Perempuan Harus Terlibat Dalam Mewujudkan Cita-Cita Proklamasi 1945

Sebagaian rangkaian dari Peringatan Hari Perempuan Sedunia tahun 2015, Aksi Perempuan Indonesia (API) Kartini dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) bekerjasama dengan mahasiswa Universitas Udayana yang menamakan diri Kelompok Belajar Mahasiswa Progresif (KBMP) mengadakan Diskusi Publik bertajuk ‘Membangun Karakter Perempuan Progresif yang Trisakti dengan Persatuan Nasional Untuk Mewujudkan Cita-Cita Proklamasi UUD 1945’, di Museum Lukisan Sidik Jari Denpasar, Bali, (8/3/2015).

Acara diskusi ini dihadiri oleh puluhan mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai fakultas dan organisasi gerakan mahasiswa di Denpasar. Selain itu, diskusi juga menghadirkan narasumber dari Perempuan Indonesia Raya (PIRA Bali), Ni Luh Ayu Adi Wardani, S.P., S.H. (pengamat politik), Nyoman Hartini, S.H (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia/IWAPI Bali) , Novi Dwi Jayanti, S.S (API Kartini).

Diskusi diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh seluruh partisipan, lalu diikuti dengan pementasan musik akustik dari UTE Band yang digawangi di vokal oleh Maya (anggota GMNI Denpasar), lalu dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Vio, seorang remaja putri dari SMA di Denpasar. Yang mengesankan adalah puisi tersebut diciptakan langsung oleh I Gusti Ngurah Gede Pemecutan, seorang keturunan Raja di Bali dari Puri Pemecutan yang juga seorang pelukis senior Bali yang meraih Rekor Muri karena melukis hanya dengan ujung telunjuknya dan menghasilkan karya lukisan sidik jari. Puisi tersebut khusus dihadiahkan untuk menyambut kelahiran API Kartini dan diberi judul API, dengan isinya sebagai berikut:

API

Aksi Perempuan Indonesia
Disingkat API, punya arti dan filosofi
Diharapkan semangatmu, bagai api
Menyala berkobar, membakar segala

Diampun, tetap panas membara,
Bagai api, dalam sekam
Semangat perjuangan, tak pernah padam
Bergerak, mencapai tujuan dan cita-cita
Menuntut hak dan martabat perempuan
Kita perempuan muda Bali, jangan ketinggalan
Berjuanglah, memimpin perjuangan, emansipasi
Persamaan hak dan kewajiban perempuan dan laki-laki

Dalam kehidupan, menjadi sama dan seimbang
Mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan
Semoga Tuhan memberkati dan mengabulkan
Damai di hati, damai di bumi, di masa datang

Sebagai bentuk apresiasi API Kartini terhadap seniman Bali yang masih memiliki semangat juang, maka secara simbolik diserahkan sebuah karikatur wajah Ngurah Gede Pemecutan.

Diskusi berlangsung santai namun perdebatan cukup hangat di antara para narasumber. Luh Ayu Adi dari PIRA Bali menyatakan bahwa peran perempuan dalam dunia politik masih sangat minim, terbukti dari 55 kursi di DPRD Provinsi Bali hanya terisi 4 kursi oleh perempuan. Artinya, kuota 30% perempuan di parlemen di Bali tidak dapat terpenuhi. Luh Ayu Adi meyakini bahwa keberhasilan perempuan masuk dalam parlemen adalah tidak lepas dari dukungan yang luar biasa dari suami mereka.

Nyoman Hartini memiliki perspektif berbeda. Menurutnya, tidak perlu ada kuota 30% yang dipaksakan oleh pemerintah untuk perwakilan perempuan karena itu sama saja dengan meragukan kemampuan perempuan bila dibandingkan dengan kemampuan laki-laki. Ia menambahkan, sama seperti berkompetisi dalam dunia bisnis, tidak perlu ada pemberian keistimewaan terhadap perempuan karena sesungguhnya perempuan mampu bersaing, tetapi hanya butuh kepercayaan diri.

Bagi kedua narasumber tersebut, prinsip yang membedakan antara perempuan berpolitik dan berbisnis adalah masalah keuangan, bahwa berpolitik mengeluarkan uang, sedangkan berbisnis menghasilkan uang.

Menyikapi perbedaan pandangan tersebut, Novi Dwi Jayanti dari API Kartini menjelaskan soal pentingnya gotong royong antara laki-laki dan perempuan untuk menciptakan sebuah keharmonisan sekecil-kecilnya dalam keluarga dan menguatkan persatuan nasional sebesar-besarnya bagi negara untuk melawan imperialisme.

Menurutnya, pokok persoalan yang penting yang perlu menjadi perhatian adalah tentang perempuan yang tertindas dan marginal, yang jauh dari akses pendidikan sehingga mengalami keterbatasan untuk meningkatkan kualitas dirinya dalam memenuhi kebutuhan ekonomi ataupun untuk terlibat dalam aktivitas politik praktis.

Karena itu, menurut dia, negara harus hadir di tengah-tengah rakyat yang paling membutuhkan. Ia menambahkan, “berpikir besar akan membuat kita mampu mencapai hal-hal besar. Dan cita-cita proklamasi kita untuk menghapuskan penindasan bangsa atas bangsa adalah PR besar yang harus diselesaikan, dan perempuan harus terlibat sedalam-dalamnya.”

API Kartini Bali menutup diskusi dengan menyatakan secara tegas untuk mendesak pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla untuk membuktikan komitmennya terhadap perbaikan kehidupan perempuan Indonesia dengan cara:

Pertama, konsisten menjalan Trisakti dan Nawacita, demi Indonesia yang berdaulat, berdikari, dan berkepribadian: lepas dari cengkraman imperialisme.

Kedua, memperluas dan memperdalam cakupan program kerja Kementrian Pemberdayan Perempuan dan Perlindungan Anak sehingga dapat mengatasi lebih banyak persoalan perempuan terutama di kalangan perempuan buruh, petani, dan perempuan miskin kota.

API Kartini Bali juga menyerukan kepada kaum perempuan Indonesia untuk bersatu bersama kekuatan rakyat lainnya dalam membangun persatuan nasional anti neoliberalisme seluas-luasnya dalam kerangka pembebasan nasional, dan mengajak kaum perempuan untuk terlibat dan berperan aktif dalam wilayah publik di tingkat lokal maupun nasional.

Novi Dwi Jayanti

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut