Negara-negara ALBA Tinggalkan Model Neoliberalisme

Pada tanggal 5 Februari 2012 mendatang, negara-negara anggota Alternatif Bolivarian untuk Amerika (ALBA) kembali menggelar pertemuan ke-11. Rencananya, pertemuan tersebut akan dilangsungkan di Caracas, Ibukota Venezuela.

Menjelang pertemuan penting itu, Presiden Venezuela Hugo Chavez sudah mempersiapkan proposal penting: zona ekonomi bersama yang anti-neoliberal. Itu akan diajukannya dalam pertemuan antar kepala negara ALBA mendatang.

Sekjend ALBA, Amenothep Zambrano, memberi sinyal akan perlunya pembentukan zona ekonomi bersama negara-negara ALBA.

Kepada kantor berita Venezuela, AVN, Zambrano mengatakan, ada usulan untuk ‘perpisahan radikal’ dengan model neoliberal dan sistem perdagangan yang dibasiskan pada logika mencari untung.

Seolah hendak menegaskan dasar argumentasinya, Zambrano menegaskan bahwa model yang dibayangkannya itu sudah dipraktekkan sejumlah negara anggota ALBA: Venezuela, Kuba, Ekuador, Bolivia, Dominika, Antigua-Barbuda, dan Nikaragua.

Ia mencontohkan, pemberlakuan Sistem Tunggal Pembayaran Kompensasi Regional (SUCRE), kerjasama Venezuela-Kuba, dan pembangunan perusahaan antar bangsa.

Model ekonomi baru tersebut, kata Zambrano, akan mengkonsolidasikan model kedaulatan dan kemerdekaan yang sudah dipraktekkan negara-negara ALBA.

“Ini adalah struktur baru dengan partisipasi sosial, tidak mengijinkan eksploitasi terhadap manusia, dan bebas dari spekulasi keuangan,” kata Zambrano.

Zambrano memperhitungakan kondisi global saat ini: krisis kapitalisme. Karena itu, diperlukan arsitektur baru, yang memungkinkan ekonomi Amerika Latin bisa lebih aktraktif.

“Kami harus meningkatkan perdagangan internal, juga memprioritaskan pemenuhan kebutuhan domestik, sehingga meningkatkan perdagangan,” kata Zambrano, seraya mengingatkan bahwa tekanan pembangunan itu harus kualitas.

Pada tahun 2010, negara-negara ALBA sudah menandatangani persetujuan untuk mengkonsolidasikan pembangunan model ekonomi alternatif yang berdaulat.

Dalam dokumen itu, negara-negara anggota ALBA menyororoti perlunya membangun sebuah ekonomi yang saling bergantung, berdaulat, dan memberi ruang untuk praktek solidaritas.

Sebagai cikal bakal untuk gagasan ini akan diperkuat: proyek grandnasional dan perusahaan, Sistem Tunggal Pembayaran Kompensasi Regional (SUCRE), dan pembentukan Bank ALBA.

Koordinator Kebijakan Ekonomi

Pada pertemuan tahun 2010, Chavez mengusulkan adanya penunjukan seorang Koordinator Kebijakan Ekonomi di ALBA. Ia akan bertugas mendiagnosa dan mengevaluasi situasi ekonomi di negara-negara anggota, dan menetapkan tindakan untuk penyatuan dan integrasi ekonomi dengan perspektif sosialis.

Dalam pertemuan 5 Februari mendatang, Presiden dari semua negara-negara anggota sudah menunjuk koordinator dimaksud.

Zambrano menginformasikan bahwa model ekonomi “mixed ventures” antara Kuba dan Venezuela akan diperluas termasuk ke negara lain bukan sebagai klain, tapi sebagai mitra.

Dalam konteks itu, Zambrano menggarisbawahi zona ekonomi yang dirancang oleh ALBA ini sangat potensi, dengan memperhitungkan 63 juta penduduk yang termasuk dalam negara-negara anggota ALBA dan 70 milyar dollar AS perdagangan dan sumber daya di kawasan ini.

‘Kami ingin layanan keuangan tidak bergantung pada untung (profit), tetapi menghasilkan kedaulatan pangan dan kemandirian teknologi. Hal itu untuk mengakhiri ketergantungan terhadap model perdagangan ala WTO,” kata Zambrano.

Meski pertemuan resmi baru akan dibuka pada 5 Februari mendatang, tapi sejak Jumat ini acara sudah dimulai dengan pertemuan seluruh gerakan sosial dan gerakan rakyat di negara-negara anggota ALBA. Mereka akan mendiskusikan soal pembangunan gerakan rakyat di kawasan itu.

ALBA dibentuk pada tahun 2004 lalu. Negara pembentuk ALBA meliputi: Saint Vincent-Grenadines, Antigua- Barbuda, Dominika, Nikaragua, Kuba, Bolivia, Ekuador dan Venezuela.

RAYMOND SAMUEL/ AVN

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut