Presiden Tunisia Digulingkan Oleh Gerakan Massa

Presiden Tunisia Zine El Abidine Ben Ali akhirnya memutuskan untuk mengundurkan dari jabatannya setelah dipaksa oleh gelombang aksi massa.

Dua hari sebelumnya, tanggal 13 Januari, Presiden Ben Ali menyatakan bahwa dirinya baru akan mundur pada tahun 2014. Sehari kemudian, Ben Ali memberlakukan keadaan darurat dan membubarkan kabinet serta parlemen.

Ben Ali, berusia 74 tahun, disebutkan mengundurkan diri setelah Perdana Menteri Tunisia, Mohammed Ghannouchi, menyatakan telah mengambil-alih kekuasaannya. Beberapa saat kemudian, Ben Ali dan keluarganya dilaporkan melarikan diri ke Arab Saudi dan meminta perlindungan di sana.

Ben Ali, yang merupakan presiden kedua Tunisia sejak negeri ini merdeka dari perancis tahun 1956, mulai berkuasa sejak tahun 1987 hingga sekarang. Pada pemilu 2009 lalu, Ben Ali berhasil mengumpulkan suara hingga 90%.

Kredibilitasnya sangat merosot setelah mengikuti jalan neoliberal, yang menyebabkan pemerintahannya tidak bisa mencegah kenaikan harga kebutuhan hidup, pengangguran, dan korupsi.

Gelombang Aksi Massa

Pada bulan Desember 2010 lalu, Tunisia dilanda protes massal terkait tingginya biaya kebutuhan hidup dan tidak adanya lapangan kerja. Seorang demonstran, Mohammed Bouazizi, membakar diri sebagai bentuk protes atas hilangannya lapangan pekerjaan.

Gerakan perlawanan ini banyak dipimpin oleh kaum penganggur, yang telah menjadi bagian paling penting dari perlawanan. Ketika Presiden Ben Ali mengirimkan tentara dan polisi untuk menindas perlawanan, kaum penganggur sama sekali tidak menyerah.

Korban berjatuhan di pihak rakyat, terutama penganggur dan serikat pekerja. Beberapa orang blogger juga ditahan setelah memposting tulisan-tulisan kritis dan seruan aksi di internet.

Pada tanggal 14 Januari, saat detik-detik pengunduran diri Ben Ali, jumlah massa protes di ibukota mencapai 300-000 hingga 400.000 ribu orang. Mereka meneriakkan “Ben Ali, keluar! pengadilan rakyat untuk presiden dan keluarganya”.

Media setempat juga melaporkan, bahwa sebagian demonstran menyerang semua aset dan perusahaan yang terkait dengan keluarga Ben Ali.

Pada hari Rabu kemarin, pihak otoritas Tunisia juga menangkap jubir Partai Komunis Pekerja Tunisia, Hamma Hammami, bersama dengan kuasa hukumnya, setelah keduanya menyerukan pembentukan pemerintahan persatuan nasional sementara untuk mengatur dan melaksanakan pemilu seacara jujur dan adil.

Partai Komunis Lebanon telah mengekspresikan dukungan kepada para pengunjuk rasa, dan menyatakan bahwa Ben Ali merupakan contoh rejim korup dan pro-neoliberal.

Perlawanan terus berlanjut

Meskipun sudah ada pemerintahan sementara yang dikepalai oleh Perdana Menteri Mohammed Ghannouchi, tetapi situasi di kota Tunis, ibukota Tunisia, masih bergolak.

Di tengah sebagian rakyat sedang merayakan kemenangan dan kebebasan, sebagian orang juga melakukan penjarahan di toko-toko. Di dua penjara di ibukota, media setempat juga melaporkan adanya kerusuhan yang menyebabkan terjadinya kebakaran dan tewasnya sejumlah narapidana.

Ghannouchi berjanji akan membuka perundingan dengan seluruh kekuatan oposisi, juga menjanjikan kebebasan bagi penggunaan internet.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut