TNI dan Polri Kawal Perusahaan Malaysia Gusur Warga SAD Jambi

Ratusan pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Brigade Mobil (Brimob) Polri mengawal proses penggusuran yang dilakukan oleh PT. Asiatic Persada (AP), anak perusahaan dari Wilmar Group asal Malaysia, terhadap warga Suku Anak Dalam (SAD) di Padang Salak, Desa Bungku, Kecamatan Bajubang, Batanghari, Sabtu (7/12/2013).

Proses penggusuran itu dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Saat itu sebagian besar warga SAD sedang beraktivitas di ladang. Namun, tiba-tiba datang 1500-an pasukan gabungan TNI, Brimob, Security PT. SAD, dan preman menyerang dan merusak rumah petani.

Eko Purwanto, aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang berada di lokasi kejadiaan, mengungkapkan bahwa kedatangan ribuan pasukan gabungan tersebut tidak diketahui oleh warga SAD. “Tiba-tiba mereka datang merusak rumah warga, mencabuti bendera PRD dan STN, dan mengusir warga keluar lokasi,” ungkap Eko.

Saat itu, kata Eko, begitu warga mengetahui pihak PT. Asiatic Persada datang melakukan penggusuran paksa, sekitar 70-an warga dan aktivis PRD mencoba melakukan perlawanan. Namun, perlawanan warga itu dipatahkan.

TNI dan Brimob melepaskan tembakan berulang-kali. Akibatnya, sebagian besar warga SAD melarikan diri karena ketakutan. Tak hanya itu, sejumlah security dan preman bayaran PT. Asiatic Persada mengumbar senjata tajam dan mengancam membacok warga.

Eko Purwanto, yang berusaha memimpin kawan-kawannya bersama warga SAD melawan ribuan pasukan gabungan itu, menjadi sasaran penyerangan yang dilakukan TNI, Brimob, dan Preman. “Alat komunikasi saya, seperti ponsel dan handy-talk, disita oleh mereka,” kata Eko.

Tak berhenti di situ, beberapa security dan preman bayaran perusahaan berusaha memukul Eko dengan botol. Namun, Eko berhasil menangkis pukulan itu dengan tangan kirinya. Akibatnya, pergelangan tangan kiri Eko terluka parah.

Tak hanya itu, para security dan preman bayaran PT. Asiatic Persada juga mengejar-ngejar Eko dengan parang. Para preman dan security PT. Asiatic juga mengejar dan mengintimidasi warga SAD lainnya.

Warga SAD sendiri berusaha melawan dengan peralatan seadanya, seperti kayu dan bambu runcing. Namun, karena TNI dan Polisi terus melepaskan tembakan, warga SAD pun terdesak.

Informasi yang dihimpun oleh Berdikari Online menyebutkan, banyak warga yang mengalami luka karena aksi kekerasan TNI, Polri, security, dan preman bayaran PT. Asiatic Persada. Seorang bernama Angga ditangkap oleh pihak perusahaan.

Aksi brutal pasukan gabungan TNI, Polri, dan preman ini juga membawa kerugian materil. 3 kendaraan roda dua milik warga dirampas paksa oleh pihak security dan preman. Sementara sejumlah kendaraan roda dua milik warga lainnya dirusak oleh security dan preman tersebut.

Tak hanya itu, hingga berita ini diturunkan, sudah ada ratusan rumah warga SAD yang dirusak. Akibatnya, ratusan kepala keluarga yang kesemuanya warga SAD kehilangan tempat tinggal. Sementara ratusan warga SAD lainnya, terutama ibu-ibu dan anak-anak, mengalami ketakutan dan trauma mendalam.

Eko mengungkapkan, ribuan pasukan gabungan TNI, Polri, security, dan preman perusahaan itu mengaku dari Tim Terpadu Batanghari. Namun, ketika warga memintai surat perintah penggusuran dari Tim tersebut, mereka tidak bisa menunjukkan. Bahkan, anggota TNI hanya membalasnya dengan tembakan.

Puluhan tahun yang lalu masyarakat Suku Anak Dalam 113 mendiami sebuah kawasan di Bajubang, Batanghari. Namun, sejak tahun 1986, wilayah pemukiman Suku Anak Dalam tersebut diklaim oleh PT.Bangun Desa Utama BDU.

Lalu, pada tahun 2007, kepemilikan lahan itu beralih ke tangan perusahaan yang baru, PT. Asiatik Persada, anak perusahaan Wilmar Group, yang berkantor di Malaysia. Sejak itu, masyarakat SAD terusir dan hidup berpencar-pencar. Namun, sejak itupula warga SAD berjuang untuk merebut kembali hak-haknya.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut