Ironi Perang Melawan Terorisme

Leonardo DiCaprio

Body of Lies (2008)

Sutradara: Ridley Scott
Penulis: William Monahan, dari novel David Ignatius
Tahun Produksi: 2008
Durasi: 2 jam 6 menit
Pemain:
Leonardo DiCaprio, Russell Crowe, Mark Strong, Golshifteh Farahani, Alon Aboutboul dan Ali Suliman.

Saya baru saja menonton film karya Ridley Scott, Body of Lies. Sebetulnya ini film lama: diproduksi tahun 2008. Namun, bagi saya, ada beberapa hal menggelitik yang memaksa saya membubuhkan beberapa catatan terhadap film produksi AS ini.

Film ini mengacu pada novel David Ignatius, seorang kolumnis Washington Post, yang berjudul “Body of Lies”. Diceritakan tentang sepak terjang seorang agen CIA, Roger Ferris (Leonardo DiCaprio), yang melakukan pemburuan teroris di Timur Tengah.

Dalam menjalankan tugasnya, Ferris bekerjasama dengan agen intelijen lokal. Misalnya, ketika memburuh kelompok teroris Al-Saleem di Yordania, ia bekerjasama dengan biro Intelijen Yordania (GID). Pimpinannya bernama Hani Salam.

Ada banyak kejanggalan sekaligus ironi dalam film ini. Pertama, agen CIA (Roger Ferris) dengan bebasnya bisa keluar-masuk negara lain. Bahkan, ia sangat gampang mengakses pejabat-pejabat setempat. Penggambaran semacam ini seolah-olah ingin mengukuhkan klaim AS sebagai “polisi dunia”.

Juga, seperti terlihat di film, CIA/Pentagon dengan seenaknya mengawasi targetnya hanya melalui layar. Peralatan komunikasi dengan seenaknya bisa melanggar kedaulatan udara negara lain. Bahkan, helikopter dan pasukan khusus AS bisa langsung dikerahkan untuk mengejar target serangan.

Kedua, dalam upayanya mengejar dan meringkus pimpinan Al Saleem, CIA tidak segan-segan menjadikan orang Arab tak berdosa sebagai umpan. Salah satunya adalah Omar Sadiki, seorang arsitek, yang dijebak dan dikesankan sebagai pelaku serangan bom. Juga, ada Nizar, seorang jihadis yang takut melakukan bunuh diri, yang sengaja dibunuh CIA untuk menghilangkan jejak mereka.

Ketiga, CIA menganggap pekerjaan mereka sebagai “misi suci” untuk menyelamatkan orang-orang tak berdosa dari aksi terorisme. Saya pikir, kita harus kritis terhadap hal ini.

Saya pernah membaca artikel Michel Chossudovsky, penulis buku “America’s War on Terrorism,yang menuding AS—termasuk CIA—berkontribusi dalam pembentukan Al-Qaeda dalam kerangka perang dingin melawan Uni Soviet di Afghanistan.

Katanya lagi, seusai perang dingin, Al-Qaeda masih punya hubungan dengan pemerintahan di AS, termasuk dengan Clinton dan Bush. Bahkan, dalam berbagai kekacauan di sejumlah negara Afrika, seperti Libya, Aljazair, dan Mali, AS dituding berkolaborasi dengan faksi-faksi jihadis yang terkait dengan Al-Qaeda.

Yang menjadi kejanggalan, “perang melawan terorisme” dikobarkan pasca serangan “11 September 2001” terhadap WTC. Saat itu, pemerintahan Bush menuding Al-Qaeda di bawah pimpinan Osama Bin Laden sebagai pelaku penyerangan.

Juga, pada 18 September 2001, BBC mengangkat sebuah laporan tentang keterkaitan Osama dengan AS/CIA. Osama lahir di Arab Saudi. Pada tahun 1979, ia pergi ke Afghanistan untuk melawan invasi Soviet. Di sana, ia menerima pelatihan dari CIA.

Keempat, ketika Roger Ferris ditangkap oleh kelompok jihadis, ada interogasi yang diwarnai perdebatan sengit. Kelompok jihadis menghalalkan kematian orang yang dianggap kafir (non-Islam). Sebaliknya, Ferris menyerang keyakinan kaum jihadis sebagai kesalahan menafsirkan kitan suci.

Saya merasa tidak punya kompetensi untuk memasuki ke perdebatan itu. Namun, bagi saya, tindakan menghilangkan nyawa orang lain tidak dibenarkan oleh hukum kemanusiaan. Jadi, saya tidak setuju dengan aksi terorisme. Namun, saya juga mengutuk penyerbuan atas nama demokrasi terhadap Irak dan Afghanistan.

Kelima, film ini juga mengisahkan kisah asmara antara Roger Ferris dengan Aisha (Golshifteh Farahani), seorang pengungsi Iran yang bekerja sebagai perawat di Yordania. Tanpa prolog, tiba-tiba keduanya memperlihatkan kesan saling menyukai. Padahal, faktor kebangsaan (Iran versus AS) seharusnya menciptakan jarak buat mereka.

Selain itu, Aisah begitu yakin bahwa Ferris adalah seorang konsultan politik. Padahal, ia menyaksikan Ferris dipaksa naik ke mobil oleh anggota intelijen Yordania. Sebegitu polosnya Aisah, sampai-sampai ia tak curiga sedikitpun bahwa Ferris adalah agen AS.

Bagi saya, film ini menelan mentah-mentah propaganda AS terkait perang melawan terorisme. Akibatnya, film ini lebih menyerupai film propaganda. Padahal, supaya lebih kaya dan hidup, film ini bisa mengambil sudut pandang yang lebih kritis.

Anna Yuliantipemerhati masalah sosial, perempuan, dan HAM

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut