Terima Kasih-Terima kasih-Terima kasih

Terima kasih? Terima kasih kepada siapa? Kok bisik bisik ngomong sendiri. Emangnya  sudah kichigai = gila.   Kichigai no hito wa jibun de hanasu = orang gila ngomong sendiri.

O…. bukan, aku gak gila. Aku Cuma berterima kasih kepada Berdikari  Online. Mengapa berdikari online?  Dia memuat seluruh tulisan The Founding Father kita BUNG KARNO. Itu sangat penting kalau orang mau baca.

Aku memang kelihatan sedih. Ya, aku memang sedih sekali, sebagian besar dari kita malas membaca. Lain dari di Jepang semua membaca dan waktu yang 24 jam itu seakan-akan kurang.  Di bus yang penuh sesak, di kereta listrik  dan di mana saja orang berlomba dengan waktu untuk membaca. Jadi gak perlu heran kalau mereka pintar-pintar.

Di Indonesia ini kemauan membaca kurang. Mempunyai ilmu sedikit saja merasa dirinya pintar dan segan membaca tulisan orang lain menganggap dirinya sudah cukup pintar dan mengerti segalanya. Pikiran sendiri lebih baik daripada orang lain, menganggap orang lain salah dan cela sana cela sini.

Tahu gak, aku lihat di facebook yang menulis SBY itu angkat orang yang karbitan, takut angkat yang lebih pintar, takut disaingi dan lain lagi. Yang nadanya lebih pintar.

Boleh boleh saja tapi menurutku lebih baik gak usah mencela orang lain. Kalau memang punya kemampuan robahlah keadaan negeri yang morat marit ini. Gak usah banyak omong kerjalah.

Jalan yang ditunjukkan Bung Karno sudah lama ada. Apa salahnya ramai-ramai menuntut rehabilitasi Bung Karno. Sampai hari ini kan belum direhabilitasi mau tunggu apa lagi.

Ada lagi di facebook yang menulis  Suharto lebih kejam dari komunis. Di facebook sengaja kumuat komunisme, komunis dan partai komunis.

Maksudku supaya pada ngerti komunis itu artinya apa yang gak lain adalah gotong royong, warisan leluhur kita.  Bedanya komunis itu bahasa asing dan gotong-royong itu bahasa Indonesia .

Coba baca baik-baik ajaran bung karno sebenarnya marhaenisme itu apa? Arti sebenarnya gotong royong bukan?

Aku anjurkan semua yang ingin  pintar bacalah tulisan Bung Karno  di Berdikari Online mumpung tanpa bayar. Biasakanlah rendah hati jangan menganggap lebih pintar dari orang lain.  S1 itu gak ada yang tertempel didada di Jepang yang di sini undangan nikah pun tempel  S1 nya. Pemilihan umum diam-diam beli ijazah palsu dan lain-lain yang sungguh menertawakan dan mengeliksan.

Sadarilah, kita gak mungkin bersekolah sampai akademi atau perguruan tinggi tanpa adanya Proklamasi 17 Agustus 1945 oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Kalau gak ada proklamasi itu. Kita masih dijajah kolonialis Belanda  dan paling-paling kita sekolah ONGKO LORO yang dua tahun itu. Masih untung kalau kita bisa jadi Juru Tulis Desa atau jadi KNIL (Koninglijke Nederlansch Indische Leger – tentara kompeni Belanda) seperti  pak Suharto – algojo ’65 – itu, yang lari ngibrit waktu Jepang masuk ke Indonesia .

Coba bayangkan apakah akan ada Presiden, Menteri, Jenderal, orang-orang berpangkat tinggi  tanpa adanya proklaamasi  17 Agustus 1945 Bung Ksrno – Hatta?

Mari kita semua baik pejabat / militer yang progresif  revoludioner yang masih ingat siapa BUNG KARNO the founding father kita bersama-sama  Rakyat  merehabilitasi Bung  Karno.

Mari kita baca kembali BERDIKARI ONLINE  dan mari kita hilangkan sifat-sifat jelek yang mnenganggap dirinya “serba tahu”. Sadarlah, pengetahuan kita belum berarti apa-apa dibandingkan banyaknya ilmu pengetahuan yang belum kita ketahui.

Itulah sebabnya aku Tri Ramidjo yang 84 tahun ini masih terus belajar dan bagiku “malas belajar adalah sudah mati sebelum mati”.

Mari ramai-ramai agar kita  mengerti ajaran-ajaran  Bung Karno,  kita baca  tanpa jemu BERDIKARI  ONLINE.

Tri Ramidjo, eks Digulis, pejuang kemerdekaan, telah menulis 30 judul Cerpen yang dikumpulkan dalam “Kisah-kisah dari Tanah Merah” yang semua itu ditulis sekitar tahun 2006, 2007, dan 2008.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Hinu Endro Sayono

    Sepakat dengan Bapak Tri Ramidjo.

    Acungan ‘jempol’ -dua tangan- atas upaya tak kenal lelah pejuang muda-usia dari Berdikari Online.

    Maju terus!
    Pantang mundur!

    Salam juang,
    hes