“Django” Dan Pembebasan Budak

Django Unchained (2012

Sutradara:  Quentin Tarantin
Penulis cerita:  Quentin Tarantin
Tahun Produksi: 2012
Durasi: 160 menit
Pemain: Jamie Foxx, Christoph Waltz, Leonardo DiCaprio, dan Kerry Washington

Di penghujung tahun 2012, ada dua film bertema perbudakan yang lahir di Amerika Serikat: Lincoln dan Django Unchained. Film Lincoln menceritakan perjuangan Presiden AS Abraham Lincoln meloloskan amandemen ke-13 konstitusi AS guna menghapus perbudakan. Itu terjadi tahun 1865.

Sedangkan Djanggo Unchained, yang digarap oleh sutradara  Quentin Tarantino, mengambil setting peristiwanya di tahun 1858—dua tahun sebelum meletusnya perang sipil di AS. Saat itu, perbudakan masih ganas-ganasnya. Richmond Daily Dispatch melaporkan penangkapan 90-an orang budak karena berusaha mendapatkan pendidikan.

Karakter utama film ini adalah Django, yang diperankan oleh Jamie Foxx. Pada suatu malam, Django dan sejumlah budak digiring dari Texas oleh dua koboi bersenjata. Di tengah jalan, mereka bertemu seorang bekas dokter gigi keturunan Jerman, Dr King Schultz (Christoph Waltz), yang sedang mencari pembunuh bernama Brittle bersaudara.

Djanggo mengaku mengenal wajah Brittle bersaudara. Schultz pun berjanji akan membebaskan Djanggo dengan syarat: Djanggo membantunya menemukan Brittle bersaudara. keduanya bersepakat. Dan, dengan dua-tiga tembakan, Schultz berhasil melumpuhkan koboi pengawal Django.

Ada yang menarik ketika Django dan Schultz masuk ke kota. Orang-orang sangat kaget ketika melihat ada (maaf) Negro menunggangi kuda. Maklum, di jaman perbudakaan itu, para budak diharamkan menungangi kuda. Mereka juga tidak dibolehkan masuk ke bar atau tempat-tempat umum lainnya.

Film ini banyak menembakkan sindiran. Misalnya, ketika Schultz menjelaskan kepada Django, bahwa pemburu bayaran (bounty hunter) punya kesamaan dengan perbudakan: sama-sama membisniskan manusia. Perbudakan membisniskan manusia hidup, sedangkan bounty hunter berbisnis manusia yang sudah jadi mayat.

Singkat cerita, berkat bantuan Djanggo, Schultz berhasil menemukan dan membunuh Brittle bersaudara. Namun, kerjasama mereka belum berakhir. Schultz mengajak Djanggo sebagai mitranya sebagai pemburu bayaran hingga musim dingin selesai. Djanggo menyanggupi hal itu dengan syarat: Schultz membantu Django menemukan istrinya, Broomhilda (Kerry Washington).

Django dan Hildi dipisahkan oleh perbudakan. Sepasang suami-istri ini dimiliki oleh tuan yang berbeda. Awalnya, Hildi dimiliki oleh tuan keturunan Jerman. Itulah yang membuat Hildi bisa berbahasa Jerman. Dan dia dikenal sebagai budak yang bisa berbahasa Jerman.

Setelah mencari kemana-mana, Django dan Schultz mengetahui bahwa Broomhilda sudah dimiliki oleh pemilik perkebunan Candieland di Mississippi. Perkebunan itu dimiliki oleh orang yang bernama Calvin Candie (Leonardo DiCaprio). Ia digambarkan sangat dingin tetapi sadis.

Tuan budak bernama Candie ini punya kegemaran menyaksikan duel antar budak hingga mati. Dia juga tak segan menghukum budaknya dengan membiarkannya diterkam anjing gila. Juga, seperti ditunjukkan dalam film Tarantino ini, seorang budak bisa disekap di ruang pemanasan hanya karena memecahkan telur.

Singkat cerita, untuk membebaskan Hildi, Schultz dan Django memasang rencana. Mereka akan berpura-pura sebagai pembeli budak. Tapi, supaya misinya tak diketahui, mereka berpura-pura hendak membeli budak petarung terbaik milik Candie. Harganya tawarnya tak main-main: 12 ribu dollar. Candie pun tergiur dan mengundang Schultz ke rumahnya.

Tetapi ada karakter lain yang cukup mencolok di film ini, yakni Stephen (Samuel L Jackson), seorang kulit hitam yang hidup nyaman karena menjadi pelayan setia di rumah besar Candie. Stephen ini sangat merendahkan sesamanya kulit hitam. Ia kaget ketika melihat Djanggo menunggangi kuda. Ia juga protes besar ketika Django dibolehkan masuk ke rumah besar dan tidur di dalam.

Stephen ini pula yang mencium rencana Django dan Schultz. Ia memberitahukannya ke Candie. Inilah ujung dari film ini: Candie memaksa Schultz membeli Hildi seharga 12 ribu USD. Namun, ketika Schultz dan Django hendak pergi, Candie meminta jabat-tangan pertanda bisnis sah.

Schultz merasa direndahkan. Ia menembak Candie. Terjadilah tembak-menembak di rumah besar itu. Schultz juga tertembak. Tinggal Django sendirian menghadapi orang-orang Candie. Meski begitu, Django—yang sudah dilatih oleh Schultz—tak bisa dikalahkan. Namun, akhirnya ia dipaksa menyerah setelah kekasihnya, Hildi, disandera oleh Stephen.

Django disiksa. Ia nyaris dikebiri—dibatalkan karena ada hukuman yang lebih sadis, yaitu kerja-rodi seumur hidup di pertambangan. Dalam perjalanan menuju pertambangan, Django berhasil memperdaya orang yang mengawalnya. Ia pun kembali ke perkebunan Candie untuk balas dendam sekaligus membebaskan Hildi.

Film garapan Tarantino ini menarik. Pertama, jarang sekali ada film koboi menempatkan budak sebagai aktor utamanya. Bahkan menjadikan kisah percintaan dua orang budak sebagai tema utama. Dengan film ini, Tarantino memang terkesan sangat provokatif.

Kedua, Tarantino menempatkan kaum budak—melalui sosok Django—sebagai pembebas atas dirinya sendiri. Ini sangat berbeda dengan film “Lincoln”. Film garapan Steven Spielberg itu menempatkan orang kulit putih (Abraham Lincoln dan pendukung Abolisionis) sebagai agen pembebas.

Ketiga, Tarantino berhasil menyisipkan pesan penting di filmnya ini: motif keuntungan dibalik perdagangan manusia. Kita menjadi faham, mengapa klas berkuasa di AS mati-matian membela perbudakan. Bahkan, mereka menggunakan dalil agama dan sains untuk membenarkan praktek keji mereka. Eksploitasi tenaga kerja budak merupakan salah satu penggerak kapitalisme awal di AS.

Namun, film Tarantino ini bukan tanpa kontroversi. Tarantino dianggap kurang sensitif terkait soal ras karena menggunakan kata “N”. Kata “N” memang terucap 110 kali dalam film berdurasi 160 menit ini.

Spike Lee, sutradara film AS keturunan negro, menganggap film Django Unchained sebagai penghinaan terhadap leluhurnya. “Perbudakan di AS bukanlah Sergio Leone Spaghetti Western. Ini adalah holocaust. Leluhurku adalah budak. Diculik dari Afrika. Saya menghormati mereka,” kata Lee di Twitternya.

RUDI HARTONO

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut