Sukses Bolivia Memberantas Buta Huruf

Mendidik itu adalah membebaskan. Tanpa pendidikan, apalagi jika rakyat masih buta-huruf, revolusi akan kehilangan elang pembebasannya.

Evo Morales, Presiden Bolivia dari keturunan penduduk asli itu, sangat paham hal tersebut. Karenanya, tak terlalu lama setelah menjabat sebagai Presiden di tahun 2006, Evo melancarkan kampanye besar-besaran untuk memberantas buta-huruf.

Morales sadar, tidak seorang pun memilih untuk menjadi bodoh. Menurutnya, kebodohan dan buta-huruf sangat terkait dengan kolonialisme yang hendak menaklukkan rakyat Bolivia selama-lamanya. “Mereka tidak ingin rakyat Bolivia, khususnya kaum pribumi, bisa melek huruf,” kata Evo Morales.

Hasilnya menakjubkan. Hanya dalam tiga tahun, pemerintahan Evo Morales berhasil membebaskan rakyatnya dari buta huruf yang telah membelenggu Bolivia selama dua abad lebih sejak memprokmirkan kemerdekaan di tahun 1825.

Kemudian, pada tanggal 17 Juli lalu, Badan PBB yang mengurusi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) telah menyatakan Bolivia sebagai kawasan bebas dari buta-aksara.

Bolivia, negeri termiskin kedua di Amerika Latin, menjadi negara Amerika Latin ketiga yang sukses memberantas buta-huruf. Sebelumnya adalah Kuba di tahun 1961 dan Venezuela di tahun 2005. Hal ini membuktikan bahwa faktor anggaran bukanlah yang terpokok dalam memberantas buta-huruf, melainkan tekad politik dari pemerintah dan rakyatnya.

“Saat ini kami pada tingkat 3,8% buta-huruf. Sebuah negara dinyatakan bebas dari buta-huruf kalau berada di bawah angka 4% (standar UNESCO),” kata Wakil Menteri Pendidikan Bolivia, Noel Aguirre, sebagaimana dikutip Telesur (18/7/2014).

Yang menarik, keberhasilan Bolivia memberantas buta-huruf dalam waktu singkat tidak terlepas dari keberhasilan mereka mengadopsi metode Kuba: “Yo sí puedo(Ya, Aku Bisa). Metode ini juga yang menjadi kunci sukses Venezuela dalam memberantas buta-huruf di tahun 2005.

Tingkat buta huruf di Bolivia sangat tinggi. Sebanyak 1,2 juta dari 9,2 juta penduduknya tidak bisa membaca dan menulis. Sebagian besar diantara mereka adalah penduduk asli: Quechua, Aymara, Chiquitano, dan Guarani. Kemudian, mayoritas yang buta-huruf ini adalah kaum perempuan.

Selain itu, sebagian besar mereka yang buta-huruf di Bolivia tinggal di daerah pedesaan dan kawasan kumuh di perkotaan. Memang, buta-huruf sangat terkait dengan kemiskinan. Di Bolivia, sebelum Evo Morales berkuasa, sebanyak 70% penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan.

Nah, di masa awal, dengan metode “Yo sí puedo”, Kuba memobilisasi kaum terpelajarnya untuk mengajar baca-tulis kepada 819,417 orang (sekitar 99% dari mereka yang buta-huruf) di 28.424 pusat pemberantasan buta-huruf di seluruh Kuba. Mereka dibantu oleh 130 orang penasehat dari Kuba dan 47 orang dari Venezuela.

Kontribusi Kuba dan Venezuela memang tidak sedikit. Kuba menyumbangkan 30.000 televisi dan video, 17 kaset manual untuk pengajar, dan 1,2 juta buku. Kuba dan Venezuela juga menyumbangkan 8.350 panel surya untuk menjamin pelaksanaan belajar-mengajar di daerah yang belum terjangkau oleh listrik.

Bolivia sendiri menyiapkan 46,457 orang fasilitator dan 4.180 orang pengawas. Selain itu, untuk tahap awal, Bolivia menganggarkan 36,7 juta USD untuk mendanai kegiatan ini.

Selain itu, para sukarelawan juga sangat aktif. Merekalah yang mendatangi kantong-kantong buta-huruf. Tak jarang, mereka harus berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer untuk menjangkau wilayah pedalaman dan pegunungan. Mereka juga harus bergulat melawan cuaca dingin di wilayah daratan tinggi Bolivia. Selain itu, di wilayah yang diperintah oleh oposisi, para sukarelawan ini seringkali mendapat tekanan dan intimidasi.

Seringkali kelas dibuka di ruang terbuka. Kadang-kadang juga di rumah-rumah penduduk. Waktu belajarnya juga tidak menentu; terkadang disesuaikan dengan waktu senggang para peserta yang notabene petani dan masyarakat adat. Sudah begitu, sebagian besar suku asli Bolivia hanya fasih berbicara dalam bahasa ibu mereka.

Yang menarik, program ini tidak berakhir hanya pada rakyat bisa melek huruf. Namun, setelah itu, pengajaran diperluas ke pembelajaran bahasa Spanyol, matematika, geografi, sejarah, dan ilmu alam. Para peserta juga dibekali keterampilan teknis. Bahkan, para peserta didorong untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang ke lebih tinggi. Di Konstitusi Bolivia, yang disahkan di tahun 2009, pendidikan dinyatakan hak rakyat dan gratis hingga ke level perguruan tinggi.

Itulah keberhasilan Bolivia. Jadi, kesimpulannya, selama ada tekad politik yang kuat, buta-huruf pasti bisa diberantas.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut