Kekayaan Sang Jenderal Polisi

Penelusuran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap aset Inspektur Jenderal Polisi Djoko Susilo, tersangka kasus dugaan korupsi proyek simulator di Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri, membawa hasil yang sangat mengejutkan. Aset mantan Kepala Korlantas Polri ini tersebar dimana-mana: puluhan rumah, tiga stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), sejumlah kendaraan pribadi dan bus, dan tanah seluas 7.000 meter .

Hingga saat ini, nilai aset Djoko Susilo yang disita KPK mencapai mencapai Rp 60 miliar hingga Rp 70 miliar. Namun, KPK menduga nilai keseluruhan aset Djoko mencapai Rp 100 milyar. Sementara nilai proyek pengadaan simulator SIM diperkirakan tidak lebih dari Rp 200 miliar.

Banyak yang menilai, kekayaan Irjen Djoko itu tidak wajar. Apalagi, jika dihubungkan dengan gajinya sebagai perwira Polri. Untuk diketahui, gaji pokok Kapolri adalah Rp 4.717.500. Bila ditambah dengan tunjungan dan fasilitas lainnya, maka pendapatan seorang Kapolri rata-rata dalam satu bulan mencapai Rp 25 juta. Sementara gaji pokok perwira Polri dengan pangkat Brigjen atau bintang satu adalah Rp 2.644.400. Artinya, gaji pokok Irjen Djoko Susilo hanya berkisar Rp 3 juta – 4 juta.

Pada bulan Juni 2010 lalu, sempat tercium informasi mengenai sejumlah petinggi kepolisian yang punya “rekening gendut”. Laporan investigasi Majalah Tempo edisi pekan terakhir Juni 2010 juga menyingkap dugaan tersebut. Sayang, Presiden SBY dan aparat hukum terkait tidak begitu merespon isu ini. Akhirnya, isu rekening gendut pun tenggelam.

Namun, dengan terungkapnya kasus Irjen Djoko ini, isu rekening gendut tentu bukan isapan jempol belaka. Di tengah praktek korupsi yang mencengkeram kuat negeri ini, hampir tak ada institusi negara yang terbebas dari praktek korupsi. Wakil Kepala Kepolisian RI, Komisaris Jenderal Nanan Sukarna, pernah membenarkan bahwa praktek korupsi juga terjadi di lingkup lembaga Kepolisian RI. (Sumber: Tempo Interaktif)

Bahkan, menurut Komjen Nana Sukarna, kendala Polri dalam memberantas korupsi adalah gaji yang rendah. “Masalah gaji itu memang menjadi salah satu kesulitan dalam pemberantasan korupsi,” kata Nanan saat membawakan materi di Seminar Nasional Komisi Kejaksaan di Hotel Atlet Century, Kamis, 11 Oktober 2012.

Dulu, orang menjadi aparat negara, termasuk kepolisian, karena penggilan untuk mengabdi kepada ibu pertiwi. Karena itu, mereka pun tak pernah mempersoalkan berapa gaji yang mereka terima. Tak heran, di masa lalu, kita menemukan sosok polisi seperti Jenderal Hoegeng, yang kebal terhadap segala bujuk rayu suap dan korupsi. Ia pun rela hidup sederhana, sebagaimana rakyat kebanyakan, demi menjalankan pengabdiannya kepada negara dan rakyat itu.

Sekarang suap menjadi hal yang dianggap biasa. Bukan rahasia lagi, untuk menjadi anggota kepolisian, tak sedikit calon yang mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk memuluskan jalan. Sudah begitu, ketika kekuatan kapital makin menentukan kehidupan ekonomi-politik, hampir semua lembaga negara dibuat tunduk dihadapan kekuatan pemilik modal. Tidak sedikit kasus pemilik modal menyuap aparatus negara, termasuk polisi.

Fakta itu diperkuat oleh temuan Indonesian Development of Economics and Finance (INDEF), bahwa biaya suap terbesar yang dikeluarkan pengusaha untuk menjalankan roda bisnisnya ternyata diterima oleh polisi. Persentasenya mencapai 48% total biaya siluman yang harus dikeluarkan pengusaha. Sementara sisanya mengalir ke instansi Bea Cukai sebesar 41 persen dan Imigrasi 34 persen.

Inilah tantangan kepolisian saat ini. Publik berharap, sebagai lembaga penegak hukum, kepolisian berada di garda depan dalam memerangi korupsi dan suap. Namun, supaya bisa begitu, tentu saja kepolisian dituntut bisa membersihkan internalnya terlebih dahulu. Dulu, kita gerah dengan keterlibatan TNI dalam berbisnis. Maka sekarang ini, di era reformasi ini, kita tak mau Polisi malah berbisnis. Lebih baik kepolisian memaksimalkan tugasnya menjaga kemanan dan ketertiban, melindungi rakyat, dan menegakkan hukum di Republik ini.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut