Tom Morello, Dari Musik Perlawanan Hingga Politik

Dalam deretan gitaris terbaik di dunia saat, nama Tom Morello pantas disejajarkan dengan nama-nama seperti Slash (Guns N’ Roses/Snakepit), James Hetfield (Metallica), Jimmy Page (Led Zeppelin), Joe Satriani, dan Carlos Santana.

Bukan hanya seorang gitaris, Tom Morello adalah seorang aktivis politik. Kepada Amy Goodman, jurnalis progressif asal Amerika, Tom menceritakan latar-belakang keluarganya. Ibunya, Mary Morello, adalah pendiri organisasi anti sensor yang disebut Parents for Rock and Rap. Ayahnya adalah seorang Kenya, yang terlibat aktif dalam perjuangan pembebasan nasional negeri itu. Jomo Kenyatta, presiden pertama Kenya dan sekaligus pendiri negeri itu, adalah pamannya dan sering mengajarinya soal politik. “Anda tahu, saya memasang foto Jomo Kenyatta di dinding kamar saya,” katanya.

Dia juga mengaku memiliki buku Kwame Nkrumah, pemimpin dan pejuang pembebasan nasional Ghana dan bangsa-bangsa Afrika. Ia juga mengaku menyimpan buku Che Guevara, Guerrilla Warfare.

Tom sudah malang-melintang dalam dunia musik; dari Rage Against the Machine, Audioslave , The Street Sweeper Social Club, hingga The Nightwatchman sekarang ini.  Tom Morello tetap konsisten menjadi musisi paling aktif dalam memperjuangan keadilan sosial dan demokrasi.

Namanya berkibar pada tahun 1991, ketika ia dan Zack de la Rocha mendirikan band bernama “Rage Against The Machine”, band yang dikenal dengan warna musiknya yang kental dengan politik dan perlawanan. Album pertamanya, Rage Against The Machine, dirilis pada tahun 1992 dengan sampul kontroversial, yaitu seorang Budha yang membakar diri.

Album kedua RATM, Evil Empire (1996), dengan lagu hit-nya “Bulls on Parade”, semakin melambungkan nama band ini di tangga musik saat itu. Berbagai penghargaan diraih oleh Tom Morello dan RATM, termasuk Grammy Award. Album lainnya adalah The Battle of Los Angeles dan Renegade.

Namun, sejak tahun 2000, Zack De La Rocha meninggalkan band ini dan pergi entah kemana. Rumor menyebutkan, Zack pergi ke sebuah daerah di Meksiko, yaitu Chiapas, untuk bergabung dengan gerilyawan Zapatista.

Tom Morello sendiri kemudian merekrut bekas vokalis Soundgarden, Chris Cornell, untuk mendirikan band baru, yaitu Audioslave. Salah satu penampilan terbaik Tom Morello dan Audioslave adalah ketika tampil di hadapan sedikitnya 50.000 rakyat Kuba, di  La Tribuna Antiimperialista José Martí, Havana.

Aktivis Politik

Selain kesehariannya sebagai seorang pemain gitar dan musisi, Tom Morello adalah seorang aktivis politik. Dia adalah anggota dan sekaligus pendiri “Axis Of Justice”, grup politik yang bekerja untuk memperjuangkan hak-hak kaum imigran dan penghapusan hukuman mati.

Keluarga Morello adalah penambang batubara di pusat Illinois, dan nilai-nilai serikat buruh sudah tertanam dalam jiwanya sejak muda. Dia menjadi anggota Industrial Workers of the World (IWW), dan senang sekali menyanyikan lagu “Union Song” dalam setiap aksi mogok buruh dan perayaan May Day.

Lagu “Union Song” ditulis setelah aksi protes menentang Free Trade Area of the America di Miami, tahun 2003. “Diriku bersama Steve Earle, Billy Bragg dan beberapa musisi lainnya baru saja disiram gas air-mata, dan kami di sana bermain untuk rally pekerja baja. Saya tidak punya lagu untuk bermain hari ini, sehingga saya harus menulis satu lagu, sementara gas air mata masih terasa di pakaian saya,” katanya menceritakan kejadian itu.

“Jika anda benar-benar menginginkan perubahan, kau harus menciptakannya, kau harus menuntut ini,” kata Tom Morello. Meski begitu, Tom mengatakan, “politik di jalanan adalah sama pentingnya dengan politik dalam kotak suara.”

Dia juga menyanyikan lagu “Alone Without You”, sebagai pengantar film Sicko, karya Michael Moore, seorang penulis dan sutradara film AS yang sangat kritis.

Terakhir, mengomentari pemilu di Brazil, Tom Morello menyatakan dukungannya kepada Dilma Rousseff, kandidat dari partai buruh dan bekas gerilyawan dalam perjuangan melawan kediktatoran di Brazil. “Dilma Rousseff adalah kandidat untuk kaum miskin, kelas pekerja, dan kaum muda. harapanku adalah bahwa kaum muda Brazil memilihnya,” tulis Tom di Twitternya.

Ketika gerakan “Duduki Wall Street” meluas di berbagai kota di Amerika, Tom Morello adalah pendukungnya. Ia bermain musik di tengah-tengah aktivis OWS (Occupy Wall Street) di Los Angeles. Seminggu kemudian, Tom kembali ‘manggung’ di tengah-tengah aktivis OWS di New York.

“Rakyat yang telah menduduki Wall Street tidak akan menunggu (Presiden Obama) untuk melakukan perubahan. “Ini adalah gerakan dari bawah ke atas. Ini adalah gerakan yang harus diperhitungkan,” ujarnya.

“THE NIGHTWATCHMAN”

“Nightwatchman” adalah nama yang dituliskan Tom ketika mengunjungi warung kopi di Los Anggeles dan bermain di hadapan delapan orang. Tidak ada orang yang tahu dia saat itu. Nama ini kembali dipergunakan saat ikut bermain dengan kawannya, Billy Bragg, dalam Tell Us the Truth tour—sebuah konser untuk menentang perdagangan bebas dan melawan dominasi media besar.

The Nightwatchman sudah meluncurkan dua album, yaitu “One Man Revolution’ (2007)  dan The Fabled City (2008).Tom bermaksud menjadikan “The Nightwatchman” sebagai perwujudan pseudo-Bob Dylan di abad 21, namun ia sendiri sering manggambarkan dirinya sebagai “Robin Hood berkulit hitam abad-21 dalam musik”.

“One man revolution tour” menggandeng sejumlah musisi lain, seperti Serj Tankian, perry farrell, Jon Foreman, Sen Dog (Cypress Hill), dan gitaris Guns n Roses, Slash. One Man Revolution juga merupakan reaksi Tom terhadap kebijakan imperialistis AS saat Bush berkuasa. ‘Ini adalah reaksi terhadap perang illegal dan tak bermoral. Reaksi terhadap penyiksaan dan tekanan terhadap kebebasan sipil. Reaksi terhadap semakin banyak korporasi yang semakin kaya, sementara banyak orang yang mengemis di jalanan,” ujarnya.

Dalam lagu “The Road I Must Travel”, yang bercerita soal anti-kekerasan, anda akan menyaksikan video clip lagu ini akan dipenuhi oleh background gambar sejumlah tokoh besar dunia, diantaranya: Mahatma Gandhi, Joe Hill, Che Guevara, Malcom X, Sub Commandante Marcos, Frederick Douglass, Emma Goldman, dan lain-lain.

Sementara The Fabled City, yang dirilis pada tanggal 30 september 2008, berisi keprihatian terhadap badai Katrina dan penjara Guantanamo. Lagu “Midnight in the City of Destruction” sangat terang menceritakan penderitaan korban bencana Katrina di New Orleans.

I lost my guitar, my home, my hope and my good fortune
I lost my grandfather, two neighbors and my friend
I pray that God himself will come and drown the president
If the levees break again
Now we’re standin’ at the crossroads waitin’ for instruction
And it’s midnight in the city of destruction

Pemberi Inspirasi

Dalam sebuah wawancara dengan Z.net, Tom mengakui bahwa dirinya sangat terinspirasi Joe Hill, seorang aktivis, pengarang, dan penulis lagu Amerika yang revolusioner. Karya-karya Joe Hill sangat menginspirasinya.

Salah satu perkataan Joe Hill yang paling dikenang oleh Tom Morello adalah; “famplet memberi informasi, tapi musik memberi inspirasi.” “Anda akan menbaca famplet hanya sekali, tetapi anda akan mendengar musik lagi..lagi..dan lagi,” kata Tom Morello.

Namun, dia juga mengaku banyak belajar kepada Bruce Springsteen, Bob Dylan, Woody Guthrie, dan Pete Seeger. Ya, tentu saja, selain Kwame Nkrumah dan Che Guevara. Semasa kuliah, Tom juga menjadi pengikut setia Mohandas K Gandhi dan Martin Luther King Jr, dan menjadi inspirasi bagi lagunya “The Road I Must Travel”.

Rudi Hartono

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut