Sukarta Buyung: Usaha Meningkatkan Pangan dari Sumatera Selatan

Kedaulatan Pangan adalah mimpi terbesar bangsa ini bahkan bisa dikatakan sebagai alas untuk jalannya Indonesia berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian di lapangan kebudayaan.

Bung Karno, Presiden pertama Republik kita pada pidato peletakkan batu pertama Gedung Fakultas Pertanian Universitas Indonesia di Bogor pada 27 April 1952  pun menyatakan bahwa: soal pangan adalah soal hidup atau mati. Kata Bung Karno pada kesempatan itu:  “ Politik bebas, prijsstop, keamanan, masyarakat adil dan makmur, “mens sana in corpore sano”, — semua itu menjadi omong kosong belaka, selama kita kekurangan bahan makanan selama tekort kita ini makin lama makin meningkat selama kita hanya main cynisme saja dan senang cemooh-mencemooh, selama kita tidak bekeja keras, memeras keringat mati-matian menurut plan yang tepat dan radikal. Revolusi pembangunan harus kita adakan. Revolusi Besar di atas segala lapangan, Revolusi Besar dengan segera, tetapi paling segera di atas lapangan persediaan makanan rakyat.”

64 tahun sejak pencanangan daulat Pangan dengan berdirinya cikal bakal IPB (Institut Pertanian Bogor) itu, Republik Indonesia tetap belum mampu membangun sistem persediaan makanan rakyat yang tangguh secara berdikari. Sampai hari ini impor beras masih menjadi andalan untuk menyediakan pangan rakyat. Ironis sebagai negeri yang seringkali juga mengidentifikasi diri sebagai negeri agraris. Soal membangun kedaulatan pangan inilah yang juga menjadi kegelisahan Banteng Indonesia Wilayah Sumatera Selatan. Sebagai rangkaian Deklarasi Banteng Indonesia (Banindo) Sumatera Selatan, Rabu, 24 Februari 2016, Asrul Hendrawan, Ketua Banteng Indonesia Sumatera Selatan, mengajak Ketua Umum Banteng Indonesia, I Ketut Guna Artha dan AJ Susmana sebagai Sekretaris Jenderal Banteng Indonesia beserta seluruh jajaran pengurus daerah Banteng Indonesia Sumatera Selatan yang baru saja dilantik berkunjung ke desa Simpang Pelabuhan, Kecamatan Pamulutan, Kabupaten Ogan Hilir, tepatnya persis di samping jalur tol Sumatera yang sedang dibangun untuk melihat cara baru dalam menanam padi di Sumatera Selatan yang diharapkan bisa meningkatkan produksi beras secara nasional khususnya di Sumatera Selatan.

Cara baru menanam padi itu adalah sistem tanam padi dengan kanalisasi dan pompanisasi di lahan rawa lebak dan pasang surut. Sebagai catatan, lahan Rawa lebak adalah lahan rawa yang genangannya terjadi karena luapan air sungai dan atau air hujan di daerah cekungan di pedalaman.  Oleh sebab itu, genangan umumnya terjadi pada musim hujan dan menyusut atau hilang di musim kemarau sedangkan lahan pasang surut yaitu lahan rawa yang genangannya dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut atau sungai seperti Sungai Musi di Sumatera Selatan (lihat juga: http://wetlands.or.id/PDF/Flyers/Agri05.pdf)

Diiringi hujan deras, kami tiba di lokasi dan berbincang-bincang santai dengan Sukarta Buyung, praktisi produsen beras di bawah bendera Topi Koki yang memelopori sistem tanam padi dengan kanalisasi dan pompanisasi di lahan rawa lebak dan pasang surut di Sumatera Selatan. Sukarta Buyung adalah generasi kedua dari usaha perberasan keluarga Buyung sejak tahun 1960-an. Pernah kuliah hukum dan teknik tetapi tidak selesai, Sukarta Buyung pun meneruskan menggeluti usaha perberasan. Hadir juga dalam perbincangan, Sakim MD, mantan anggota DPRD Sumsel dari PDI Perjuangan periode lalu yang kini bersiap maju menjadi bakal calon walikota Palembang dari jalur independen pada tahun 2018 mendatang. Umur belum sampai setengah abad, Sukarta tampak tetap bersemangat menerima kami di bawah guyuran hujan yang tak mau berkompromi; deras hujan bagaikan musik cadas mengiringi perbincangan kami dan sepatu-sepatu kami mulai lengket karena lumpur tanah coklat, di bawah perlindungan payung-payung yang disediakan petani itu kami terus bersemangat berbincang-bincang dengan Sukarta Buyung soal sistem tanam padi dengan kanalisasi dan pompanisasi di lahan rawa lebak dan pasang surut.

“Justru di bawah hujan deras yang ekstrem seperti ini Anda bisa melihat kebenaran dari praktik bercocok tanam padi di lahan rawa lebak dan pasang surut dengan cara mengatur air menggunakan sistem kanalisasi dan pompanisasi yang tepat guna,” katanya, “prinsipnya adalah mengatur air  agar padi bisa ditanam dan tumbuh sampai dipanen. Kalau lahannya kelebihan air, maka air perlu dipompa keluar. Kalau tiada air, maka air dipompa ke dalam, ke lahan,” terang Sukarta. Menurut Sukarta, sistem seperti ini diciptakan untuk menyiasati gagal panen, kelebihan air karena hujan dan meluapnya Sungai Musi dan juga karena kekurangan air di musim kemarau. Sukarta juga berharap dengan sistem ini panen padi bisa dilakukan lebih dari sekali.

“Bagaimana Pak Sukarta bisa sampai pada sistem seperti ini?”

“Banyak lahan sawah di Sumatera Selatan berupa Rawa Lebak  dan Pasang surut. Kalau menggantungkan pada alam, selama ini petani di Sumsel hanya bisa tanam sekali. Itu pun bisa gagal. Kita ingin bagaimana bisa tanam dua kali setahun atau bisa 3 kali setahun.”

“Maksudnya bergantung pada alam?”

“Ya..karena kondisi iklim seperti belum musim hujan, air Sungai Musi belum surut atau lagi kemarau. Makanya kita siasati kondisi alam ini dengan sistem tata air. Jadi kita atur jalannya air baik di musim hujan, kemarau, atau pengaruh Sungai Musi. Yang jelas air untuk untuk tanam padi berlimpah yaitu dari Sungai Musi. Kita hanya perlu mengaturnya saja agar sesuai kebutuhan untuk tanam padi,” jelasnya.

Kami pun melihat bagaimana air yang meluap menggenangi sawah dikeluarkan ke kanal dengan pompa bertenaga listrik sehingga debit air untuk kebutuhan padi terjaga. Pompa itu dibuatnya sendiri dan cukup sederhana.

“Berapa biaya listrik. Apakah cukup…?”

“Paling banyak mungkin 500 ribu sebulan. Tapi kalau kita bisa panen bagus 7 sampai 8 ton per hektar, saya kira masih cukup menguntungkan. Apalagi kalau bisa panen, 2 atau 3 kali setahun,” jawab Sukarta yakin.

Sukarta pun menjelaskan bahwa model tanam padi dengan kanalisasi dan pompa air tepat guna ini  adalah penanaman perdana. Akan tetapi Sukarta yakin akan berhasil panen dan menguntungkan. Yang penting adalah dengan sistem ini, kita bisa tanam padi lebih dahulu tanpa harus menunggu alam mengijinkan. Ia pun menunjukkan lahan di seberang lahan yang kini sudah ditanami padi dengan air cukup, masih berupa lahan yang tak diolah, dipenuhi rumput tinggi (ilalang?) dan air menunggu kondisi alam nanti yang  memungkinkan untuk tanam padi. Sementara sistem ini, tidak perlu menunggu sebab kitalah yang mengatur pasokan air ke lahan sawah atau mengurangi sesuai kebutuhan. Sukarta mempelajari sistem kanalisasi dan pompanisasi ini di Vietnam dengan beberapa modifikasi yang disesuaikan dengan kondisi di Sumatera Selatan.

Dengan cara inilah Sukarta Buyung bersama petani berharap bisa meningkatkan produksi beras di wilayah Sumatera Selatan. Dengan begitu juga turut terlibat dalam kerja membangun kedaulatan pangan sebagaimana dicita-citakan Presiden Pertama Republik ini, Ir Sukarno, sebab soal pangan bukanlah urusan main-main; soal pangan adalah soal hidup atau matinya sebuah bangsa.

AJ Susmana

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
Tags: