Sandal dan Otak

Seorang anak kecil dihukum hormat bendera di lapangan oleh sang guru, gara-gara ia mengenakan sandal jepit yang sudah buluk. Sang guru merasa anak tersebut tidak memiliki kesantunan yang cukup dan melanggar tata tertib sekolah yang mengharuskan setiap muridnya berpakaian rapi, termasuk bersepatu. Si anak hanya pasrah menjalani hukuman yang akan berlangsung sepanjang jam sekolah.

Di waktu istirahat, salah seorang kawan kelasnya mendatangi bocah itu dan memberikannya segelas air minum. Ia bertanya, mengapa kawannya itu melanggar aturan sekolah mengenai sepatu dan hanya mengenakan sandal? Sang kawan menjawab, sepatunya sudah rusak, solnya telah aus dimakan aspal, sementara bapaknya tidak memiliki uang untuk membelikannya sepatu baru. Akhirnya demi keinginannya untuk belajar, ia nekad mengenakan sandal. Ia tahu akan dihukum, tapi ia tidak tahu kalau hukumannya adalah tidak memperbolehkan ia mengikuti pelajaran. Toh ia hanya ingin belajar.

Esoknya si anak yang dihukum kembali datang ke sekolah masih dengan mengenakan sandal, tapi kini ia tidak sendiri. Kawannya yang kemarin menghampirinya melakukan hal yang sama. Kedua anak itu bersekolah dengan hanya mengenakan sandal. Akibatnya kedua anak itu harus menjalani hukuman yang sama seperti kemarin. Melihat kedua kawannya menjalani hukuman hormat bendera karena mengenakan sandal ke sekolah membuat beberapa kawan sekelasnya terusik. Mereka mendatangi kedua anak tersebut dan kembali bertanya mengapa berdua dihukum. Anak yang pertama dihukum ia tetap mengenakan sandal karena ia tidak memiliki uang untuk membeli sepatu. Dan anak yang kedua yang dihukum menjawab, bahwa ia hanya ingin belajar meski hanya mengenakan sandal.

Keesokan harinya beberapa anak mengenakan sandal ke sekolah. Ini membuat ibu guru marah dan bingung. Ia memanggil semua anak yang bersandaldan bertanya mereka semua pergi ke sekolah hanya dengan mengenakan sandal, bukankah mereka adalah anak-anak yang mampu membeli sepatu? Anak2 itu menjawab, mereka hanya ingin belajar walau hanya bersandal. Sang guru bertanya, “Siapa yang mengajarkan kalian seperti itu?” Salah seorang anak menunjuk pada anak kedua yang sehari sebelumnya dihukum.

Ibu guru itu pun bertanya kepada anak yang ditunjuk tersebut tentang apa yang ia lakukan, sehingga beberapa kawan kelasnya melakukan hal yang sama dengan dirinya, padahal ia tau risiko mengenakan sandal ke sekolah adalah dihukum. Si anak ini menjawab, “Saya katakan kepada teman-teman, bahwa teman saya dihukum dan tidak boleh mengikuti pelajaran hanya karena ia bersandal, padahal ia tidak memiliki uang untuk membeli sepatu. Apakah kalau kita bersandal, kita juga dihukum tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran di kelas?”

Si ibu guru menatap nanar anak itu. Ia menghela napas dan akhirnya membatalkan hukuman kepada anak-anak yang bersandal. Ia menyuruh mereka kembali ke kelas sambil membatin, “Anak-anak ini hanya ingin belajar, mengapa ia harus menghalangi niat baik mereka? Toh letaknya pengetahuan ada di otak dan bukan di kaki, mengapa ia harus menghukum anak-anak yang bersandal pergi ke sekolah?”

Surabaya, 11 Juni 2012, jam 03.45 WIB

Dewi Indra Puspitasari, penulis lepas, tinggal di Jogjakarta. Email: [email protected]

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut