Thailand Memasuki Krisis Demokrasi

Senin, 17 Mei 2010 | 02.08 WIB | Dunia Bergerak

BANGKOK, Berdikari Online: Setidaknya 29 orang tewas dan lebih 200 orang lainnya mengalami luka parah dalam empat hari serangan militer Thailand terhadap kaos merah. Lebih dari 50 orang tewas dan 1600 orang terluka semenjak protes dimulai 12 maret lalu, demikian digambarkan kementrian pelayanan dan kesehatan publik.

Sampai hari minggu (16/5), tentara terus melakukan serangan brutal terhadap demonstran anti-pemerintah dan rakyat sipil. Siaran BBC Thai memperlihatkan bagaiman tentara Thailand berada dalam posisi yang mirip perang sungguhan, padahal lawannya adalah warga sipil. Disamping itu, sejumlah gambar juga memperlihatkan aksi penembak jitu yang ditempatkan di gedung-gedung tinggi.

Akibat dari aksi brutal militer tersebut, korban tidak hanya berjatuhan dari pihak pengunjuk rasa dan warga sipil, tetapi juga sejumlah jurnalis. Seorang photographer dari The Nation ditembak berulang-kali di bagian kaki ketika berada diantara demonstran dan tentara. Ini menambah daftar korban wartawan tertembak dalam serangan militer ini, demikian dilaporkan Bangkokpost.

Pihak militer mendeklarasikan “zona merah” untuk sejumlah tempat di Kota Bangkok, yang mana militer diijinkan untuk menggunakan peluru tajam terhadap siapa saja yang mau memasuki kawasan tersebut.

Sebelumnya, pemerintah sudah mengumumkan rencana pemberlakuan jam malam di Bangkok, namun rencana tersebut akhirnya tertunda.

Kaos Merah Tidak Menyerah

Situasi Thailand telah mengarah pada perang. Terkait hal itu, pihak kaos merah membuka sinyal untuk berdialog dengan pemerintah, asalkan pasukan militer ditarik kembali ke markas. Namun, sepertinya, pihak pemerintah tidak bersedia memenuhi tuntutan menarik mundur militer.

Di tengah-tengah serangan brutal pasukan militer, pihak kaos merah dan rakyat menyatakan tidak akan gentar ataupun mundur. Kaos merah dan pendukungnya berencana akan memperluas protes ini ke seluruh negeri. Perlawanan akan terus dilakukan hingga PM Abhisit meletakkan jabatan.

Di berbagai medan pertempuran, rakyat dan kaos merah terlihat memberikan perlawanan gagah-berani, meskipun hanya bersenjatakan bom bensin, ketapel, dan batu. Mereka juga menggunakan tumpukan ban bekas untuk berlindung dari tembakan membabi-buta.

Abhisit Membunuh Demokrasi

Keputusan PM Abhisit untuk menggunakan militer telah menutup ruang negosiasi, sekaligus memukul mundur demokrasi di negeri ini. Lebih dari itu, menurut Giles Ji Ungpakorn, dari Chulalongkorn University dan aktivis LeftTurn, Abhisit tidak pernah terpilih secara demokratis, melainkan melalui proses kudeta militer pada tahun 2006.

Sebaliknya, kaos merah adalah gerakan massa rakyat miskin seperti petani, buruh, dan kaum miskin di perkotaan. Mereka menginginkan sebuah pemilu yang demokratis, tidak lebih. Untuk itu, mereka telah mengorganisir protes damai untuk mencapai tuntutan ini, tetapi kaum pemerintah dan kaum royalis semakin terusik dengan semakin membesarnya dukungan terhadap protes ini. (Rh)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut