Teaterikal Jalanan Sorot Peristiwa Malari

Dua orang mengenakan jubah hitam sebagai lambang militer menggenggam seutas tali berukuran kurang lebih 8 meter. Wajah mereka hitam kelam, mencerminkan kegananasan militerisme pada masa itu, tepat pada 15 januari 1974, mereka menghabisi sisa-sisa keberanian mahasiswa yang berusaha untuk menolak UU penanaman modal yang dipaksakan untuk masuk usai di Indonesia pasca konferensi Jenewa.

Dua orang itu berusaha menarik paksa orang yang dililit kain berwarna putih dengan menggunakan tali berwarna hijau perlambang angkatan darat hingga tubuhnya terseret-seret meski ia mencoba untuk berontak, namun tali itu kian kencang melilit tubuh dan lehernya.

Mereka adalah sekelompok pemuda dan pemudi yang tergabung dalam teater wani. Teater yang seringkali mengungkapkan persoalan sejarah dalam pementasannya ini kali ini mencoba menyampaikan peristiwa malapetaka lima belas januari.

Meski sebelumnya harus dipersulit oleh pihak kepolisian lantaran menjadikan malaria sebagai temanya, namun akhirnya mereka tetap melakukan pementasan teater jalanan di depan kampus Universitas Jember.

“Tadinya kami ingin melintasi jalan untuk sekaligus mengajak masyarakat ikut menengok kembali tentang sejarah. Tapi pihak kasat intel polres Jember menangguhkan keinginan kami dan kami hanya diperbolehkan untuk pementasan di depan kampus,” jelas Ari Yudiriyanto, pimpinan produksi teater Wani.

Menurutnya, ia sempat bersitegang dengan kasat intel saat melakukan pemberitahuan. Selama satu minggu sebelum pementasan, surat pemberitahuan sudah disampaikan kepada pihak kepolisian namun, hingga satu hari menjelang hari H, dirinya terus dipontang-pantingkan dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal.

Arif mengatakan, Kasat intel terlalu takut memberikan ijin pementasan teaterikal jalanan lantaran tema yang diangkat adalah peristiwa malapetaka lima belas januari (MALARI). Tema itu, kata dia, dianggap akan menyinggung pihak angkatan darat sehingga tidak diperbolehkan untuk disampaikan.

“Kita bahkan sempat disuruh mengganti tema agar bisa mendapatkan ijin untuk melakukan pementasan. Tapi kita tetap bersikukuh untuk tidak mengganti tema yang akan kita bawa,” ujarnya.

Peristiwa Malari ini, kata dia, sangat penting untuk disampaikan pada masyarakat, utamanya kaum muda atau mahasiswa. Sebab, keterputusan sejarah sejak jaman orde baru membuat mahasiswa kian terlena dengan aktifitas di dalam kampus dan tak lagi peka dengan situasi nasional yang kian pelik.

Kedepan, ia berharap, mahasiswa dalam hal ini kaum muda haruslah kembali pada sitenya. Kembali untuk menjadi againt of change dan againt of social control dalam menyikapi persoalan yang terjadi di dalam negeri.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
Tags: