyat miskin AS. Chavez juga bersuara lantang menentang agresi Israel di Palestina.

Chavez adalah pemimpin langka di jaman kita. Sepak terjang dan komitmennya untuk dunia lebih baik telah melewati batas-batas negerinya. Ia telah menjadi inspirasi bagi perjuangan anti ketidakadilan di berbagai belahan dunia.

Yo soy Chavez. Tu eres Chavez. Todos somos Chavez!

Kusno, anggota Berdikari Online

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut