Supersemar Dianggap Tonggak Kembalinya Kolonialisme Di Indonesia

Dengan sebuah spanduk putih dan sejumlah poster, ratusan massa Gerakan Rakyat untuk Kemerdekaan Nasional (Graknas) menggelar aksi massa di kantor DPRD Sulawesi Selatan.

Aksi ini bertepatan dengan peringatan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). Di masa orde baru, supersemar dianggap surat sakti yang melegitimasi pengambilan kekuasaan oleh Soeharto dari tangan Bung Karno. Namun, dimata puluhan organisasi yang tergabung dalam Graknas, supersemar “merupakan tonggak kembalinya kolonialisme di Indonesia.”

Tema pokok yang diangkat Graknas adalah “Supersemar = Kolonialisme, SBY-Boediono = Neoliberalisme”. Menurut salah seorang pimpinan aksi ini, Alwi Assegaf, sejak supersemar dan rejim soeharto berkuasa di Indonesia, praktek kolonialisme kembali bercokol di Indonesia seperti diundangkannya UU penanaman modal asing, ekspor murah bahan mentah, politik upah murah, dan menjadikan Indonesia sebagai pasar bagi produk negeri maju.

Pendapat itu turut dibenarkan oleh Nurjaya Ikhsan Juri, pengurus Federasi Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI), saat menyampaikan orasi politiknya. “Rejim orde baru menerapkan sistim politik upah murah, dan hal itu dilanjutkan oleh rejim SBY saat ini,” katanya.

Daeng Baji, yang juga dikenal sebagai pengurus Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) kota Makassar, menegaskan bahwa pemerintahan SBY telah gagal mensejahterakan Indonesia. Menurutnya, SBY sudah berkuasa hampir dua periode di Indonesia, tetapi tidak ada satupun perbaikan dan perubahan dalam kebijakan ekonomi, sosial-budaya, dan politik.

Di dalam aksi itu, selain mempersoalkan Supersemar sebagai tonggak sejarah kembalinya kolonialisme, massa juga menyampaikan penolakan terhada rencana pemerintahan SBY untuk menaikkan harga BBM. “Kenaikan harga BBM akan menyengsarakan rakyat banyak dan perekonomian nasional,” kata Arham Tawarrang, Ketua KPK PRD Makassar kepada Berdikari Online

Selain menggelar orasi, Graknas juga mempertunjukkan musik perjuangan dan pembacaan puisi, yang dibawakan langsung oleh seniman-seniman dari JAKER-Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut