SBY Jerit Kegemparan

Pemberitaan dua harian ternama di Australia, The Age dan The Sydney Morning Herald, tentang SBY yang menyalah-gunakan kekuasaannya, telah membuat jerit kegemparan di kalangan istana. Kalimat pertama yang terlontarkan dari mulut Presiden SBY saat membaca berita tersebut adalah Naudzubillah. Sedangkan istrinya, Ibu Ani Yudhoyono, dikabarkan meneteskan air mata karena pemberitaan itu.

Apa yang disampaikan oleh The Age dan The Sydney Morning Herald bukanlah hal yang baru, tetapi menjadi “heboh” karena dibicarakan oleh media di luar negeri dan menjadi konsumsi masyarakat internasional. Maklum, dunia internasional sudah terlanjur mempromosikan SBY dan rejimnya sebagai kekuasaan demokratis dan bersih.

Pemberitaan kedua koran itu, yang bersumber dari bocoran kawat-kawat diplomatik rahasia kedubes AS di Jakarta, telah menambah deretan panjang kesalahan pemerintahan ini, sekaligus pemblejetan terbuka atas kebobrokan SBY-Budiono yang berlindung dibalik politik pencitraan. Kita patut mengapresiasi keberanian Wikileaks atas sumbangsih informasi ini, meskipun memang masih harus dilakukan verifikasi fakta.

Kita juga patut mencurigai kepentingan pemerintah asing, khususnya Australia, terkait pemberitaan ini. Mengingat bahwa pemberitaan itu bersamaan dengan kunjungan Budiono ke Australia, maka boleh jadi pemberitaan itu merupakan taktik berdiplomasi untuk memuluskan kepentingan negeri-negeri imperialis di Indonesia.

Sudah menjadi kebiasaan rejim-rejim di barat untuk menerapkan standar ganda dalam berdiplomasi: satu sisi, mereka berangkulan dengan rejim-rejim korup dan anti-demokrasi dari dunia ketiga, tetapi pada sisi lain, juga mendorong atau berbicara mengenai kebusukan-kebusukan rejim tersebut.

Tetapi, lebih jauh dari apa yang sudah dibocorkan oleh Wikileaks ini, rakyat Indonesia sebetulnya sangat butuh informasi yang jelas dan terang mengenai hubungan rejim SBY-Budiono dengan perusahaan-perusahaan asing di Indonesia, sebarapa banyak kekayaan alam Indonesia yang dikeruk perusahaan asing, dan seberapa jauh peranan Kedubes AS dalam memuluskan kepentingan imperialistisnya di Indonesia.

Ini sangat penting untuk dibongkar oleh Wikileaks, sebab problem pokok rakyat Indonesia sekarang ini adalah imperialisme. Sejauh ini, karena data-data mengenai eksploitasi dan praktek imperialisme baru dipasok oleh gerakan rakyat dan media-media anti-imperialis, maka masih sedikit pula orang-orang Indonesia yang mempercayainya.

Sebagai media yang terang memihak kepada kepentingan nasional dan anti-imperialis, maka Berdikari Online mendukung setiap upaya membeberkan berbagai kejahatan imperialisme dan rejim bonekanya di Indonesia.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut