Mengenang 13 Tahun Penculikan Aktivis Pro-Demokrasi

Hujan sedang mengguyur kota Surabaya tadi siang, 11 Maret 2010. Tidak terganggu dengan hujan itu, puluhan aktivis lintas organisasi menggelar aksi di depan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga.

Sebagian besar aktivis berasal dari IKOHI Jatim, BEM FISIP Unair, FAM Unair, dan sejumlah pentolan aktivis tahun 1998. Mereka sedang mengenang peristiwa penculikan aktivis pro-demokrasi 13 tahun yang lalu.

Pada saat itu, di surabaya, aparatus kekuasaan rejim Soeharto juga menculik sejumlah aktivis pro-demokrasi. Dua diantaranya belum pernah diketahui keberadaannya, yaitu Bimo Petrus dan Herman Hendrawan. Keduanya adalah aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID).

Seorang seniman asal kota Surabaya, Taufik Monyong, membuka aksi ini dengan sebuah tetrikal. Ia berusaha menggambarkan ketidaktegasan SBY dalam menuntaskan kasus penculikan aktivis ini.

Menurut para aktivis ini, pemerintahan SBY terbukti telah mengabaikan rekomendasi DPR mengenai kasus penghilangan paksa aktivis pada tahun 1998. “Hampir semua rekomendasi yang diputuskan DPR tak satupun yang dijalankan oleh presiden SBY,” ujar seorang aktivis.

Padahal, semasa berkampanya di ajang pilpres 2009, SBY menjadikan penuntasan penculikan aktivis sebagai salah satu janji politiknya. “SBY telah mengingkari janji politiknya sendiri.”

Para aktivis ini juga mendesak agar Rektor Unair menegaskan sikap dan memberikan apresiasi kepada para aktivis pro-demokrasi, yang telah menjadi martir saat melawan kekejian rejim orde baru. Mereka juga menuntut kepada rektor agar bersedia membangun monumen sebagai tugu peringatan atas perjuangan orang tersebut.

Di penghujung aksinya, para aktivis membacakan doa bapak kami versi Bimo Petrus.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut